Jumat, 06 Desember 2019


Anak Bupati Majalengka Terancam 20 Tahun Penjara

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 110
Anak Bupati Majalengka Terancam 20 Tahun Penjara

DITAHAN - Irfan Nur Alam, anak Bupati Majalengka Karna Sobah ditahan Kapolres Majalengka

MAJALENGKA, SP - Polres Majalengka menahan Irfan Nur Alam, anak Bupati Majalengka Karna Sobahi. Kasubag Ekbang Pemkab Majalengka itu menjadi tersangka kasus penembakan terhadap Panji Pamungkasandi. 

Kapolres Majalengka AKBP Mariyono menyebutkan penahanan Irfan dilakukan pada pukul 00.10 WIB, Sabtu (16/11). Irfan dicecar 26 pertanyaan oleh penyidik. Dari hasil pemeriksaan itu, lanjut dia, Irfan terbukti melanggar hukum.

"Setelah pemeriksaan, kita dalami dan kumpulkan alat buktinya. Secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 170 juncto undang-undang darurat pasal 1 ayat 1 tahun 1951 dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara," kata Mariyono kepada awak media saat pers rilis di Mapolres Majalengka Jalan KH Abdul Halim Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (16/11).

Sebelum menahan Irfan, dikatakan Mariyono, pihaknya telah memeriksa sebanyak 15 saksi, dan seorang saksi ahli dalam kasus tersebut. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, seperti buku pistol berkaliber 9 milimeter, buku kepemilikan peluru, kartu izin penggunaan senjata dari Mabes Polri, dan hasil visum korban.

"Saat ini yang bersangkutan kita tahan di rutan Mapolres Majalengka selama 20 hari sesuai surat perintan penahanan. Ini sesuai aturah hukum terkait penahanan pertama," kata Mariyono.

Mariyono mengatakan tersangka telah menembakkan tiga butir amunisi terhadap seorang kontraktor bernama Panji P pada Minggu (10/11) sekitar pukul 23.30 WIB di depan ruko yang berada di Jalan Cigasong-Jatiwangi, Majalengka.

"Seluruh amunisi yang sudah ditembakkan ada tiga butir," katanya.

Menurutnya semua amunisi yang terdapat di dalam senjata api tersangka berjumlah sembilan butir, di mana enam masih utuh dan tiga sudah ditembakkan.

Sebelumnya, salah seorang penasehat hukum Irfan, Kristiwanto membenarkan adanya penahanan tersebut. Kris mengatakan pihaknya menghargai proses hukum yang berjalan. Sebab, lanjut dia, penahanan terhadap Irfan merupakan hak preogratif penyidik.

"Itu hak preogratif penyidik, subyektivitas penyidik. Kita tidak bisa mengelak," kata Kris kepada awak media, Sabtu (16/11).

Penasehat hukum lainnya, Diarson Lubis buka suara soal sosok Panji Pamungkasandi (36), korban terluka akibat penembakan. Ia menuding Panji sebagai calo proyek dan diduga anak bos salah satu BUMN. 

Diarson Lubis pun menepis soal sosok Panji yang mengaku sebagai kontraktor. Diarson menegaskan kasus penembakan itu tak berkaitan dengan proyek pembangunan SPBU, namun berkaitan dengan pengurusan izin proyek SPBU. 

"Itu simpang siur. Bukan kontraktor, tapi pengurusan izin pembangunan SPBU dari Pertamina. Tidak ada juga kaitannya dengan proyek pemda, itu murni kewenangan Pertamina," kata Diarson.

Diarson menegaskan bahwa Panji seorang mediator yang bekerja sama dengan PT Laskar Makmur Sadaya, perusahaan yang dipimpin oleh saudara ipar Irfan, Daniel Rezal Prilian, terkait pengurusan izin proyek. 

"Bukan kontraktor, orang (Panji) ini calo. Diduga orang ini anaknya petinggi Pertamina, ya mengurus perizinan menggunakan kewenangan bapaknya," tutur Diarson.

Diarson menjelaskan pemberitaan yang saat ini beredar masih simpang siur. Menurutnya, korban tak serta merta menagih uang imbalan terhadap Irfan. Namun, lanjut Diarson, korban juga sempat menyerang Irfan dan rekan-rekannya.

"Kita paparkan, bahwa yang dilakukan (korban) itu penyerangan. Orang itu datang dari Bandung, bawa senjata juga. Tapi selama itu kan tidak terangkat, yang muncul bahwa orang itu menagih utang ke Irfan," kata Diarson.

"Kemudian kenapa terjadi meletusnya senjata api, sehingga melukai korban. Waktu itu situasinya massa sudah beringas, sehingga terjadi letusan," ujar Diarson menambahkan. (dtk/bob)