Kaos dan Budaya Pop

Opini

Editor hendra anglink Dibaca : 613

Kaos dan Budaya Pop
Ilustrasi
Oleh: Haries Pribady | Dosen STKIP Singkawang

Minggu
kemarin masyarakat Pontianak sempat dibuat resah gara-gara sebuah foto beberapa remaja yang mengenakan kaos bersiluet adegan seksual disertai tulisan"ikeh" ( Jepang: ayo, lanjutkan). Foto yang diunggah oleh seorang warganet di instagram itu pun langsung viral.


Berdasarkan keterangan yang diperoleh melalui akun pengunggah foto tersebut, remaja -remaja itu meramaikan acara hari bebas kendaraan (CFD) di Pontianak. Remaja tanggung tersebut mengenakan kaos hitam dengan gambar berupa adegan seksual disertai tulisan "ikeh" yang kerap dikaitkan dengan film JAV (Japan Adult Video).

Banyak pihak yang menyesalkan ulah remaja tersebut. Bahkan walikota Pontianak pun ikut ambil bicara, tapi dengan pernyataan bahwa yang mengenakan kaos kontroversial tersebut bukan remaja Pontianak.

Kaos yang dikenakan oleh remaja pada acara hari bebas kendaraan itu memang menarik perhatian. Jika dengan kata-kata saja, barangkali hal itu bisa ditoleransi. Tapi penambahan konten visual yang tidak pada tempatnya, membuat hal itu bisa mengarah pada aktivitas pornografi di muka publik. Kok remaja masa kini bisa berpikir bahwa itu keren ya? Untuk menjawabnya, ada beberapa hal yang mesti kita cermati.

Pertama, kaos, dalam hal ini sebagai bagian dari busana adalah alat pemberi identitas. Dengan mengenakan kaos bermotif tertentu, identitas seseorang bisa diketahui. Sederhananya adalah manusia bisa mengidentifikasi atau mengidentitaskan diri melalui kaos yang dikenakannya. Bisa saja muncul asumsi bahwa remaja tersebut telah terpapar pada konten seksual yang belum saatnya mereka terima Namun, ada yang menarik dalam hal ini.

Penggunaan lambang atau simbol seksual, terutama di ruang publik, adalah sebagai peringatan bahwa telah terjadi degradasi aktivitas seksual yang awalnya dianggap tabu dan tertutup. Hal ini tidak bisa dinafikan lagi. Remaja masa kini begitu mudah mengakses konten seksual secara audio-visual melalui gawai yang mereka miliki.

Semakin sering mereka terpapar pada konten tersebut, maka anggapan tabu dan eksklusif pada aktivitas yang hanya dilakukan oleh orang dewasa tersebut akan semakin pudar. Dalam upaya mereka mengidentifikasi diri dengan sesuatu yang sudah familiar, mengenakan kaos bermotif adegan seksual dianggap bukan lagi hal yang perlu ditakutkan.

Kedua, efek media sosial yang tidak bisa dibendung. Sebelum remaja-remaja Pontianak mengenakan baju bermotif adegan seksual, telah ada beberapa produsen yang bahkan menciptakan barang pakai yang menyerupai organ vital manusia.

Ada tas yang berbentuk persis seperti testis, ada asbak rokok dengan ornamen penis, ada gantungan kunci berbentuk penis, bahkan ada beberapa perhiasan misalnya liontin yang menggunakan payudara sebagai pengganti permatanya. Semua produk tersebut terpublikasi dengan bebas di internet. Semuanya bisa diakses.

Apalagi dengan masifnya penggunaan media sosial seperti Instagram atau Facebook, konten tersebut sering diunggah-bagikan dan kadang menjadi materi buat meme. Hal-hal itu sudah begitu dekat dengan remaja pada saat ini yang menghabiskan waktunya sebagian besar untuk berselancar bersama gawainya yang canggih.

Ketiga, norma agama dan sosial yang tidak mengakar sejak dalam keluarga. Remaja tentu membutuhkan tempat yang lebih fleksibel agar bisa berkembang sesuai dengan keinginan mereka. Tapi bukan berarti bahwa setiap remaja bisa dibiarkan begitu saja tanpa arahan dan pengawasan dari orang yang lebih tua.

Adanya kasus remaja yang mengenakan kaos bermotif adegan seksual secara langsung menjelaskan bahwa tidak adanya peran aktif orang tua dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai yang harus mereka pegang teguh. Adalah betul jika para remaja berasumsi bahwa kaos yang mereka kenakan adalah wujud kreativitas dan identifikasi diri sebagai bagian masyarakat yang modern.

Tapi, perlu juga ditanamkan kepada para remaja bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama mereka berada di lingkungan sosial yang tidak bisa menerima hal tersebut.

Lalu, selanjutnya bagaimana? Remaja-remaja masa kini dikenal sebagai sekelompok manusia yang sangat progresif. Mereka bisa mengetahui dan mengakses informasi jauh lebih cepat dibanding dengan yang bisa diakses oleh orangtua mereka.

Namun bukan berarti kita bisa berlepas tangan. Upaya persuasif dan edukatif perlu dilakukan secara kontinu. Penjelasan tentang bagaimana seharusnya berpakaian di muka umum, penjelasan tentang bagaimana seharusnya bertindak di muka umum, harus disampaikan kembali.

Membuli remaja remaja tersebut bukan sebuah solusi. Mengajak mereka untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan masyarakat sehingga bisa diterima dengan nyaman, itulah yang perlu kita lakukan. Bukan hanya mengatakan bahwa mengenakan kaos bermotif adegan seksual itu kurang baik, tapi juga menjelaskan efek dari perbuatan tersebut. (*)


Komentar