Presiden: Teroris Musuh Bersama

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1647

Presiden: Teroris Musuh Bersama
Grafis (Suara Pemred / Koko)
Presiden Indonesia, Joko Widodo
"Marilah kita bersama-sama menyadarkan kepada masyarakat, betapa yang namanya radikalisme, betapa yang namanya terorisme itu menjadi musuh kita bersama," 

Oesman Sapta, Ketua DPD RI

"Saatnya seluruh elemen bangsa, segenap warga negara bahu membahu bergotong royong melaksanakan Pancasila dan menolak berbagai bentuk upaya memecah belah bangsa,"

SURABAYA, SP
– Bom bunuh diri kembali meledak di Kota Surabaya, kali ini teroris menyasar Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya, Jawa Timur, Senin sekitar pukul 08.50 WIB. Dua orang di Polrestabes meninggal. 

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Senin (14/5), mengatakan, "Telah terjadi ledakan di tempat kejadian perkara (TKP) Polrestabes Surabaya pukul 08.50 WIB." 

Barung mengatakan pihak Polda Jatim dipimpin Wakapolda Jatim Brigjen Pol Widodo Eko Prihastopo akan mendatangi TKP tersebut. 

Pelaku bom di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya, Jawa Timur, pada Senin sekitar pukul 08.50 WIB, menggunakan kendaraan bermotor yang mencoba masuk ke gerbang markas.

Berdasarkan rekaman CCTV atau kamera pemantau yang tersebar di kalangan wartawan yang bertugas di wilayah itu, Senin, pelaku pemboman berusaha masuk ke Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya, namun dihadang petugas penjaga, kemudian meledak.

Titik lokasi ledakan masih dijaga ketat, dan dilarang masuk dalam radius 200 meter dengan penjagaan ketat aparat bersenjata serta dibatasi menggunakan garis polisi.

Sepuluh menit sebelumnya, mobil yang ditumpangi Gubernur Jatim, Soekarwo dan Pangdam V Brawijaya, Mayjend TNI Arif Rahman juga telah meninggalkan tempat kejadian perkara (TKP) di Markas Polrestabes Surabaya.

Pakde, panggilan akrab Soekarwo, masih belum mau berkomentar terkait peristiwa ledakan di wilayah itu, meski sejumlah awak media berusaha mendatangi mobil yang ditumpanginya.

Sebelumnya, bom mengguncang wilayah Sidoarjo. Akibat ledakan itu, tiga orang di Rusunawa meninggal. Kepala Biro penerangan Masyarakat (Karopenmas) Humas Mabes Polri Brigjen Mohammad Iqbal dalam keterangan di Jakarta, Minggu malam, mengakui adanya ledakan di salah satu rusunawa, Jalan Sepanjang, dekat Polsek Taman, Sidoarjo, Jawa Timur.

"Benar bahwa ada ledakan lagi di Sidoarjo. Infonya pukul 21.00 WIB dan sumber ledakan di salah satu unit rusunawa Jalan Sepanjang, dekat Polsek Taman," ujarnya.

Iqbal mengatakan diduga unit rusunawa itu didiami oleh terduga teroris atau keluarga pelaku teror bom sebelumnya di sejumlah gereja di Surabaya Minggu pagi.

Barung mengatakan, sudah total enam korban yang sudah diidentifikasi dan sudah diserahkan ke keluarga. "Lainnya masih dicocokkan data primer dan sekunder di DVI Pusat Polda di Bhayangkara untuk terus update," kata dia.

Korban Bertambah 

Salah satu anak korban ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Nathel, berumur delapan tahun meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Bedah Surabaya di Jalan Manyar Surabaya.

"Kami sudah berupaya maksimal menolong korban, tapi adik Nathel meninggal dunia kemarin (13/5) malam, sekitar pukul 20.00 WIB," kata Kepala Humas RSBS Novi.

Dia menjelaskan Nathel merupakan adik dari Vinsencius Evan umur 11 tahun, warga Barata Surabaya yang meninggal dunia di lokasi kejadian pada Minggu (13/5) siang pascaledakan bom di gereja SMTB.

Nathel sebelumnya sempat menjalani operasi di RS Bedah Surabaya, namun tidak bisa diselamatkan nyawanya hingga meninggal dunia.

