Spirit Natal sebagai Modal Sosial

Opini

Editor sutan Dibaca : 805

Spirit Natal sebagai Modal Sosial
Gereja (SP/Yodi)
PERAYAAN  Natal, hari kelahiran Yesus yang diperingati setiap 25 Desembe. Kata Yesus sendiri berakar Latin, Islam menyebutnya Isa, Yunani mengucapkannya Iesous, Ibrani memanggilnya Yeshua, dan Inggris menulisnya Jesus. Apapun perbedaan pengucapan dan penulisan, namun sosok yang dituju tetaplah sama.

Dalam Quran, kelahiran Isa banyak sekali disebut, tersebar dalam beberapa surah. Dengan demikian, menandakan bahwa kelahiran Isa -yang kelak menjadi Nabi- dalam Islam merupakan suatu yang fenomenal. Sebab, kelahiran Isa sendiri melalui kemukzijatan seorang gadis bernama Maryam, yang dalam Kristen disebut dengan Maria.

Baik Islam maupun Kristen, soal pengkabaran kehamilan Maryam oleh malaikat Jibril, hampir tidak ada perbedaan. Dari sini, ada titik kesamaan pemahaman berdasarkan periwayatan bahwa Isa dalam kandungan mutlak kehendak Tuhan, tanpa lazimnya melalui proses hubungan suami-istri.

Pesan Damai Yesus

Kehadiran Yesus di muka bumi membawa pesan-pesan kedamaian, cinta kasih pada manusia. Sikap menghormati dan mengasihi antar sesama merupakan bagian dari esensi penting ajaran Yesus. Hal ini menjadi prinsip pokok, bahwasanya hubungan sosial harus dibangun dengan pondasi kasih sayang.

Dalam Islam, pesan kasih sayang selalu diucapkan dalam setiap aktifitas dengan membaca "basmalah", dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang.

Dengan demikian, diharapkan sifat rahman dan rahim pencipta mesti "diwarisi" oleh para ciptaannya. Bukankah dalam Islam, para malaikat sempat mempertanyakan maksud penciptaan Adam sebagai manusia? Tuhan menjawabnya sebagai khalifah di muka bumi.

Kekhawatiran para malaikat bahwa manusia akan membuat kerusakan di muka bumi, secara tidak langsung dijawab oleh Tuhan dengan menghadirkan para nabi dan rasul secara terus menerus, dari sejak Nabi Adam sendiri hingga kehadiran sosok Baginda Muhammad Sholollahu 'Alaihi Wasallam. Magnet ajaran yang membawa pesan moral inilah yang membuat para pemuka agama Yahudi di masanya berang terhadap seruan Yesus.

Sebab, ajaran yang dibawa Yesus menjadi "matahari" baru bagi penghuni tanah Jerussalem di masa lampau yang kelam. Saat kejahiliyahan merajalela, Yesus hadir dengan keagungan moralitas di tengah masyarakat yang gelisah dan galau.

Masyarakat di saat itu yang tonggak moral kehidupannya amburadul, dinistakan oleh kekuasaan Romawi tanpa nilai kemanusiaan. Pesan mendasar di relung hati manusia, cinta kasih. Maka, memperingati kelahiran sosok penyelamat bagi umat kristiani sejatinya bertujuan terus menggali nilai, substansi, dan semangat atas segala yang diajarkan oleh Yesus.  

Sebuah Modal Sosial
Spirit atau semangat memperingati kelahiran Yesus harus mampu menjadi modal sosial dalam tantangan jaman. Sebab, dalam masyarakat modern atau masyarakat yang terus berkembang, modal sosial menjadi sangat penting. Francis Fukuyama (1999) menguraikan modal sosial terletak pada unsur-unsur: kepercayaan antar masyarakat, hubungan yang erat, mendahulukan kepentingan bersama, kepekaan sosial, dan kolaborasi sosial yakni kerjasama antar kelompok untuk kemanfaatan masyarakat secara luas.

 
Akhir-akhir ini, saat iklim politik sering mengalami krisis, maka sikap saling percaya antar komponen menjadi tergerus. Di satu sisi kepercayaan terhadap penyelenggara negara menurun, yang selanjutnya berdampak pada saling percaya antar kelompok masyarakat secara horizontal terjun bebas. Sikap curiga, diskriminasi, bahkan radikalisasi, semuanya berawal dari hilangnya kepercayaan pada kepemimpinan.

Pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam mengatur kehidupan masyarakat belum mampu menjadi cermin keteladanan. Baik menjadi teladan kepemimpinan dalam menjalankan roda pemerintahan, teladan dalam menerapkan prinsip keadilan pembangunan, dan teladan dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Tiga persoalan di atas menjadi momok, sehingga penyelenggara negara tidak lagi dianggap sebagai komponen yang kapabel. Dari momok tersebut melahirkan dampak yang lain, yakni kecurigaan satu kelompok pada kelompok lainnya. Maka, tidak mengherankan bila akhir-akhir ini peristiwa diskriminasi sosial mulai meningkat. Spirit Natal mesti diserap sebagai inspirasi bagi pemerintah guna membangun modal sosial di masyarakat.

Pemerintah wajib menebarkan dan melahirkan kebijakan dengan prinsip cinta kasih pada masyarakat. Kebijakan tanpa melakukan penggusuran, investasi tanpa harus mengorbankan sumber daya lokal, dan peningkatan pendapatan masyarakat kecil, menjadi sangat penting untuk diperhatikan, agar ke depan, jika terjadi gesekan antar kelompok masyarakat, pemerintah tetap dianggap sebagai pihak yang paling berwibawa, dipercaya dan berkeadilan dalam menjadi perekat.

Upaya Pemuka Agama

Tugas para pemuka agama untuk menjadi penghulu keharmonisan sosial, baik di internal agama maupun antar agama. Berbagai perspektif sejarah tidak lagi dijadikan perbedaan yang menjurus pada sentimen keagamaan. Pemuka agama mesti mengarahkan pemahaman pemeluknya. Jangan sampai perbedaan keyakinan dijadikan ruang perdebatan yang berdampak pada ketersinggungan sosial.

Tugas pemuka agama harus lebih menekankan pada dialog untuk saling memahami, tanpa harus merubah sedikitpun keyakinan para pemeluknya. Di sinilah letak pentingnya dialog antar iman. Bukan untuk memperdebatkan perbedaan, namun untuk menemukan titik kesamaan. Yesus di Kristiani mengajarkan cinta kasih, Muhammad Rasul Allah di dalam Islam mengajarkan kasih sayang, agar Islam menjadi rahmat bagi bumi dan isinya. Titik esensi atau substansi ajaran keagamaan akan menjadi nilai luhur dalam mendorong kemajuan pembangunan sosial.

Dengan demikian sentimen negatif, saling mencurigai antar pemeluk agama terhapuskan. Dan tak kalah penting, gerakan radikal atas nama apapun tidak akan pernah mendapatkan dukungan dan tempat di negeri ini.

Wafatnya Sang Messias

Wafatnya Yesus di tiang salib pada tanggal 14 bulan Nisan dalam kalender Yahudi, merupakan titik tonggak berkembangnya ajaran yang dibawanya. Walaupun tercatat dalam sejarah, salah satu muridnya, Yudas Iskariot, berkomplot dengan pemuka agama saat itu dengan imbalan 30 keping perak atas penangkapannya, namun Yesus tak pernah memerintahkan pembalasan pada murid-muridnya untuk membunuh Yudas. Memanggul penderitaan sepanjang via dolorosa dijalani dengan ketabahannya.

Sebelumnya, teriakan Gubernur Romawi di Palestina Pontius Pilatus "ibis ad crucem!" menggema. Tidak ada sumpah serapah atau kata-kata kutukan yang diucapkan Yesus untuk mengecam para pembesar Romawi dan pemuka agama Yahudi yang mengekskusinya. Sang Messias benar-benar memberikan gambaran keteladanan bagi pemeluknya; terus berbuat baik di tengah masyarakat tanpa peduli cemoohan dan hardikan para pemuka agama Yahudi di masanya.

Di sini, Yesus mengedepankan semangat berbuat untuk kemaslahatan umat. Semangat untuk berlomba-dalam melakukan kebaikan di tengah-tengah masyarakat, semangat individu untuk membawa kebaikan di masyarakat tidak hanya ada pada ajaran Kristen.

Di Islam kita mengenalnya dengan istilah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebajikan. Semua agama selalu menekankan pentingnya eksistensi diri di tengah masyarakat. Membawa perubahan yang lebih baik dan kemakmuran secara bersama-sama.

Dengan begitu, agama dihadirkan di tengah masyarakat untuk perubahan, bukan untuk pembodohan, sebagai syarat untuk kemajuan kehidupan bersama, yang tentunya dengan tetap berpegang teguh pada adab agama masing-masing (alhablu minannas).

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" (QS. Maryam : 33). Selamat Natal. Damai di hati, damai di bumi. Shalom... (*)

Penulis: Andi Nuradi, Katib Syuriah PC NU Kota Pontianak