Selasa, 18 Februari 2020


Nyeser (Hantu Samper)

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 224
Nyeser (Hantu Samper)

Nyeser artinya tolak bala mengusir roh-roh jahat dan membuang hama, pada saat pelakasanaan penanaman padi  pada suku Dayak Taba di Desa Menyabo, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau.

Nyeser merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Taba setiap akan menjelang masa panen, agar hasil panennya berhasil dan tidak diganggu oleh roh-roh jahat atau hama.

Nyeser pada umumnya tradisi yang ada pada masyarakat Dayak Taba di Desa Menyabo Kecamatan Tayan Hulu ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahunnya dan dilaksanakan oleh masyarakat yang ada di Desa Menyabo.

Tradisi ini adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Tradisi ini juga bertujuan agar membuat kehidupan menjadi harmonis bila masyarakat saling menghargai, saling menghormati dan menjalankan tradisi tersebut dengan benar dan sesuai aturan.

Tradisi adalah sebagian unsur dari suatu masyarakat. Tradisi adalah suatu warisan berwujud budaya dari nenek moyang, yang telah menjalani waktu ratusan tahun dan tetap dituruti oleh mereka-mereka yang lahir dibelakang. Tradisi itu diwariskan oleh nenek moyang untuk diikuti karena dianggap akan memberikan semacam pedoman hidup bagi mereka yang masih hidup (simanjuntak 2016, 147).

Nyeser dilakukan oleh orang-orang kampung di Desa Menyabo dengan cara berkelliling kampung, orang-orangan tersebut dinamai dengan hantu samper, hantu samper berkeliling kampung dengan ditemani masyarakat, dan disertai dengan musik gong, musik yang digunakan hanya pada saat pelaksanaa Nyeser tersebut, agar roh-roh jahat dan hama tidak menganggu hasil panen berikutnya.

Hantu samper biasanya terdiri dari beberapa orang yang telah dipilih oleh masyarakat dan orang-orangnya telah siap menjalani tradisi nyeser tersebut hingga dimulainya tradisi tersebut  dan sampai dengan berakhirnya tradisi nyeser.

Nyeser ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan yang telah ditentukan oleh masyarakat dan proses pelaksanaannya terstruktur dengan dipimpin oleh masyarakat itu sendiri, dan disaksikan oleh masyarakat yang ada di Desa Menyabo. Nyeser dilakukan setiap bulan yang telah ditentukan dan biasa dimulai dari pukul 12.00 WIB sampai dengan selesai.

Masyarakat yang ada di Desa Menyabo begitu juga dengan aparatur desanya sangat antusias dan berpartisipasi dalam pelaksanaannya tradisi nyeser tersebut, terutama kepada para pemuda/pemudinya tujuannya agar tradisi yang telah diberikan oleh para leluhur mereka tetap ada dan terjaga. Kemudina, tradisi ini juga sebagai bentuk memperkenalkannya budaya lokal ini kepada masyarakat luar dan generasi selanjutnya.

Tradisi nyeser menurut masyarakat di Desa Menyabo adalah tradisi yang harus dilakukan dan harus tetap ada, agar apa yang telah diwariskan oleh para nenek moyang mereka dapat diwariskan kepada generasi yang selanjutnya.


Oleh: Hariansyah Ramadhan, Mahasiswa Prodi Antropologi Sosial, Fisip Untan