Hingga saat ini, korban ledakan bom yang masih dirawat intensif di RSBH berjumlah lima orang dari sebelumnya delapan orang. Delapan orang tersebut, adalah Dia Linawati (69), Warsinto (64), Desmonda (20), Teddy (65), Wenny (47), Fransiska (60), Nathel (8), dan Sidiq (65).

"Sekarang tinggal lima orang, satu orang meninggal dan sisanya sudah kembali ke rumahnya," ungkapnya.

Dirut RS Bedah Surabaya Priyanto Suasono sebelumnya mengatakan ada empat korban menjalani operasi di RSBS, Minggu (13/5). 

Sebanyak empat korban yang menjalani operasi tersebut mengalami banyak luka akibat serpihan logam dan juga pendarahan di organ dalam, sedangkan empat korban lainnya dirawat intensif. "Jadi perlu ada pembersihan dari benda-benda asing dalam organ tubuhnya. Kami terus observasi," ucapnya.

Sementara dari Mapolda Jatim dilaporkan Jenazah satu orang korban yang meninggal dunia akibat serangan bom di Gereja Pantekosta Jalan Arjuno, Surabaya, diserahkan kepada kelurga pada Senin.

"Jam 10.30 (WIB) telah diserahkan korban Gereja Pantekosta atas nama Puji Astuti 60 tahun jemaat gereja. Alamat Surabaya, Jalan Sudoyogo 9," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, di Mapolda Jatim di Surabaya.

Barung mengatakan, sudah total enam korban yang sudah diidentifikasi dan sudah diserahkan ke keluarga. "Lainnya masih dicocokkan data primer dan sekunder di DVI Pusat Polda di Bhayangkara untuk terus 'update'," kata dia.

Sehari sebelumnya, Minggu (13/5) pagi, bom meledak di tiga gereja. Ledakan pertama sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya. Selang sekitar lima menit kemudian, bom kedua meledak di gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Tidak lama kemudian, bom meledak di gereja GKI di Jalan Diponegoro, Surabaya.

Adapun korban meninggal dalam teror di tiga gereja di Surabaya hingga saat ini adalah 14 orang. Sedangkan yang luka ada 43 orang. Sementara korban dalam teror di Wonocolo, Sidoarjo Minggu (13/5) malam ada tiga. "Total dua wilayah adalah 17 meninggal dan 45 luka," ucapnya.

Satu Keluarga

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian membeberkan pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo berasal dari satu keluarga dengan menggunakan sepeda motor.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkapkan. "Ada lima orang pelakunya. Mereka ini masih satu keluarga, masih kita identifikasi," ujar Tito.

Dalam aksinya, lima orang itu meledakkan diri dan empat di antaranya tewas.

"Awalnya mereka mau masuk gereja yang dijaga cukup ketat. Saat dihentikan petugas kemudian terjadi ledakan. Empat orang meninggal seketika, sedangkan seorang anaknya yang terlempar masih selamat," ungkapnya.

Tito menjelaskan saat ini anggota kepolisian mengalami luka, namun tidak meninggal dunia atas ledakan itu.

Kapolri mengemukakan kelompok yang melakukan aksi di Polrestabes Surabaya merupakan bagian dari kelompok yang sama yang melakukan aksi di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5), yakni kelompok sel Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Surabaya.

"Mengapa aksinya di Surabaya? Karena mereka menguasai daerah ini. Mengapa mereka melakukan aksi ini? Karena pimpinan mereka ditangkap. Instruksi juga dari ISIS sentral di Suriah," ucapnya.

Ia menilai, fenomena bom bunuh diri ini bukan hal yang baru, dan bom bunuh diri yang melibatkan wanita juga bukan hal yang pertama, namun aksi kali ini yang berhasil.
Dari tim Polri, terutama Polda Jatim yang dibantu tim Mabes Polri telah melakukan investigasi untuk mengidentifikasi pelaku.

"Kita sudah mengidentifikasi kelompoknya yaitu Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Sudah saya sampaikan kemungkinan motifnya terkait dengan serangan ini karena ada instruksi dari ISIS yang mendesak dan memerintahkan sel-sel lainnya," ujarnya.

Setelah terjadi aksi di tiga gereja, ada aksi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Setelah polisi mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) ternyata itu ledakan yang terjadi karena kecelakaan sendiri.

