Terduga Bom Pasuruan Sempat Serang Kapolsek

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1253

Terduga Bom Pasuruan Sempat Serang Kapolsek
Ilustrasi. (Net)
PASURUAN, SP - ABD, pria yang melarikan diri dari rumah kontrakan lokasi ledakan diduga bom di Desa Gempeng, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (5/7), sempat menyerang polisi yang mengejar. Terduga pelaku itu masih diburu usai terjadi tiga kali ledakan di rumah kontrakannya.

"Yang pria lari, sempat menyerang Kapolsek. Identitasnya diketahui, doakan saja cepat tertangkap," kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Machfud Arifin di Pasuruan, Jawa Timur. 

Rumah tersebut diketahui ditinggali satu keluarga. Berdasarkan identitas yang diketahui, ABD adalah kelahiran Aceh beralamat Pandeglang, Banten. Adapun istrinya, DR, kelahiran Sidoarjo. Pasangan suami istri tinggal bersama anaknya yang masih kecil sekira usia enam tahun. 

Saat ledakan pertama terjadi sekira pukul 11.30 WIB, warga tetangga ABD datang. 

"Dipikir ada elpiji meledak. Yang bersangkutan ditolong dalam kondisi berdarah. Kemudian, ada suara anak kecil perempuan menangis. Makin banyak masyarakat datang, yang bersangkutan malah masuk lagi dan bunyi lagi ledakan," ungkapnya. 

Saat Polisi dan warga hendak mengamankan, lanjut Machfud, ABD melakukan perlawanan. Dia, lalu kabur dengan menggunakan sepeda motor Honda Astrea. 

"Yang berdarah-darah dua orang, satu anak kecil sudah dibawa ke rumah sakit, ibunya sedang dilakukan pemeriksaan," ungkapnya.

Dari keterangan saksi bernama Hariono (52), saat terjadi ledakan kedua, saksi melihat seseorang keluar, pergi dari rumah kontrakan tersebut sambil membawa tas ransel. Tak lama, polisi lantas mengejar orang tersebut dan terjadi ledakan ketiga dari jalan perkampungan.

Inspektur Jenderal Polisi Machfud Arifin menyatakan, ledakan tergolong berdaya ledak rendah atau low explosive karena kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu besar. Polisi juga telah menjinakkan sisa-sisa bahan peledak yang ada di dalam rumah, dan memasang garis polisi di lokasi kejadian supaya tidak ada warga yang masuk.

"Kami juga menyita beberapa buku yang berisi tentang jihad. Namun demikian, kami masih belum menemukan masuk dalam jaringan yang mana karena proses penyelidikan masih terus dilakukan," tuturnya. (ant/bls)