Empat film Indonesia Lolos Final Pitching Docs By The Sea, Dokumenter Animasi Orangutan Curi Perhatian

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 705

Empat film Indonesia Lolos Final Pitching Docs By The Sea, Dokumenter Animasi Orangutan Curi Perhatian
FOTO BERSAMA – Sepuluh finalis yang lolos final pitching Docs By The Sea berfoto bersama juri usai pengumumam di Kuta, Bali, Kamis (9/8). (Ist)
Setelah melewati proses master class, IF/Then Shorts Story Development Lab akhirnya mengumumkan 10  proyek film dokumenter untuk diikutsertakan final pitching di Docs By The Sea pada Agustus 2018. Empat di antaranya berasal dari Indonesia, yaitu Diary of Cattle dari David Darmadi dan Lidia K. Afrilita, Home dari Arunaya Gondhowiardjo dan Firman Widyasmara, How Far I’ll Go dari Ucu Agustin dan Dian Raisha dan, The Other Half milik Wahyu Utami Wati dan Damar Ardi. 

SP - Salah satu film yang menarik para juri adalah "Home" besutan sineas muda asal Indonesia, Arunaya Gondhowiardjo. Terlebih film ini jadi satu-satunya film dokumenter animasi.

"Home" bercerita tentang anak orangutan bernama Himba yang diasuh oleh lembaga nirlaba Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Saat masuk ke pusat rehabilitasi BOSF di Kalimantan Tengah, Himba mengalami luka bakar.

"Karena pada dasarnya aku animator, jadi pengen bikin sesuatu menggunakan medium ku untuk menyebarkan cerita ini," kata Arunaya disela gelaran Docs By The Sea, di Kuta, Bali, Kamis (9/8).

Keprihatinan Naya, sapaan akrabnya, terhadap orangutan berangkat dari kegemarannya menonton video orangutan di YouTube. Namun, suatu ketika dia melihat video yang menunjukkan hewan tersebut berada di pusat rehabilitasi.

Dari situ, Naya mencari tahu lebih banyak. Dia menemukan fakta kerusakan hutan yang menjadi rumah bagi primata endemik Nusantara itu.

"Dengan kita melestarikan orangutan itu, kita juga melestarikan hutan di sekelilingnya, karena untuk melindunginya hanya bisa dengan melindungi hutan, sekalian kita juga melindungi hutan hujan Indonesia yang sekarang sudah sedikit," ujar Naya.

Film dokumenter animasi di Indonesia terbilang jarang. Ketertarikan Naya mengangkat kisah Himba dalam film dokumenter animasi menjadi variasi di tengah banyaknya film dokumenter animasi yang mengisahkan tentang perang.

"Kita mau membuat sesuatu yang berbeda untuk mengangkat animasi di Indonesia, mengangkat dokumenter di Indonesia juga," kata Naya.

Pengerjaan "Home" dimulai awal tahun. Saat ini film yang rencananya akan berdurasi 10 menit itu masih dalam masa produksi, dalam tahap pengumpulan data dari suster yang mengasuh Himba.

Proses wawancara dengan pengasuh Hima dilakukan melalui rekaman telepon yang saat ini telah dijadikan teaser berdurasi 1 menit 40 detik, yang diputar di Docs By The Sea. Naya mengaku mendapat respons positif atas karyanya itu saat melakukan pitching di forum film dokumenter cakupan Asia Tenggara dan Australia itu.

Dalam Docs By The Sea, Naya juga mengaku telah mendapat "pinangan" dari beberapa investor. Namun, masih "menimbang-nimbang" tawaran yang diajukan. Dalam beberapa bulan ke depan, Naya bersama tim berencana untuk mengunjungi Himba, sekaligus secara langsung menyaksikan proses Himba kembali ke hutan.

Empat film Indonesia masuk setelah juri menilai 17 project film dari berbagi negara di kawasan Asia Tenggara. Masing-masing finalis akan kembali berkompetisi memperebutkan dukungan berupa uang tunai dan distribusi internasional. Seleksi akhir akan melibatkan investor, praktisi dokumenter, lembaga funding internasional hingga stasiun televisi.

Selain Indonesia, finalis lainnya berasal dari Filipina, Thailand dan Malaysia. Di akhir program IF/then, 4 film dari Asia Tenggara akan memenangkan hibah dana sebesar masing-masing Rp100 juta. Selain 4 pemenang hibah dana, 1 film akan memenangkan hibah produksi dari Al Jazeera yang juga berarti kesempatan ditayangkan di channel Al Jazeera. (antara/balasa)