Jokowi Pilih Ma'aruf jadi Cawapres

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1055

Jokowi Pilih Ma'aruf jadi Cawapres
BERGANDENGAN – Joko Widodo (Jokowi) dan para ketua partai koalisi Indonesia Kerja saling bergandengan usai pengumuman Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi dalam Pilpres 2019 di Restoran Plataran Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8) malam. (Ist
Ketua GNFP Ulama, Yusuf Martak 
"Saya dengar Jokowi saja sudah pilih ulama. Jokowi cerdas masa kita enggak."

Presiden RI, Joko Widodo
"Menurut saya kami saling melengkapi, nasionalis-religius."

JAKARTA, SP - Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi memilih Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden yang bakal mendampinginya pada Pilpres 2019. 

Jokowi mengatakan keputusan ini diambil setelah mendengar masukan dari berbagai elemen, termasuk para ulama, ketua umum partai, seluruh pengurus partai, relawan, dan aspirasi masyarakat luas.

"Saya memutuskan dan telah mendapat persetujuan dari parpol koalisi, yaitu Koalisi Indonesia Kerja, bahwa yang akan dampingi saya sebagai calon wakil presiden 2019-2024 adalah profesor doktor KH Ma'ruf Amin," kata Jokowi, di Plataran Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8) malam. 

Kenapa Ma'ruf? Menurut Jokowi alasannya adalah karena pria kelahiran 11 Maret 1943 adalah sosok yang lengkap. 

"Ma'ruf Amin adalah sosok tokoh agama yang bijaksana. Beliau pernah duduk di legislatif sebagai anggota DPRD, DPR, MPR, Watimpres, Rais Aam PBNU, dan Ketua MUI," kata Jokowi. 

Jokowi berharap dia bisa melanjutkan pembangunan pada periode kedua. Katanya, demi meneruskan mimpi besar berupa pembangunan yang merata, dan berkeadilan di seluruh pelosok nusantara.

"Menurut saya kami saling melengkapi, nasionalis-religius," ujarnya.

Jokowi mengatakan keputusan memilih Ma'ruf Amin sebagai Cawapres telah mendapat persetujuan 9 partai politik pendukungnya di Pilpres 2019. Pemilihan Ma'ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi telah diketahui sebelum konferensi pers dilakukan. Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Kadir Karding yang pertama mengatakan bahwa Jokowi memilih Rais Aam PBNU itu sebagai pendampingnya di Pilpres.

"Besok pagi jam 09.00 WIB kami akan mendaftarkan ke KPU, berangkat dari Gedung Joeang 45 menuju KPU beserta para Ketum, Sekjen dan seluruh relawan," kata Jokowi.

Presiden ketujuh itu juga menyebut bahwa targetnya mendapat suara dari seluruh rakyat Indonesia. "Targetnya seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote," sebutnya.

Dipilih jadi Cawapres, KH Ma'ruf Amin mengatakan, jika nantinya terpilih, bakal membantu Jokowi dalam beberapa aspek. 

"Akan membantu dalam beberapa aspek. Pertama dalam aspek keutuhan bangsa. Kalau tidak bersatu tidak utuh tidak mungkin membangun," kata Ma'ruf di Kantor PBNU, Jalan Kramat, Jakarta Pusat, Kamis (9/8) malam. 

Dia juga menyinggung soal negara yang punya sumber daya melimpah, namun tidak bisa memanfaatkan karena perang. Menurutnya, keamanan dan kedamaian harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan.

"Negara ini harus aman dan damai, negara harus aman. Seperti beberapa negara di luar negeri misalnya, dia itu kaya emas, paling banyak, minyak paling banyak, tapi nggak bisa memanfaatkan karena saling perang, maka aman dan damai harus bisa menjadi maslahah," ujarnya. 

Ma'ruf juga mengatakan pilihan Jokowi terhadap dirinya sebagai bentuk penghargaan kepada ulama. Dia juga menilainya pilihan Jokowi sebagai penghargaan terhadap Nahdlatul Ulama (NU).

"Artinya Pak Jokowi menghargai ulama, menghargai NU. Ini luar biasa. Beliau menghargai kita semua," ujar Ma'ruf.

Usai pengumuman, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy menghampiri wartawan. Dia mengaku diminta Jokowi menyampaikan sejumlah hal. Romy mengatakan, Ma`ruf Amin dipilih sebagai calon wakil presiden oleh Presiden Joko Widodo salah satunya karena pertimbangan elektabilitas.

"Kita memutuskan ini setelah mendengarkan 2.500 `opinion leaders` yang ada di tingkat pusat dan daerah yang terus kita dengar secara seksama," kata Romahurmuziy.

Menurut dia, pertimbangan pemilihan Ma`ruf sebagai Cawapres pendamping Jokowi dalam Pilpres 2019 juga mengacu kepada penerimaan sejumlah pihak yang beranekaragam. Romy menjelaskan hal itu juga dilakukan demi kenyamanan kontestasi pada Pilpres 2019, untuk menghindari nuansa kebencian yang didasarkan kepada unsur SARA.

