Novel Chemistry Karya Akhmad Sekhu, Menghidupkan Kembali Sastra Pedesaan

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 242

Novel Chemistry Karya Akhmad Sekhu, Menghidupkan Kembali Sastra Pedesaan
Novel Chemistry Karya Akhmad Sekhu
Sastrawan Ahmad Tohari dengan novel trilogi "Ronggeng Dukuh Paruk"-nya dikenal sebagai salah satu penulis yang selalu mengangkat kisah kehidupan orang-orang desa serta alam perdesaan.

SP - Sebut saja novel "Ronggeng Dukuh Paruk", yang mengisahkan Srintil penari ronggeng di kawasan perdesaan di Banyumas, kemudian, "Senyum Karyamin" yang mengangkat penderitaan seorang guru bernama Karyamin, "Orang-orang Proyek" yang menceritakan kehidupan para buruh bangunan di sebuah proyek infrastruktur perdesaan, atau kisah kehidupan pembuat kubah di sebuah desa dalam novel "Kubah".

Lelaki kelahiran Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 69 tahun lalu itu sejak awal kiprahnya dalam dunia sastra hingga kini selalu konsisten dengan tema-tema perdesaan dan orang-orang desa, terutama di sekitaran tempat tinggalnya dalam menggeluti kehidupannya.

Di tengah maraknya novel-novel pop yang mengangkat tema kehidupan kaum urban di kota-kota besar di Tanah Air, bahkan luar negeri, sastrawan asal Tegal Jawa Tengah, Akhmad Sekhu berani meluncurkan novel perdesaan, mengangkat kisah kehidupan orang desa serta mengambil latar alam perdesaan.

Novel "Chemistry" mengisahkan lika-liku perjalanan cinta antara Aura dan Baskara, dua remaja di desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, Tegal, yang masyarakatnya masih memegang teguh hukum adat.

Aura, di usia 14 tahun mengalami menstruasi dan mulai ada ketertarikan pada lawan jenis dan lelaki pertama yang membuatnya jatuh cinta adalah Baskara, remaja 17 tahun.

Cinta dua remaja kampung tersebut ternyata harus melewati berbagai ujian dan rintangan, salah satunya saat tragedi di ladang tebu yang membawa keduanya harus berhadapan dengan hukum adat.

Fitnah yang dilancarkan Hendra, anak kepala desa setempat terhadap Aura dan Baskara bahwa kedua pasangan tersebut telah berbuat zina mengkibatkan keduanya mendapat hukuman cambuk dan pengasingan di gudang belakang rumah selama satu tahun, sesuai hukum adat desa setempat.

Hukuman cambuk dan pengasingan tersebut ternyata membawa dampak terhadap Aura hingga ke masa dewasanya, karena dia terkena gangguan jiwa berat Skizofrenia dan mengalami halusinasi gubuk ladang tebu.

Setelah kematian ayahnya, yang seorang pegawai pabrik gula di kampungnya, Aura memutuskan merantau ke Ibu Kota untuk menyambung hidup. Di Jakarta, dia berhasil menyelesaikan belajar di perguruan tinggi dan sukses berkarir di sebuah perusahaan periklanan.

Sekian lama berpisah dengan Baskara, Aura tak sengaja menemukan puisi berjudul "Pulang" karya Baskara, yang membuat perempuan itu kemudian bertekad pulang ke kampung halaman.

Kepulangan Aura ke kampungnya ternyata justru disambut Hendra yang masih memendam niat jahat terhadap gadis yang telah difitnahnya sekian tahun lalu. Untuk menyelamatkan diri akhirnya Aura kembali ke Ibu Kota yang tanpa sengaja justru mempertemukannya dengan Baskara.

Baskara tetap mencintai Aura, bahkan berniat ingin melamarnya, namun Emak Siti, orang tua Aura menginginkan anaknya menikah dengan Hardi, anak lelaki satu-satunya orang yang menampung serta menghidupi Aura dan ibunya selama ini di Jakarta.

Selain sudah mengenal Hardi dan keluarganya sejak di desa, orang tua Aura juga merasa berhutang budi. Sehingga dengan menjodohkan anaknya dengan Hardi bisa membalas kebaikan yang telah diterimanya.

Novel setebal 318 halaman dan terbagi dalam 12 bab itu berawal dari kenangan penulisnya pada waktu kecil yang hidup di kawasan ladang tebu di desanya. Oleh karena itu kehidupan para petani tebu, pegawai pabrik gula, kondisi perkebunan tebu tergambar sangat hidup pada novel ini.

Pengalaman Akhmad Sekhu sebagai wartawan dan penyair membuat novel Chemistry terasa filmis dalam mengantar kisah cinta Aura dan Baskara yang romantis tanpa terjebak dalam kisah picisan.

Aura yang menjadi tokoh utama dalam novel ini begitu kompleks, namun memberi ruang imajinasi untuk pembacanya agar melihat segala kehidupan itu dengan cara sederhana dan indah.

Meskipun ingin mengungkapkan kehidupan orang-orang perdesaan, namun novel ini tidak hendak mempertentangkan antara kota dan desa, sebaliknya ingin menggambarkan bahwa cinta dan kebenaran adalah sesuatu yang universal milik semua orang.

Mengutip pernyataan penulis, bahwa anak-anak kampung juga punya kisah cinta yang indah, istilahnya "romantisme ndeso".

Novel Chemistry yang terbit pada Maret 2018 ini merupakan novel kedua Akhmad Sekhu setelah "Jejak Gelisah" (2005) yang mengangkat fenomena "pulung gantung" atau gantung diri di masyarakat perdesaan di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Selain novel, puluhan cerpen, puisi, esai, antologi puisi, antologi cerpen telah dihasilkan oleh pria lulusan Universitas Widya Mataram Yogyakarta ini, antara lain Antologi Puisi dan Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit (2010), Antologi Seratus Puisi Bangkitlah Raga Negeriku! Bangkitlah Jiwa Bangsaku (2008), Buku Antologi Puisi Kemanusiaan dan Anti Kekerasan "Jejak Air Mata: Dari Sittwe ke Kuala Langsa" (2017).

Melalui novel "Chemistry" Akhmad Sekhu berhasil membawa kembali genre sastra perdesaan yang selama ini banyak diangkat oleh Ahmad Tohari. Mungkin kedekatan geografis maupun budaya antara Banyumas dan Tegal sebagai salah satu faktor itu.

Hanya saja "Chemistry" yang dipilih penulis sebagai judul novel ini sepertinya menjadi "slilit" (sisa makanan yang mengganjal di sela gigi), meskipun kecil tapi membuat tidak nyaman. Mengapa tidak menggunakan judul yang lebih mengindonesia atau yang lebih bernuasa "ndeso"? (antara/lis)