Sampah Kabupaten Kubu Raya Dibuang ke Kota Pontianak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1925

Sampah Kabupaten Kubu Raya Dibuang ke Kota Pontianak
ILUSTRASI TUMPUKAN SAMPAH (FOTO ANTARA)
PONTIANAK, SP –  Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Pontianak, Sri Sujiarti meminta Pemkab Kubu Raya untuk menyediakan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di perbatasan antar wilayah   Kota Pontianak dan Kubu Raya.
Hal itu lantaran masih ditemukan oknum warga Kubu Raya yang membuang sampah di Kota Pontianak.
“Kita sudah memantau sejak akhir tahun kemarin. Sampai saat ini ternyata masih saja warga Kubu Raya membuang sampah di wilayah (TPS) kita,” keluhnya, Kamis (21/1).
Pembuangan sampah terjadi di kawasan perbatasan antar Kota Pontianak-Kubu Raya, seperti Sungai Raya Dalam, Jalan Paris II ujung, Pal V,  dan Jalan Prof M Yamin. Sampah yang dibuang tidak hanya dalam  kapasitas kecil, namun juga dalam kapasitas besar.
“Selain membuang sampah pribadi,  mereka juga ada yang membuang menggunakan mobil pick up dan tosa dalam kapasitas besar,” ujar Sri Sujiarti.


Hal itu membuat DKP Pontianak kewalahan karena sampah yang harus diangkut di luar kapasitas yang sudah diprediksikan. Terlebih, sampah yang dibuang tidak hanya di TPS yang disediakan, namun juga dibuang secara liar. Warga Kubu Raya lanjutnya, seharusnya tidak membuang sampah di Kota Pontianak. Karena sampah yang dibuang itu akan berdampak dengan sarana prasana yang dimiliki Pemkot Pontianak. “Sarana prasarana kita tadinya memadai, tapi karena sampah dari Kubu Raya juga dibuang di Pontianak menjadi tidak seimbang,” ujarnya.
Sri meminta Pemkab Kubu Raya menyediakan sarana prasarana dalam menanggulangi sampah untuk kawasan mereka, sebab sarana pendukung penanganan sampah di Kota Pontianak sangat terbatas. “Kita dari Pontianak, maunya pemerintah yang ada berbatasan langsung dengan Kota Pontianak juga punya fasilitias yang sama. Seperti TPS, penampungan maupun pengolahan. Sehingga masyarakat yang di Kabupaten tidak membuang sampah di tempat kita,” imbaunya.
Saat ini, Pemkot Pontianak melalui DKP memliki 120 TPS untuk enam kecamatan yang ada di Kota Pontianak. Rinciannya, 84 TPS jenis kontainer dan 36 TPS jenis bak semen terbuka. Peraturan Daerah dan Peraturan Wali Kota Pontianak tahun 2006, juga telah mengatur tata cara membuang sampah, yakni waktu pembuangan dilakukan pada pukul 18.00 hingga 05.00 WIB. Di luar waktu yang ditentukan, maka akan dikenakan tindak pidana ringan (Tipiring) dengan ancaman maksimal Rp 50 juta atau kurungan selama tiga bulan. 
“Misalnya saja masyarakat Kubu Raya yang kerja di Kota Pontianak, pergi kerja pukul 07:00 WIB. Nah mereka sekalian bawa sampah. Kemudian dibuang ke TPS. Itu kan di luar dari waktu yang sudah ditentukan,” kesalnya.
Sri juga menyayangkan adanya oknum warga yang tidak mengikuti aturan Pemkot, terlebih oknum tersebut merupakan warga kabupaten tetangga. Pasalnya, saat DKP melakukan pemungutan dan membersihkan sampah di TPS pada pukul 04.00 WIB, sampah sudah kembali membludak pada pukul 06.00 WIB. “Ini kan salah, jadi saya mengimbau kepada seluruh warga Kota Pontianak serta warga yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak untuk bersama menjaga lingkungan Kota Pontianak dengan membuang sampah  di waktu dan tempat yang tepat,” imbaunya.
Untuk diketahui, di tahun 2015, DKP dan Satpol PP Kota Pontianak telah memberikan sanksi Tipiring terhadap 62 warga yang melanggar aturan jam pembuangan sampah. “Semuanya kita Tipiring di Pengadilan Negeri. Mereka rata-rata dikenakan sanksi denda Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu,” tutupnya.

TPS KKR Minim
Sementara itu, permasalahan pengelolaan sampah di Kubu Raya juga dikeluhkan masyarakat setempat. Mereka meminta Pemkab Kubu Raya melalui dinas terkait dapat menyediakan atau menambah TPS di sejumlah lokasi. "Minimya tempat sampah dan tidak adanya petugas, membuat kami kesulitan untuk membuang sampah. Kami harus pandai-pandai membuang sampah," kata Bahran (50), warga Arang Limbung, KKR, belum lama ini.

Senada dengan Bahran, Usman (40), warga Jalan Sukarno-Hatta mengatakan, di sepanjang Jalan Sukarno-Hatta hanya ada satu TPS. Tak ayal, saat dia membuang sampah, terpaksa harus membuangnya di pinggir jalan. "Tidak adanya tempat pembuangan sampah, mau tak mau, sampah kami titipkan di pinggir jalan. Padahal jalan ini merupakan satu-satunya jalan protokol yang ada di Kubu Raya, tapi TPS sangat minim," kata Usman. 

Minimnya keberadaan TPS tidak hanya terjadi di pingir jalan, namun juga terjadi di pasar-pasar yang ada di kubu Raya. Pasar Melati yang berada di Jalan Adi Sucipto, Desa Sungai Raya, Kecamatam Sungai Raya  misalnya, setiap hari para pedagag di pasar ini terpaksa membuang sampah di depan toko pedagang lain, karena tidak tersedianya TPS.
“Sampah baru akan diangkut pada siang harinya menunggu para petugas kebersihan beserta armadanya datang. Beruntung saja yang punya toko tidak marah. Kalau mereka protes, kami mau buang dimana lagi ?" Kata Maman (38), satu di antara pedagang.
Menurut Maman, masalah ini sudah berlangsung sangat lama, bahkan sejak 18 tahun dia berjualan di pasar tersebut, tak tersedia tempat sampah. Pemkab Kubu Raya menurutnya tidak pernah serius menangani permasalahan sampah, dengan alasan selalu terbentur masalah anggaran dalam penyediaan tempat sampah. Pemkab hanya mengandalkan personil pengangkut sampah dengan armadanya. "Dikhawatirkan armada itu rusak atau tidak bisa beroperasi maka otomatis sampah akan menumpuk di sini," jelasnya. Ia berharap permaslahan sampah di kabupaten kubu raya dapat terselesaikan dan pemerintah mem punya itikad untuk mengatur sirkulasi sampah. Jangan sampai bertumpuk-tumpuk disembarang tempat. (yoo/jek/ind)