"Anton Ferdiantono (pelaku) itu teman dekat Dita Oeprianto pelaku bunuh diri jalan Arjuno. Mereka aktif berhubungan dan pernah berkunjung ke Lapas Tulungagung tahun 2016," ungkapnya.

Tito menjelaskan kelompok ini melakukan aksi setelah terjadi kerusuhan di Mako Brimob Depok beberapa waktu lalu. Selain itu aksi dilakukan karena pemimpinnya, Aman Abdurahman ditangkap polisi.

"Kerusuhan di mako tidak sekadar kerusuhan makanan yang tidak boleh masuk. Tapi karena ada upaya untuk melakukan pembalasan, kemudian untuk di Jatim sendiri itu kelompok JAD Cabang Surabaya," tuturnya.

Kelompok itu melakukan langkah-langkah secara tertutup untuk melakukan penyerangan dengan mempersiapkan bom.

Dirinya melihat bom yang dipakai pelaku bermacam-macam. Meski menggunakan bom pipa yang ditumpuk, ada juga yang menggunakan bensin seperti yang di gereja.

Kelompok JAD Surabaya ini mengebom dengan "tri aceton tri proxid". Bahan peledak ini sangat dikenal di kelompok ISIS yang didapat dengan bahan yang gampang diperolah dan diramu.

"Bahan tri aceton tri proxide yang dikenal di kelompok ISIS, Suriah, Irak dan disebut 'the mother of satan', karena daya ledaknya tinggi dan sangat sensitif," tuturnya.

Musuh Bersama 

Presiden Joko Widodo menyatakan, terorisme dan radikalisme adalah musuh bersama. "Marilah kita bersama-sama menyadarkan kepada masyarakat, betapa yang namanya radikalisme, betapa yang namanya terorisme itu menjadi musuh kita bersama," kata Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, masyarakat bersama aparat penegak hukum harus bersama-sama menjaga lingkungan agar radikalisme tidak mempengaruhi warga.

Presiden menceritakan saat dirinya menyaksikan tempat kejadian perkara sejumlah serangan bom bunuh diri di gereja di Kota Surabaya pada Minggu (13/5). Kejadian itu juga melibatkan anak-anak berusia 9 tahun, 12 tahun, 15 tahun dan 18 tahun.

Presiden pun mengajak para peserta di acara tersebut untuk mendoakan arwah para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Sementara, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia mendukung upaya kepolisian mengusut secara cepat dan tuntas kasus peledakan bom di Surabaya, Minggu (13/5), sekaligus mengungkap motif, pola, serta gerakan di balik peristiwa tersebut

Oesman Sapta juga mengingatkan kepada segenap eleman bangsa tentang pentingnya memegang teguh Pancasila dan mengimplementasikan secara utuh dalam kehidupan sehari-hari agar bisa mencegah dan melawan segala bentuk radikalisme dan terorisme.

"Saatnya seluruh elemen bangsa, segenap warga negara bahu membahu bergotong royong melaksanakan Pancasila dan menolak berbagai bentuk upaya memecah belah bangsa," ujarnya.

Oesman juga mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Oesman menyebut tindakan bom bunuh diri di Surabaya itu sebagai aksi pengecut.

"DPD RI mengutuk kekerasan yang dilakukan kaum teroris yang pengecut ini," katanya.

Kepada seluruh keluarga korban, DPD RI juga menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas musibah yang sedang dialami dan berharap keluarga korban bisa tabah serta sabar menghadapi musibah itu. (ant/cnn/lis)

Aparat Tingkatkan Pengawasan

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Nanang Purnomo, mengatakan Polda Kalbar meningkatkan kewaspadaan, terhadap seluruh jajarannya dengan memberlakukan Siaga 1.

“Tentunya dalam kewaspadaan ini, yang harusnya biasa saja sekarang kita tingkatkan menjadi siaga satu,” ujarnya.

Wujud dari siaga satu tersebut menurutnya dilakukan dengan cara melakukan patroli, khususnya untuk di lokasi gereja-gereja dengan memberlakukan pengamanan sesuai dengan prosedur (SOP), sehingga segala kemungkinan yang terjadi seperti ancaman terorisme dapat diantisipasi.

