Presiden: Fluktuasi Mata Uang Dialami Semua Negara

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 4042

Presiden: Fluktuasi Mata Uang Dialami Semua Negara
PENGKAJIAN RAMADAN - Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir menghadiri penutupan Pengkajian Ramadan yang digelar oleh PP Muhammadiyah di Kampus Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka) Ciracas, Jakarta Tim
JAKARTA, SP - Presiden Joko Widodo menyebut fluktuasi mata uang termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan fenomena global yang dialami oleh hampir semua negara di dunia.

"Ini fenomena global. Semua negara mengalami," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah menutup acara Pengkajian Ramadan yang digelar oleh PP Muhammadiyah di Kampus Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka) Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (29/5).

Ia mengatakan telah memerintahkan jajarannya khususnya Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan untuk menyiapkan langkah-langkah konkret dalam mengendalikan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Presiden juga mengapresiasi langkah antisipasi yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). "Kebijakan-kebijakan moneter yang telah diantisipasi dan dilakukan oleh BI saya kira sangat baik," katanya.

Pihaknya sendiri terus menyiapkan langkah-langkah yang memang menjadi wilayah atau dalam kewenangan pemerintah yang riil untuk turut serta membantu BI dalam mengendalikan rupiah.

Presiden kemudian bersyukur bahwa dalam beberapa waktu terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat berkat langkah-langkah yang telah diambil.

"Ya alhamdulillah, kemarin kita lihat sudah mulai di bawah Rp14 ribu (per dolar AS)," katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan mengatasi pelemahan rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

"Pemerintah bersama-sama Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas ekonomi dan menjaga mata uang rupiah kita," katanya di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu.

Ia mengatakan beberapa strategi sudah dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, salah satunya adalah dengan menaikkan suku bunga.

"Langkah ini diharapkan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sedangkan dari pemerintah akan menjaga disiplin APBN," katanya.

Menurut dia, seluruh pihak harus meminimalisasi gejolak agar seluruh ekonomi berjalan dengan risiko yang makin kecil.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih fluktuatif di level Rp14.100/dolar AS. Artinya, angka ini melebihi target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp13.400/dolar AS.

Ia mengatakan faktor utama penyebab melemahnya nilai tukar rupiah adalah kebijakan ekonomi pemerintah dan bank sentral AS terkait perbaikan data ketenagakerjaan dan inflasi di Amerika Serikat. (ant/lis)