AJI Medan Kecam Penjemputan Paksa Dua Jurnalis oleh Polda Sumut

Nasional

Editor Andrie P Putra Dibaca : 133

AJI Medan Kecam Penjemputan Paksa Dua Jurnalis oleh Polda Sumut
Ilustrasi. (antara foto)
MEDAN, SP – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan mengecam tindakan penjemputan paksa terhadap dua orang jurnalis media online sorotdaerah.com atas nama Jon Roi Tua Purba dan Lindung Silaban, terkait dugaan pemberitaan yang mencemarkan nama baik Kapolda Sumatera Utara, Selasa (6/3) oleh personel Subdit II/Cyber Crime Polda Sumut.

"Kami sangat keberatan dengan cara-cara menjemput paksa jurnalis. Ini sangat bertentangan dengan semangat kebebasan pers yang telah diatur dalam Pasal 8 Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang berbunyi dalam menjalankan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum," kata Ketua AJI Medan, Agoez Perdana, dalam siaran persnya, Rabu (7/3).

Selain melakukan tindakan penjemputan paksa, Polda Sumut juga diduga telah melakukan pemblokiran akses terhadap situs sorotdaerah.com.
Hal ini juga bertentangan dengan isi Pasal 4 ayat 2 Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang berbunyi, terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran, dengan ketentuan pidana seperti tersebut dalam Pasal 18 ayat 1 Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, bagi setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan tersebut, dapat diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.

"Selanjutnya, sesuai dengan isi nota kesepahaman antara Dewan Pers dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor: 2/DP/Mou/II/2017 dan Nomor: B/15/II/2017 tentang koordinasi dalam perlindungan kemerdekaan pers dan penegakan hukum terkait penyalahgunaan profesi wartawan, maka kami meminta Polda Sumut untuk menghentikan proses penyelidikan dan selanjutnya harus berkoordinasi kepada Dewan Pers terkait adanya kasus dugaan tindak pidana di bidang pers," sebut Agoez.

Berikut kronologis penjemputan paksa dua jurnalis tersebut:

Hari Selasa 6 Maret 2018 sekira pukul 03.30 WIB dinihari, pintu depan dan belakang rumah John Roi Tua Purba diketuk. Setelah dibuka beberapa orang mengaku sebagai petugas dari Polda Sumut dan Polres Pematangsiantar.

Jon Roi Tua Purba sempat menanyakan tentang surat tugas, lalu mereka menunjukkan surat tugas untuk menjemputnya guna diperiksa atas berita di sorotdaerah.com terkait dugaan penerimaan gratifikasi oleh Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpauw dari pengusaha Mujianto. Menurut keterangan Jon, di dalam surat tugas penjemputan tidak ada disebutkan namanya.

Saat hendak dibawa ke Polres Pematangsiantar, dia membawa berkas-berkas perizinan media online sorotdaerah.com. Hanya lima menit di Polres Pematangsiantar, dia kemudian dibawa ke Polda Sumut dan tiba pukul 05.30 WIN. Dia diperiksa sebagai pengelola media online sorotdaerah.com dari pukul 11.00 hingga 20.30 WIB. Selama diperiksa, barang-barang miliknya berupa dua unit handphone, dan satu unit laptop disita petugas.

Sedangkan Lindung Silaban, dijemput petugas dari Polda Sumut pada Selasa 6 Maret 2018 pukul 21.00 WIB. Lindung diperiksa sebagai Pemimpin Redaksi dan media online sorotdaerah.com. Menurut Lindung, berita tersebut merupakan berita rilis dari jurnalis  di Polda Sumut. Saat menerima rilis tersebut dia sempat menghubungi Muslim Muis yang menjadi narasumber di dalam berita dan dibenarkannya.

Pihaknya juga sudah melakukan konfirmasi ke Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting. Konfirmasi tersebut juga sudah ditulis dalam berita yang sama. Sedangkan Kapolda Sumut, Irjen Pol Paulus Waterpauw tidak merespon panggilan telepon maupun tanggapan saat dihubungi di nomor selulernya.

Selama diperiksa, sejak Selasa 6 Maret 2018 pukul 15.00 WIB, website sorotdaerah.com hingga saat ini, sudah tidak bisa lagi diakses, diduga telah dilakukan pemblokiran akses oleh Polda Sumut. Sejak dijemput paksa hingga kini, kedua jurnalis itu belum diperbolehkan pulang dan masih menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Ditreskrimsus Polda Sumut. (*)