"Secara politik, beliau juga mewarnai seluruh spektrum politik yang ada di koalisi, karena tentu spektrum politik itu juga ada spektrum politik nasionalis, ada spektrum politik religius di mana Kiai Ma`ruf Amin merupakan titik temu itu," ujar Romy.

Romy menyebut Ma’ruf adalah seseorang yang sangat paham dengan ekonomi. “Beliau juga Ketua Dewan Pengawas Ekonomi Syariah Nasional. Dengan demikian pengetahuan beliau dinilai cukup paripurna," tambah Romy.

Mahfud Dukung

Nama Ma'ruf muncul di saat-saat akhir, meski sebelumnya nama Mahfud MD lebih sering muncul ke permukaan. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu, bahkan dikabarkan sudah berada di lokasi pengumuman Cawapres oleh Jokowi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sementara Ma'ruf Amin sendiri tak terlihat di lokasi deklarasi.

Namun demikian, Mahfud mendukung apa yang jadi keputusan Jokowi.

"Menurut saya biasa dalam politik. Itu tidak apa-apa, kita harus lebih utamakan keselamatan negara ini daripada sekadar nama Mahfud atau Ma'ruf Amin," kata Mahfud Md kepada wartawan, Kamis (9/8) 

Mahfud menegaskan, keputusan Jokowi ini tidak melawan aturan. Dia mendukung keputusan Jokowi ini. 

"Kita terima ini sebagai keputusan. Proses sudah konstitusional. Kita dukung negara ini harus terus berjalan," ujarnya.

Pertemuan Rahasia

Sehari sebelum pengumuman, Ma'ruf sempat bertemu diam-diam dengan Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan tersebut diketahui berlangsung sekitar satu jam dan tertutup. Agenda ini tak masuk jadwal resmi Presiden Jokowi.

Saat itu Ma'ruf datang tanpa melewati pintu istana seperti biasa. Kali ini ia masuk lewat pintu Wisma Negara. Pertemuan diam-diam itu memunculkan isu, Ma'ruf makin kuat jadi Cawapres Jokowi. Padahal, nama dia sempat tenggelam dari bursa Cawapres Jokowi. 

Sore harinya, Ma'ruf menggelar rapat dengan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Dia tak banyak bicara. Saat ditanya nama Mahfud MD yang mengemuka jadi Cawapres, dia hanya mengatakan, "Wabillahi taufiq wal hidayah".

Rais Aam PBNU itu pun tak memberikan maksud selanjutnya dari pelontaran jawaban tersebut. Ditanya lebih lanjut terkait dukungan pada calon presiden dan calon wakil presiden untuk Pilpres 2019, Ma'ruf menjawab, "Saya ikut PBNU saja lah."
 
Ma'ruf Amin saat ini menjabat sejumlah jabatan. Selain Ketum MUI, Ma'ruf juga menjabat sebagai Komisaris Bank Muamalat, Ketua Dewan Syariah Nasional, Wakil Ketua BPIP, Rais Aam PBNU, dan Anggota Bazis DKI Jakarta.

Selain itu Ma'ruf juga merupakan cicit dari Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang pernah menjadi Imam Masjidil haram. Dalam catatan Wikipedia, Syekh Nawawi adalah ulama yang hidup tahun 1730 hingga 1813. Para ulama Indonesia menyebut Syekh Nawawi sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia. Ratusan buku pernah dia tulis semasa hidup.

Jokowi Cerdas

Ketua GNFP Ulama, Yusuf Martak tetap meminta agar Prabowo Subianto memilih ulama untuk menjadi pendampingnya di Pilpres 2019 mendatang. Yusuf bahkan membandingkan pilihan Joko Widodo yang resmi mengangkat Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya di Pilpres 2019 nanti. 

"Saya dengar Jokowi saja sudah pilih ulama. Jokowi cerdas masa kita enggak," kata Yusuf saat menyampaikan keterangannya di Kertanegara, Jakarta. 

Yusuf menyebut pihaknya telah memberikan dua nama baru untuk dipilih Prabowo sebagai Cawapres.

"Saya kirim nama Arifin Ilham dan Aa Gym. Ini minta dibicarakan lagi," kata dia

"Masih bisa kalau tidak daftar besok kan akan diperpanjang waktunya di KPU untuk masa pendaftaran," tambahnya.  

Dia menyebut saat ini diperlukan ulama untuk mendampingi pemimpin bangsa agar terjadi keseimbangan. Jangan sampai, kata dia, wakil presiden hanya menjadi pendamping saja.

"Sudah saatnya ulama ikut memimpin jangan wakil presiden hanya jadi backup saja," kata dia.

Yusuf pun menegaskan jika GNPF ulama tetap tidak setuju jika Sandiaga Uno mendampingi Prabowo.

"Kita tetap bersikukuh dengan hasil ijtimak ulama," katanya.

Prabowo-Sandi

Partai Gerindra menyebut duet Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sudah disepakati mitra koalisi. Deklarasi segera dilakukan. 

"Fixed, fixed. Kita ketemu politik semua ya," ujar Ketua DPP Gerindra Habiburokhman. 

