BNN Temukan Trend Remaja Mabuk Rebusan Pembalut Wanita

Nasional

Editor Angga Haksoro Dibaca : 282

BNN Temukan Trend Remaja Mabuk Rebusan Pembalut Wanita
Semarang, SP - Dinas Kesehatan Kota Semarang menyelidiki kasus remaja tanggung di sejumlah tempat di Jawa Tengah yang mabuk minum rebusan air pembalut wanita.  

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Semarang, Sarwoko Oetomo menyampaikan, penyelidikan ini untuk mengetahui dampak dari minum air rebusan pembalut bagi kesehatan.  

“Dinkes sesuai kapasitasnya akan mencari dampak negatif bagi kesehatan. Karena yang mengkonsumsi adalah anak-anak dan remaja usia 13-16 tahun,” kata Sarwoko, Rabu (7/11).  

Sarwoko menilai, aksi mabuk menggunakan air rebusan pembalut itu adalah tindakan menyimpang. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana para remaja bisa melakukan itu. Ini kebiasaan yang dinilai di luar batas kewajaran,” ujarnya.  

Terkait kasus ini, Dinkes Kota Semarang akan melakukan tindakan pencegahan sekaligus sosialiasi kepada anak-anak muda agar tidak melakukan hal serupa. “Perlu tindakan pencegahan. Nanti setelah ada hasil penelitian dampak dari kebiasaan ini, kami akan sampaikan ke media.”  

Sebelumnya, Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotikan Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah, AKBP Suprinarto mengatakan, telah ditemukan kebiasaan menyimpang anak dan remaja kecanduan air rebusan pembalut wanita di Jateng.   Mereka mabuk dengan cara merebus pembalut wanita untuk diambil dari airnya lalu diminum. Air rebusan itu memiliki efek mabuk seperti mengkonsumsi narkotika jenis sabu.  

“Dulu mereka mengorek-orek tempat sampah untuk mencari pembalut bekas di tempat-tempat sampah lalu direbus. Tapi kini sudah menggunakan pembalut baru,” kata AKBP Suprinarto.  

Kandungan gel dari pembalut tersebut dinilai yang membuat air rebusan menyebabkan efek mabuk. Kebiasaan menyimpang itu diduga karena faktor keterbatasan ekonomi, lantaran tak mampu membeli narkotika jenis sabu.

“Ditemukan tersebar di kawasan pinggiran Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, dan di Semarang bagian Timur. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan remaja tersebut memilih menenggak air rebusan pembalut,” ujar AKBP Suprinarto. (*)