Untuk pengamanan gereja-gereja menurutnya sudah ditingkatkan yang harus sesuai dengan SOP pengamanan. Selain rumah-rumah ibadah, lokasi penjagaan-penjagaan kepolisian juga lakukan peningkatan pengamanan.

Untuk di Kalbar sendiri, pihaknya belum menemukan jaringan terorisme di wilayah Kalbar. “Jaringan-jaringan atau sel-sel yang sudah sementara berhenti atau mati ini, memang ada tapi tentunya kita tetap waspada, karena segala kemungkinan namanya teroris,” ujarnya lagi.

Dia membenarkan bahwa adanya napi terorisme sebanyak tiga orang yang ada di beberapa lapas saat ini. Diantara lapas tersebut yaitu pada lapas Singkawang, Kabupaten Ketapang dan Kota Pontianak.

Terkait bom di Surabaya yang menyasar rumah ibadah, dia mengimbau kepada masyarakat, agar dengan adanya kejadian di Surabaya berupa pegeboman di rumah ibadah tidak menjadikan ketakutan yang berlebihan bagi masyarakat, hingga menyebabkan tidak adanya aktivitas pada masyarakat.

“Salah satu daripada target teroris adalah membuat suasana orang takut. Oleh sebab itu, rasa takut ini kita lawan, namun tetap kita lakukan kewaspadaan,” ujarnya.
 
Di Putussibau, Kapuas Hulu, Kodim 1206 Putussibau dan Polres Kapuas Hulu, meningkatkan pengamanan di wilayah Bumi Uncak Kapuas. Dandim 1206 Putussibau, Letkol Inf Muhammad Ibnu Subroto menjelaskan, pasca bom bunuh diri di tiga gereja, ada langkah-langkah yang diambil sesuai perintah dari Pangdam XII Tanjungpura.

"Selalu mengikuti perkembangan situasi di wilayah masing-masing," terangnya. 

Selanjutnya, meningkatkan pengamanan di tempat-tempat ibadah, khususnya gereja-gereja dengan melaksanakan patroli dan penjagaan. "Selalu berkoordinasi dengan pihak kepolisian maupun pihak terkait," katanya.

Waka Polres Kapuas Hulu, Kompol R. Ricky menyatakan, pihaknya memberlakukan Siaga 1, sampai dengan pencabutan perintah. "Untuk di Polres dan Polsek sudah kita perintahkan, untuk melakukan patroli ke gereja-gereja," katanya.

Anggota di lapangan, saat ini terus memonitor kegiatan masyarakat yang sedang melaksanakan kegiatan ibadah di wilayahnya masing-masing.

"Kita akan terus berupaya menciptakan keamanan dan kenyamanan di Bumi Uncak Kapuas," katanya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Ketua Presedium Kahmi Ketapang, Ridwan mengutuk keras aksi teror bom yang terjadi di tiga gereja di wilayah Surabaya. Menurutnya siapa pun dalang dari aksi harus ditangkap.

“Aparat harus segera menangkap siapa pun yang terlibat,” pintanya.

Ia menilai, aksi tersebut tentu dilakukan oleh orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat, dan orang-orang membenci kedamaian dan persatuan. Terlebih dalam ajaran agama apa pun, tak ada yang mengajarkan untuk saling melukai apalagi membunuh.

"Tak hanya merusak citra umat Islam, tentu aksi tersebut merugikan bangsa Indonesia lantaran membuat para investor enggan berinvestasi ke Indonesia akibat situasi tidak aman," nilainya.

Untuk itu, ia berharap agar seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak terpancing dan saling membenci, karena aksi bom tersebut. Sehingga membuat antar anak bangsa saling terpecah, akibat perbuatan pelaku yang pastinya tidak memiliki agama lantaran tak ada agama yang mengajarkan hal tersebut. (rah/sap/teo/lis)

Lapas Perketat Pengamanan

Kepala Lapas Kelas II B Singkawang, Sambiyono mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih terus melakukan pengamanan khusus kepada Napi teroris yang dititipkan Densus 88 pada tahun 2017.  

"Kita masih terus melakukan pengamanan khusus kepada yang bersangkutan, dan kita juga melakukan kerja sama dengan kepolisian dan Brimob," kata Sambiyono, Senin (14/5). 

