Apa Itu Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ?

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1706

Apa Itu Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ?
NABI PALSU- Ahmad Moshaddeq terlihat di Bandara Supadio Pontianak. Diduga pimpinan Gafatar ini datang untuk menghadiri deklarasi Negara Kesatuan Tuan Alam Semesta. (ist)
Mulanya Gafatar terbentuk dari aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Aliran kepercayaan ini memadukan ajaran tiga kitab. Yaitu, Al-qur'an, Injil, dan Taurat. Pendirinya, Ahmad Moshaddeq.

Ia dan pengikutnya menafsirkan ketiga ajaran kitab secara menyimpang, dan berusaha untuk menyatukannya menjadi satu agama. Aliran ini mempercayai pemimpin yang menyatakan diri sebagai nabi atau mesias atau Al-Masih Al-Maw'ud, yaitu Ahmad Moshaddeq.

Moshaddeq berasal dari pesantren Al-Zaytun Negara Islam Indonesia (NII) KW-9.  
Gerakan ini disorot secara besar-besaran pada akhir tahun 2006, dan dinyatakan sesat oleh MUI pada 4 Oktober 2007. Di tahun selanjutnya, tepatnya pada 23 April 2008, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, memvonis Moshaddeq 4 tahun penjara atas pasal penodaan agama.

Di sela masa penahanannya, pengikut Moshaddeq tak tinggal diam. Mereka tetap ingin mengibarkan bendera Al-Qiyadah Al-Islamiyah dengan mengubah nama menjadi Komunitas Millah Abraham.

Ada rapat pengurus lengkap, pada 12 Sep. 2009 di Jalan Raya Puncak KM 79 Cisarua, Bogor. Dalam pengarahan ketuanya menyatakan Al-Qiyadah Al-Islamiyah resmi berganti nama menjadi Komunitas Millah Abraham (Komar).

Millah Abraham resmi dihentikan, dan berganti nama lagi menjadi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Meskipun dinyatakan sudah bubar secara nasional pada Agustus 2015 silam.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaludin melaporkan Gafatar ke kejaksaan. Ia menunjukkan bukti berisi buku-buku dan dokumen terkait Gafatar. Amin mengatakan buku-buku yang didapat langsung dari pencetus Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Moshaddeq pada 2005.

Buku itu berjudul Teologi Abraham, tertulis Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gafatar, Mahful M Hawary dan penerbit Fajar Madani. "Ini adalah bukti kalau mereka itu sesat," ujarnya. Gafatar merupakan sebuah kelanjutan dari aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dulu sudah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Menurut Amin terdapat banyak penyimpangan yang terjadi dalam ajaran Gafatar. "Penyimpangan utamanya terlihat dari syahadatnya yang sudah sangat berbeda," ujar Amin. Dalam syahadat Islam, berbunyi Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Allah), sementara dalam ajaran Gafatar berubah menjadi Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Al-Masiihal Maw'uuda Rasulullah (Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi Al-Masih Al-Maw'ud adalah utusan Allah).

Penyimpangan lain terlihat dalam buku "Ruhul Qudus yang Turun Kepada Al-Masih Al-Maw'ud", halaman 175 oleh penerbit yang sama. Bila seseorang melakukan ibadah tanpa mengikuti rosul setelah Muhammad, yaitu Al-Masih Al-Maw'ud, maka tidak akan diterima ibadahnya.

Selain itu, penyimpangan juga terjadi pada pokok-pokok ajaran yang terangkum dalam beberapa buku pegangan anggota Gafatar. Seperti salat lima waktu tidak wajib, karena saat sekarang sudah kembali menjadi periode Makkah dan tidak berlakunya hukum Islam (Al-Qur'an dan Al-Hadits).

Salat lima waktu tidak wajib, tapi mewajibkan Qiyamul lail (shalat malam) dan salat waktu terbit juga terbenamnya matahari seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sewaktu periode Makkah. "Jika tidak salat malam, maka mereka harus menebus dosa," ujar Amin, sambil mengeluarkan secarik kertas bertuliskan surat penebusan dosa berupa uang shodaqoh.

Amin mengatakan cara menebus dosa dalam Gafatar adalah dengan membayar sejumlah nominal tertentu kepada nabinya, yakni Moshaddeq. "Besaran nominal uangnya, Moshaddeq yang menentukan," katanya.

Adanya penembusan dosa ini dijelaskan dalam salah satu buku pegangan Gafatar, yakni Islam Hanif: Akan Masuk Surga karya Robert P. Walean hal. 20. Dalam buku tersebut diumpamakan kata tebus adalah, sama dengan menutupi. Ibarat hutang di bank akan tidak dituntut lagi, kalau sudah ditutup atau sudah ditebus. Amin Djamaludin menyatakan, "Mereka itu ingin menyatukan agama Islam, Yahudi, dan Nasrani," ujarnya.

Beberapa sampul buku yang menjadi pegangan kelompok ini pun mengisyaratkan hal tersebut. Contohnya, lambang Islam, Yahudi, dan Nasrani yang sangat jelas terpampang dalam buku "Al-Masih Al-Maw'ud & Ruhul Qudus" yang ditulis oleh Ahmad Moshaddeq. Belum lagi, subjudul dengan kata-kata yang mengisyaratkan hal serupa, misalnya, buku pegangan yang ditulis oleh ketua umum Gafatar, "Mahful M Hawary" dengan subjudul Membangun Kesatuan Iman Yahudi, Kristen, dan Islam. Isinya pun merupakan penafsiran Taurat, Injil, dan Al-qur'an.

Dalam salah satu buku berjudul "Memahami dan Menyikapi Tradisi Tuhan : Kebangkitan yang Dibenci tapi Dirindukan" karya Ahmad Mesiyyakh, dipetakan bahwa menurut kalender masehi yaitu semenjak kelahiran umat pimpinan Muhammad pada tahun 624 masehi, ditambah 700 tahun masa kejayaan sampai tradisi kehancurannya (1.324 M) dan ditambah lagi waktu tradisi 700 tahun, maka menurut analisa tradisi Tuhan umat pilihan akan dibangkitkan kembali pada awal abad ke 21 masehi (th.2.024 Masehi).

Artinya, pada awal abad itu bangunan Tuhan akan berdiri kembali. Contoh lain terdapat dalam buku Kewajiban Menghormati Hari "Ketujuh" (Sabath) yang diterbitkan oleh Komunitas Millah Abraham (Komar).

Dalam buku ini dijelaskan, hari suci pemeluk Gafatar adalah hari Sabtu. Komar menyimpulkan hal tersebut setelah menafsirkan surat dan ayat yang ada di kitab Taurat, Injil, dan Al-qur'an dalam bukunya. Amin menyatakan perjuangan para pengikut tidak akan pernah berakhir karena mereka sudah di bai'at (sumpah setia, Red). (brt/lis)