Minggu, 20 Oktober 2019


G-30/S dan Kebenaran Sejarah Kita

Editor:

Shella Rimang

    |     Pembaca: 565
G-30/S dan Kebenaran Sejarah Kita

Oleh:  M. Rikaz Prabowo | Pengurus Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Wilayah Kalimantan Barat


Sejarah adalah suatu rekonstruksi masa lalu yang disampaikan pada masa kini agar dapat diambil hikmah (pelajaran) bagi kehidupan masa depan. Sejarah berangkat dari peristiwa yang factual atau nyata pernah terjadi, bukan suatu mitos atau legenda.

Meskipun begitu mengungkap kebenaran dari suatu peristiwa sejarah tidak semudah menyatakan peristiwa itu memang pernah terjadi. Harus dilakukan penelitian yang komprehensif dengan metode-metode sejarah kritis.

Sejarah Indonesia yang sangat kaya, juga tidak terlepas dari peristiwa sejarah yang masih perlu dipertanyakan bagaimana peristiwa itu sebenarnya. Salah satunya peristiwa Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan G-30/S, pada 1965.

Peristiwa mahakeji ini didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah menyusup ke dalam pasukan pengawal Presiden Sukarno, Tjakrabirawa. Menculik, membunuh, dan membuang enam Jenderal dan satu Perwira Angkatan Darat ke dalam sumur tua di daerah Lubang Buaya, Jakarta. Demikianlah narasi sejarah yang tertulis selama ini.

Belakangan hari, penelitian-penelitian terkait peristiwa G-30/S cukup marak dilaksanakan baik oleh orang perseorangan maupun akademis, terutama pascareformasi. Peristiwa G-30/S merupakan puncak eskalasi Perang Dingin di Indonesia yang dipengaruhi oleh persaingan antarideologi.

G-30/S menarik untuk terus diteliti karena latar belakang dan pelaku-pelaku pemberontakan itu masih menuai banyak perdebatan. Banyak versi, banyak narasi, sehingga belum ada suatu pakem yang dapat digunakan secara objektif.

Dalam tulisan ini kiranya penulis tidak perlu menjabarkan masing-masing versi tersebut karena keterbatasan ruang. Dewasa ini, mendapatkan buku atau hasil penelitian tentang peristiwa G-30/S cukup gampang diakses oleh masyarakat.

Sejarawan Asvi Warman Adam dalam pidato pengukuhannya sebagai profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 26 Juli 2018, sebagaimana dikutip dari historia.id., menuturkan ada tiga periode perdebatan dalam historiografi (penulisan sejarah) G-30/S.

Pertama, perdebatan seputar siapa dalang peristiwa Gerakan 30 September yang terjadi kurun 1965-1968. Kedua, penulisan sejarah resmi oleh Pemerintah Suharto tahun 1968-1998. Ketiga, penulisan yang terjadi semenjak reformasi bergulir 21 Mei 1998 dan dikenal sebagai periode pelurusan sejarah.

Mengungkap bagaimana sebenarnya yang terjadi pada malam nahas 30 September 1965 melalui suatu penelitian bukanlah suatu yang mudah. Selain karena terbatasnya sumber-sumber primer (baik tertulis maupun lisan), tokoh-tokoh penting kejadian itu pun untuk saat ini banyak yang sudah meninggal dunia. Sementara yang masih hidup, dikarenakan sudah mencapai usia lanjut, memiliki keterbatasan ingatan dan berkomunikasi, sisanya lebih memilih bungkam.

Ada juga tokoh kunci peristiwa namun dieksekusi sebelum menjalani proses pengadilan, seperti petinggi PKI, D.N. Aidit, Lukman, dan Nyoto, yang sebenarnya berhasil ditangkap hidup-hidup. Hal ini sangat disayangkan, padahal apabila sempat diadili keterangan tokoh di atas, akan sangat berguna untuk mengungkap hal-hal yang masih menjadi perdebatan di atas.

G-30/S memang peristiwa sejarah yang cukup sensitive untuk dibahas. Tidak dimungkiri, sebagian besar masyarakat berpegang pada narasi-narasi klasik yang berkembang pada periode Orde Baru lewat film maupun bacaan. Bahkan kadangkala, orang yang berbeda dari narasi tersebut akan dianggap aneh, sesat, hingga dianggap memutarbalikkan fakta.

Akan tetapi seiring keterbukaan informasi dan semangat mengungkap kebenaran yang tumbuh saat reformasi, hasil-hasil penelitian sejarah kritis terhadap G-30/S menghasilkan fakta yang berbeda dari narasi yang telah dibuat.

Sebagian mengecam karena berbeda, sebagian lain mengapresiasi sebab telah melewati sejumlah pengujian dalam proses penelitian. Hal inilah yang menyebabkan peristiwa G-30/S memiliki lebih dari satu versi kejadian, namun tetap menyimpulkan bahwa unsur PKI memang menjadi salah satu aktor yang bermain di kejadian tersebut.

Kenyataan-kenyataan di atas akhirnya juga berdampak pada pengajaran sejarah terutama di tingkat SMA/Sederajat. Buku-buku pelajaran sejarah, termasuk buku terbitan Kementerian Pendidikan Nasional, terus mengalami penyesuaian isi tentang materi Gerakan 30 September berdasarkan fakta-fakta baru yang ditemukan.

Metode pengajaran sejarah masa kini mengedepankan Kegiatan eksplorasi, bukan indoktrinisasi. Sehingga siswa sendiri juga dituntut untuk berpikir kritis mencari tahu seperti apa peristiwa itu sebenarnya terjadi lewat bimbingan guru.

Dengan semangat tinggi mengungkap kebenaran masa lalu, diharapkan di masa depan peristiwa ini akan lebih terang sehingga khalayak bersepakat dengan narasi yang lebih objektif. Jika tidak, kebenaran sejarah G-30/S yang belum final ini masih akan terus menjadi beban sejarah yang harus ditanggung oleh anak negeri.