Habiburokhman berada di Kertanegara untuk menghadiri deklarasi. Jika Tuhan menghendaki dan rakyat memberi kepercayaan, Habiburokhman menyebut duet Prabowo-Sandi akan menang. 

"Insyaallah menang," ucap Habiburokhman. 

Habiburokhman memberi jawaban singkat saat disinggung soal manuver Joko Widodo memilih KH Ma'ruf Amin sebagai Cawapres. Tetap saja keyakinan Habiburokhman bahwa Prabowo-Sandi menang tak pupus. 

"Siapa pun pasangan calon lawannya, insyaallah Pak Prabowo akan dipilih rakyat," tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Drajad Wibowo dan Wakil Ketua Umum Hanafi Rais menyambangi rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di sela-sela kegiatan rapat kerja nasional (Rakernas) PAN yang tengah berlangsung.

Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN, Drajad Wibowo mengatakan kedatangannya ke rumah mantan Danjen Kopassus tersebut, untuk membawa pesan hasil sementara Rakernas yang resmi memberikan tiket pencapresan kepada Prabowo.

"Rakernas, PAN koalisi dengan Gerindra Capresnya Prabowo, Cawapresnya salah satu yang diusulkan dari PAN yaitu Bang Zul (Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan), nanti kemudian kita bahas," kata Drajad.
 
Drajad juga mengatakan PAN tengah mempertimbangkan mengenai usulan nama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno untuk menjadi Cawapres Prabowo. Salah satu yang dipertimbangkan dari sosok Sandiaga adalah karena berasal dari Gerindra.

"Kalau Gerindra-Gerindra mungkin nanti akan susah begitu ya masyarakat. Jadi kita lihat apakah nanti Mas Sandi akan mengundurkan diri dari Gerindra atau masuk PAN atau bagaimana kita tunggu lah," katanya.

Drajad mengklaim opsi Sandiaga mengundurkan diri dari Gerindra dan kemudian bergabung ke PAN juga terbuka. Saat ini, Sandiaga tercatat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. 

“Ada kemungkinan (Sandiaga bergabung ke PAN)," kata Drajad.

Selain itu menurut Drajad, opsi utama PAN adalah menyandingkan Prabowo dengan Zulkifli Hasan. Sedangkan opsi kedua dan ketiga terdapat nama Sandi dan Ustaz Abdul Somad. Hingga berita ini diturunkan, deklarasi dari koalisi Gerindra-PAN masih belum dilakukan. (ant/cnn/det/bls)

OSO: Mungkin Ada Tugas Khusus untuk Mahfud

Keputusan mengejutkan diambil Joko Widodo dengan memilih Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden (cawapres). Padahal sebelumnya ada nama Mahfud Md yang disebut-sebut sebagai pendamping Jokowi untuk Pilpres 2019.

Jokowi pun tidak memberi penjelasan tentang tidak dipilihnya Mahfud. Namun rupanya ada kemungkinan tugas lain bagi Mahfud, apa itu?

"Yang pasti Pak Mahfud juga kan orang baik ya. Jadi mungkin saja dia ada tugas khusus," kata Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO) usai deklaras, Kamis (9/8). 

"Mahfud bakal masuk ke tim sukses?" tanya wartawan.

"Nah itu saya nggak tahu," jawab OSO.

OSO mengatakan tidak ada perdebatan di antara partai-partai politik (parpol) yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja. Semua ketua umum parpol koalisi itu disebut OSO menandatangani deklarasi Jokowi-Ma'ruf. 

"Nggak ada, nggak ada. Orang buktinya semuanya neken kok. Semua ketua umum itu neken. Nggak ada, nggak ada perdebatan. Jangankan berdebat, nanya juga nggak ada," ucap OSO.

Yang pasti menurut OSO, Jumat (10/8), Jokowi bersama Ma'ruf dan koalisinya akan bergerak ke KPU dalam rangka pendaftaran capres-cawapres untuk Pemilu 2019.

"Besok jam 8 (pagi) ya di Gedung Joang, dari situ kita berangkat," kata OSO.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah yang juga kader PDI-Perjuangan, Ganjar Pranowo menilai Mahfud Md merupakan sosok yang langka. Dia pun menanggapi tidak terpilihnya Mahfud sebagai cawapres Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

"Itu (Mahfud MD) barang langka juga kan itu, eh orang maksudnya," kata Ganjar.

Ganjar yang mengaku mengenal sangat dekat sosok Mahfud Md meyakini, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu akan tetap memahami langkah yang diambil Jokowi. Sebab, menurut Ganjar, sosok Mahfud Md adalah sosok yang sangat rasionalis. 

"Kalau beliau rasional banget, sangat rasional. Saya sangat dekat. Saya kira beliau sangat bisa memahami situasi saat ini," terangnya.

Meski tidak dipilih Jokowi sebagai cawapresnya, namun Ganjar meyakini Mahfud Md akan mendapatkan posisi yang strategis di bawah kepemimpinan Jokowi.

"Banyak posisi yang pas untuk beliau. Saya kira untuk kenegaraan banyak sisi yang pas, fungsi-fungsi untuk membantu presiden juga oke," pungkas Ganjar. (det/bls)