Disamping itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Imigrasi Singkawang untuk memperoleh data yang lebih lengkap mengenai siapa Napi teroris atas nama Nur Muhammet Abdullah alias Fariz Abdullah alias Ali. 

Dengan sudah mengetahui identitasnya, tentu pihaknya akan lebih waspada lagi. Bahkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya juga telah mensterilkan kamar Napi yang bersangkutan. 

"Artinya tidak ada samasekali alat komunikasi yang bisa dilakukan Napi tersebut untuk berhubungan dengan orang lain," tuturnya. 

Dan untuk pengunjung yang akan membesuk Napi teroris tersebut, pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan mulai dari KTP, Nomor HP, dimana dia tinggal, ke Lapas naik apa, setelah itu mau ke mana, akan terus di pantau. 

Sejauh ini, baru ada satu orang yang membesuk tahanan narapidana Teroris yang dititipkan Densus 88 di Lapas Kota Singkawang. 

"Sampai saat ini baru ada satu pembesuk, dia warga negara Indonesia berasal dari Muara Ungu Jambi," kata Sambiyono.  

Selain itu, tim Densus 88 juga ada datang untuk memantau perkembangan napi teroris tersebut. 

"Ada sekitar seminggu yang lalu. Karena pemantauan dari mereka wajib dilakukan secara berjenjang," tuturnya. 

Diapun membantah, jika keberadaan napi teroris yang di titipkan di Lapas Singkawang tidak ada kaitannya dengan aksi teror di Mako Brimob maupun  Surabaya. 

"Karena dia sudah kita jaga dengan sangat ketat," tegasnya. 

Untuk itu, dia mengimbau kepada masyarakat Singkawang untuk tidak khawatir dan takut. "Karena teroris bukan untuk ditakuti, tapi diwaspadai," pintanya. 

Jika memang ada hal-hal yang mencurigakan, katanya, segeralah lapor kepada pihak yang berwajib, guna mendeteksi dini gerakan radikalisme dan terorisme. 

Napi Teroris Di Lapas Ketapang Tak Pernanh Dijenguk

Di Ketapang, Kepala Lapas Kelas II B Ketapang, Subakdo mengaku pihaknya selalu berusaha memberikan pelayanan dan pengamanan terbaik, agar hal-hal seperti itu bisa terhindari di Lapas Ketapang.

"Kaitannya dengan kejadian di Mako Brimob tentu kita berharap kejadian tidak terjadi di Lapas Ketapang," katanya kepada Suara Pemred.

Ia melanjutkan, memang ada satu napi teroris pindahan dari Mako Brimob yang saat ini menjalani hukuman penjara di Lapas Ketapang. Tentu harapannya hal-hal tidak diinginkan tidak terjadi, terlebih dalam keseharian pengamanan dan pembinaan selalu dijalankan sebagaimana mestinya.

"Setiap petugas selalu kita ingatkan untuk bekerja secara profesional, kemudian koordinasi dengan pihak terkait dalam hal antisipasi terhadap hal-hal tidak diinginkan juga kita lakukan," jelasnya.

Ia menambahkan, memang untuk satu napi teroris tidak ada dilakukan pengawasan khusus, bahkan selama ini napi tersebut berkelauan baik dan membaur seperti napi-napi lainnya.

"Selama ini belum ada yang menjenguknya, tapi kesehariannya seperti biasa, bergaul, olahraga bersama napi lain. Untuk tinggalnya gabung di blok sama dengan napi lain hanya saja kamarnya sendiri," terangnya. (rud/teo/lis)

Dewan Kutuk Pelaku

Ketua Fraksi PDIP DPRD Provinsi Kalimantan Barat, M. Jimi mengutuk keras aksi teror bom. "Kami mengutuk keras tragedi bom di beberapa gereja dan Polrestabes di Surabaya," ujarnya, Senin (14/5).

Jimi menyampaikan rasa duka yang mendalam atas peristiwa pengeboman itu, dan meminta aparat kepolisian menumpas habis para pelaku teror, dan gerakan separatis di Indonesia. 

"Kami meminta kepada aparat Kepolisian khususnya Densus 88 anti teror untuk menumpas habis gerakan-gerakan separatis dan intoleran di Republik ini," katanya. 

