Mengajari Siswa Menulis di Sekolah, Memperkenalkan Kolom Rosihan Anwar

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 2869

Mengajari Siswa Menulis di Sekolah, Memperkenalkan Kolom Rosihan Anwar
MENULIS - Anak-anak harus diajari menulis sejak dini, sehingga mereka punya kemampuan untuk berpikir kritis dan analitis. Salah satunya dengan metode penulisan kolom atau artikel opini. (rifqi)
Mengajar Bahasa Indonesia di sekolah, untuk jenjang menengah atas, bisa dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya metode penulisan kolom atau artikel opini yang lazim dimuat di rubrik opini media massa.

SP - Kendala selama ini, yang membuat para guru Bahasa Indonesia tak mau menerapkan pemelajaran tentang penulisan kolom pada siswa, adalah tiadanya pedoman yang jelas dalam kurikulum tentang hal itu.

Namun, guru-guru yang punya kecenderungan kreatif dan inovatif, tak menutup kemungkinan untuk menerapkan pengajaran penulisan kolom tersebut. Sedikitnya dua atau tiga kali dalam satu semester pada jam belajar Bahasa Indonesia.

Sebagai pedoman teknis, guru bisa mengambil contoh-contoh kolom yang ditulis para kolomnis terkemuka, baik yang sudah almarhum maupun yang masih aktif menulis di media massa hingga saat ini.

Dari kolom atau artikel opini yang ditulis oleh kolomnis terkemuka itulah, guru mengupas bersama siswa, mendiskusikan isi atau konten tulisan sekaligus teknik penulisannya.

Dalam khazanah format atau gaya penulisannya, jagat prosa nonfiksi di media massa Tanah Air kaya dengan aneka bentuk retorika. Nama-mana kolomnis yang dapat dijadikan rujukan pemelajaran penulisan kolom atau artikel opini di bangku sekolah menengah atas antara lain Rosihan Anwar, Mahbub Junaidi, Mohamad Sobary, Goenawan Mohamad dan Emha Ainun Nadjib.

Tentu guru perlu meneliti terlebih dulu isi, topik dan tingkat kerumitan konsep-konsep pemikiran yang dikandung dalam tulisan. Tulisan-tulisan yang mengupas masalah keseharian namun menggunakan referensi atau pisau analisis filsafat yang rumit sebaiknya dihindarkan dijadikan materi pemelajaran.

Di antara nama-nama penulis kolom di atas yang paling pas bagi contoh pemelajaran penulisan kolom adalah Rosihan Anwar. Kenapa harus Rosihan? Sebab hampir semua kolomnya ditulis dengan pendekatan atau teknik jurnalistik.

Rosihan, semasa hidupnya sebagai jurnalis, sangat konsisten dalam menulis kolom-kolomnya. Bahasanya mudah dimengerti, jelas, lugas dan berusaha mengikuti pola atau kaidah bahasa Indonesia standar.

Isi kupasan materi kolom-kolom pria yang lahir di Kubang, Nan Dua, Sumatera Barat pada 10 Mei 1922 itu juga tidak rumit tapi menarik dan penting bagi pengetahuan pembaca media massa pada umumnya. Sebagai jurnalis kawakan yang tak suka berumit-rumit dalam mengutarakan opini lewat tulisan, Rosihan layak dijadikan panutan sehingga guru-guru bahasa Indonesia bisa memperkenalkan gaya menulis Rosihan kepada para peserta didik.

Menyodorkan tulisan alumni School of Jurnalism, Columbia University itu sebagai bahan pembahasan dan contoh penulisan kolom di sekolah tidaklah berlebihan. Pertama, guru dapat menemukan tulisan-tulisan Rosihan di berbagai sumber media massa. Buku-buku yang berisi kumpulan tulisan pendiri dan pemimpin redaksi harian Pedoman itu cukup banyak.

Pemahaman dengan mempelajari kolom-kolom Rosihan, siswa akan mendapat pemahaman bahwa diksi-diksi yang dipilih adalah yang lazim didengar khalayak. Struktur kalimat yang digunakan cenderung kalimat tunggal. Jika berupa kalimat majemuk, selalu dalam bentuk kalimat majemuk yang tak terlampau kompleks.

Dalam menulis kolom, pemilik media yang mengalami pembredelan di zaman Soekarno dan Soeharto itu tak melakukan penghakiman lewat opini subjektif dengan pemakaian kata-kata sifat yang menohok tapi dengan mendedahkan fakta-fakta.

Di masa tuanya, penulis buku Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi itu sering menulis pengalamannya yang istimewa saat berinteraksi dengan tokoh-tokoh penting. Cukup menarik menyimak bagaimana Rosihan bercerita tentang Soekarno, Soeharto dan Gus Dur.

Yang menjadikan tulisan Rosihan kian bernilai adalah kejujuran penulisnya dalam mengakui keterbatasannya. Koresponden harian The Age, Australia, itu tak malu-malu berterus-terang bahwa dia paham soal-soal ekonomi yang rumit. Baginya, menulis artikel haruslah menarik minat pembaca. Lewat penuturan yang lugas dan simpel itulah muncul daya tarik tulisan Rosihan.

Selain kolom Rosihan, tulisan eseis yang juga penyair Goenawan Mohaman yang setiap pekan muncul di rubrik Catatan Pinggir Majalah Berita Mingguan Tempo layak dijadikan bahan pemelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Tentu guru harus selektif memilih tulisan Goenawan sebab sebagian besar topik yang dikupasnya cukup kompleks dan tak jarang mengusung konsep-konsep filsafat yang berat buat ukuran pemahaman siswa sekolah menengah atas.

Namun, tulisan-tulisan penggubah sejumlah naskah opera itu cukup bermakna dikaji dari segi sintaksis atau tata katanya. Goenawanlah satu dari sedikit kolomnis yang sangat peduli dalam membuat kalimat-kalimat dalam tulisannya secara variatif.

Dalam satu alinea, penulis buku kumpulan puisi Pariksit itu bisa menerapkan beragama variasi kalimat seperti bentuk kalimat tunggal-majemuk, aktif-pasif, positif-negatif, kalimat panjang-pendek.

Kalimat fragmen, yang berupa satu kata atau frasa, tak jarang muncul di tulisannya. Penggunaan berbagai gaya bahasa seperti majas, diksi metaforik juga melimpah dalam kolom-kolomnya.

Memperkenalkan gaya penulisan kolom dalam konteks pemelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu wujud mengenai praksis pendidikan yang kreatif dan inovatif tersebut. (SP)