Kamis, 30 Januari 2020


Indonesia Kalah dari Malaysia dan Brunei

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 68
Indonesia Kalah dari Malaysia dan Brunei

BELAJAR - Siswa belajar di lantai akibat kekurangan kursi dan meja di SD Negeri 2 Pasir Kupa, di Maja, Lebak, Banten, Selasa (29/10).

Indonesia berada di papan bawah peringkat pendidikan dunia 2018 yang disusun International Student Assessment (PISA). Posisi Indonesia ‘tertinggal’ dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei.

Hari Selasa (3/12), PISA menerbitkan hasil penelitian pengetahuan murid dalam hal membaca, matematika dan ilmu pengetahuan, serta apa yang dapat mereka lakukan dengan pengetahuan tersebut.

Indonesia mendapatkan angka 371 dalam hal membaca, 379 untuk matematika dan 396 terkait dengan ilmu pengetahuan. Sementara Malaysia mendapatkan nilai membaca sebesar 415, 440 untuk matematika dan 438 bagi sains.

Peringkat PISA yang dibuat The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Organisasi bagi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan ini mengisyaratkan kualitas pendidikan di dunia. Pemeringkatan ini dipandang memungkinkan para pengajar dan pembuat kebijakan untuk belajar dari kebijakan dan praktik yang diterapkan di negara-negara lain.

Namun, ada yang menarik dari laporan ini. Salah satunya, soal siswa perempuan Indonesia yang meraih skor lebih tinggi 10 poin dari siswa laki-laki dalam kemampuan matematika. Di negara-negara OECD, siswa laki-laki lebih unggul lima poin dari siswa perempuan dalam kemampuan matematika.

Sedangkan untuk kemampuan sains, siswa perempuan di Indonesia juga unggul tujuh poin dari siswa laki-laki. Rata-rata negara OECD, siswa perempuan hanya unggul dua poin dari anak laki-laki. Untuk kemampuan membaca, siswa perempuan maupun siswa laki-laki memiliki kemampuan yang sama.

Laporan tersebut juga menyebutkan satu dari 30 siswa laki-laki yang memiliki kemampuan tinggi bidang matematika atau sains, ingin menjadi insinyur atau ilmuwan, yang mana satu dari 20 siswa perempuan juga berharap demikian.

Selanjutnya, satu dari tiga anak perempuan yang memiliki kemampuan tinggi berharap bekerja di bidang kesehatan. Sedangkan satu dari enam siswa laki-laki juga berharap demikian. Hanya sekitar satu persen siswa laki-laki dan satu persen siswa perempuan yang ingin bekerja di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

PISA menempatkan China di urutan teratas dunia di semua subjek. Dengan angka membaca 555, matematika 591 dan ilmu pengetahuan 590 berdasarkan data dari empat provinsi Beijing, Shanghai, Jiangsu dan Zhejiang dengan jumlah penduduk 180 juta.

Ke empat provinsi ini dipandang sangat efektif dalam memastikan semua murid, termasuk yang memiliki keterbatasan, untuk mencapai prestasi tertinggi. Bahkan murid yang paling termarjinalkanpun, sekitar 10 persen, memperlihatkan hasil yang lebih dari pada rata-rata murid di Inggris.

Di peringkat kedua di dunia adalah Singapura dengan angka 549 untuk membaca, 569 untuk matematika dan 551 untuk sains. Sementara Estonia dipandang sebagai kekuatan pendidikan terbaru di Eropa, dengan mengalahkan sejumlah ekonomi utama benua ini, termasuk Inggris.

Pada tahun 2016, Estonia berada di peringkat ketiga dalam ilmu pengetahuan, sementara Inggris di urutan ke 12. Dalam hal membaca, Estonia di urutan ke enam, jauh di atas Inggris yang di peringkat ke-22. Pemerintah Estonia memang memprioritaskan kualitas terbaik khususnya terkait dengan pendidikan dasar.

OECD telah melakukan tes ini sejak tahun 2000, dan kebanyakan negara dengan pemasukan menengah dan tinggi ikut serta di dalamnya. Tes PISA telah menjadi alat ukur berpengaruh terkait dengan standar pendidikan, karena memberikan perspektif yang berbeda dengan ujian nasional. (antara/balasa)