Jimi juga meminta agar para Kades dan Lurah beserta seluruh aparat Pemerintah Desa berikut RW/RT, untuk lebih selektif terhadap penduduk yang masuk ke wilayah mereka. 

"Orang asing serta penduduk yang tidak jelas identitasnya yang masuk ke wilayah hukum masing-masing agar dilakukan razia," imbuhnya.  

Wakil Ketua DPRD Kalbar, Suriansyah minta semua pihak dalam menyikapi bom di Surabaya. Aksi teror adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus dilawan bersama sama-sama, serta tidak boleh ada seorang pun memberikan simpati kepada kelompok teroris ini. 

"Terorisme bertujuan menebar ketakutan dan menebar kebencian, agar kita sesama komponen umat beragama saling curiga, saling membenci, saling dendam," ujarnya.  

Terorisme tidak boleh dan tidak diizinkan atas nama apa pun, serta atas alasan apa pun. Apalagi atas alasan kedok keagamaan.  

"Orang yang melakukan teror adalah orang yang dangkal pemahamannya terhadap ideologinya sendiri, sehingga gampang disulut, untuk melampiaskan kebencian dan dendamnya kepada komponen umat yang lain,” kata Suriansyah.  

Anggota DPRD Kapuas Hulu, Fabianus Kasim mengatakan, FKUB harus sering turun ke masyarakat untuk melakukan silaturahmi dan memberikan pemahaman agama.
"Pasca kejadian pengeboman di Surabaya, FKUB harus turun ke masyarakat untuk menjelaskan, agar mereka tidak mudah terprovokasi," pintanya.

Kasim meyakini, kejadian tersebut tidak akan terjadi di Kapuas Hulu, mengingat budaya dan situasi di Surabaya berbeda dengan di Bumi Uncak Kapuas. 

"Di sini rasa saling menghargai kita sangat tinggi, dan itu harus kita pertahankan selamanya," katanya.

Sementara, Jimi juga menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat yang ada di Kalimantan Barat untuk tetap tenang dan waspada serta mempercayakan sepenuhnya kepada aparat yang berwenang untuk menangani kasus ini. 

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sanggau, Usman meminta masyarakat tak terpancing isu-isu yang dapat memecah-belah persatuan bangsa. “Kami selaku DPRD tetap mengingatkan masyarakat jangan sampai terpancing isu-isu yang tidak mendidik,” katanya.

Usman minta masyarakat menghidupkan kembali sistem keamanan keliling (Siskamling). Tetap awas dan waspada terutama terhadap para pendatang baru di lingkungannya masing-masing. “Mulai dari tingkat desa, dusun, sampai ke tingkat RT, harus melakukan cek dan ricek terutama terhadap orang-orang baru yang masuk di wilayahnya,” harapnya. 

Kepada pemerintah, ia meminta agar terorisme benar-benar ditangani serius, karena kata Usman, tindakan tersebut sudah mencabik-cabik NKRI. Mengingat Kalbar dan Kabupaten Sanggau sedang dalam rangka Pilkada, ia berharap kejadian ini tak dikait-kaitkan dengan Pilgub maupun Pilbup. 

“Masalah kepentingan politik. Ini jangan sampai terjadi,” tegasnya.

Usman juga berharap peran TNI dan Polri lebih ditingkatkan mengingat Kabupaten Sanggau merupakan daerah perbatasan. “menjaga ketertiban dan keamanan negara merupakan tanggungjawab seluruh elemen bangsa,” pungkasnya.

Sementara, Ketua DPRD Ketapang, Budi Mateus mengimbau aparat keamanan, khususnya di Ketapang bisa meningkatkan kewaspadaan, dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan.

"Aparat keamanan harus menyiapkan para petugas di lapangan," mintanya.

Hal penting lainnya, terkait penggunaan media sosial. Ia mengimbau agar masyarakat khususnya di Ketapang, tidak membuat statmen-statmen yang dapat memancing merugikan dan memecah belah antar sesama.

"Biarkan aparat mengambil tindakan tegas atas apa yang terjadi, jangan sampai kita memperkeruh suasana dengan statement yang tidak baik di media sosial, atau dengan opni yang malah merusak kerukunan bersama," tuturnya. (jul/nak/sap/lis)