Kamis, 30 Januari 2020


Gang Dolly dan Gairahnya Kini

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 108
Gang Dolly dan Gairahnya Kini

BERMAIN – Anak-anak Gang Dolly bermain di depan wisma Barbara, wisma prostitusi terbesar di kawasan Dolly, Surabaya, Jawa Timur.

Sebelum 2014, Gang Dolly di Surabaya, Jawa Timur, menjadi primadona bagi pria dewasa yang berhasrat untuk sekedar plesir sesaat. Konon, Gang Dolly pernah menjadi kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Tak heran jika pesona Dolly menyihir tidak saja warga lokal, tetapi juga tamu-tamu dari luar kota dan mancanegara.

Berbagai wisma—sebutan untuk tempat lokalisasi di Dolly—berderet sepanjang jalan. Yang paling terkenal dan menonjol adalah Wisma Barbara. Bagaimana tidak, Barbara berdiri paling tinggi menjulang di balik tembok-tembok perumahan warga di gang-gang sempit sepanjang Dolly. Dengan tinggi enam lantai dan dilengkapi dengan lift, Barbara sering disebut warga setempat sebagai wisma dengan servis termahal.

Ida, seorang warga yang sudah setengah abad tinggal di gang itu, berkisah bagaimana ramainya Dolly dulu. “Apalagi kalo lagi [kapal] sandar di pelabuhan, turis-turisnya juga ke sini. Sampe masuk ke kampung-kampung juga, salah jalan ‘mister mau ke mana? Oh yes’ haha, ” cerita Ida.

Namun pemandangan Gang Dolly kini berubah 180 derajat setelah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 2014 memutuskan untuk menutup kawasan itu dan membersihkan prostitusi.

Meski terbilang berhasil mengubah Dolly, penutupan gang yang memiliki nama asli Jalan Kupang Gunung Timur itu bukannya tanpa tantangan. Pada hari penutupan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendapat perlawanan dari ratusan serikat warga dan PSK yang menentang keputusan itu. Alasannya satu. Mereka kehilangan satu-satunya mata pencaharian.

Dolly kini tidak sebergairah dulu. Beberapa gedung bekas lokalisasi masih berdiri. Namun terbengkalai dan lusuh dengan plang ‘dijual’ terpasang. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Pemkot Surabaya telah membangun beberapa taman ramah anak. Beberapa wisma bahkan sudah dibeli langsung oleh pemkot. Salah satu proyek terdekat, yakni membangun pasar burung.

Ery Cahyadi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, memaparkan pembangunan pasar burung itu adalah upaya membuka lapangan kerja baru untuk warga Dolly yang kehilangan pekerjaan akibat penutupan bisnis 'esek-esek' itu. Misalnya, seperti para juru parkir dan petugas pengamanan di wisma-wisma.

“Yang perlu kita pikirkan ketika kita menutup sebuah lokalisasi adalah bagaimana membuat tempat tersebut jadi tempat wisata. Di sana itu terkenal lomba burungnya. Orang Surabaya pasti suka ngumpul burung, pertandingan suara terenak,” jelas Ery Cahyadi.

Beberapa wisma di Dolly dibeli pemkot untuk diahlifungsikan. Wisma Barbara tak terkecuali. Pemkot membeli bangunan itu seharga Rp9 miliar. Gedung megah itu kini disulap menjadi pusat pelatihan dan penjualan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang memproduksi tas, sepatu, sandal, dan sandal hotel. Ida adalah salah satu pekerjanya. Sebelumnya, Ida hanya warga biasa yang mengurus rumah tangga sampai akhirnya bergabung ke program ini dari awal dibentuk.

“Ini dibentuk seperti Yogja, Bali gitu lho. Jadi wisata UKM-UKM. Jadi kalau ada turis itu bisa beli suvenir di sini, gitu lho,” kata Ida.

Menurutnya, tempat pelatihan UMKM itu sebenarnya dibuat untuk menampung para pekerja seks komersial yang berhenti bekerja karena penutupan kawasan.

“Tetapi tidak ada yang mau. Dulu ada satu-dua yang mau. Kalau saya kan warga terdampak. Akhirnya dilempar (tawaran kerjanya) ke warga terdampak,” cerita Ida.

Bagi Ida dan para warga terdampak lainnya, bekerja di pusat UMKM ini sudah seperti rumah kedua sembari meraup pendapatan tambahan. Ida terlebih dahulu menjalani pelatihan selama sebulan. Baru kemudian mulai membuat ratusan pesanan sandal hotel. Pekerjaan itu dilakukan enam hari dalam seminggu, mulai Senin hingga Sabtu. Dalam sehari, Ida bisa membuat 500 pasang sandal dengan upah Rp200 rupiah pasang.

Selain upaya pemugaran oleh pemerintah, bangunan bekas wisma lainnya di Dolly beralihfungsi secara alami menjadi berbagai tempat usaha, misalnya rumah kos. Salah satu warga mengontrak salah satu tempat bekas wisma untuk usaha isi ulang air. Harga sewa bangunan yang tidak kecil itu relatif murah. Berkisar antara Rp15-Rp20 juta setahun.

Iktikad baik Pemkot Surabaya untuk mengkaryakan para eks PSK Dolly tidak membuahkan hasil. Mereka menolak untuk mengikuti program yang disediakan pemerintah. Sebagian warga menyebut mereka masih melanjutkan praktiknya di lokasi berbeda.

“Ya sebenarnya masih ada, mas. Pindah ke kos-kos gitu. Jadi online,” tukas Ida. (voa indonesia/balasa)