Candi, Anggota DPRD Kota Pontianak 'Nginap' di Hotel Prodeo

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 3935

Candi, Anggota DPRD Kota Pontianak 'Nginap'  di Hotel Prodeo
Hendri Mahyudin alias Candi, anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (F-PKB DPRD) Kota Pontianak. (FOTO. Dok. SUARA PEMRED)

PONTIANAK, SP - Hendri Mahyudin alias Candi, oknum  anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (F-PKB DPRD) Kota Pontianak, akhirnya dijebloskan ke Rumah Tahan Negara (Rutan) Kelas II/A, Pontianak, Jumat (29/1) pukul 20.30 WIB.  
Candi masuk hotel prodeo, karena dalam putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pontianak, Selasa, 10 September 2015, dia divonis satu tahun penjara.   “Candi langsung dikawal jaksa memasuki Rutan. Candi sepertinya mesti menjalani sisa hukuman, karena sebelumnya dilakukan penangguhan penahanan selama dalam proses hukum,” ungkap Bambang Alfian, salah satu petugas  Rutan Kelas II/A, Pontianak, ketika dihubungi melalui jaringan telepon selular.  

Candi terlibat dalam pemalsuan dokumen penerbitan lima persil sertifikat tanah, Yayasan Dharma Asih di Jalan Ahmad Yani Pontianak. Candi dinyatakan bersalah membeli dan memiliki tiga dari lima sertifikat tanah tersebut atas nama dirinya. 

Dalam pembacaan amar putusan, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pontianak, Kusno, mengatakan terdakwa terbukti membeli tiga persil sertifikat tanah tersebut seharga Rp5 miliar, yang sebelumnya sempat ditawarkan oleh tersangka lainnya, Gusti Rudi, seharga Rp5 miliar.

“Telah terjadi transaksi jual beli tanah antara terdakwa dengan tersangka Gusti Rudi. Yang kemudian diketahui bahwa, sertifikat tanah tersebut dibuat dengan memalsukan dokumen persyaratannya,” kata Kusno.


Atas dasar pertimbangan proses transaksi tersebut mencurigakan, karena terdakwa membelinya dengan harga yang relatif murah dan secara sembunyi-sembunyi. Karenanya, majelis hakim berpendapat, telah terjadi pelanggaran hukum dalam pasal 480 KUHP atau penadahan barang hasil kejahatan.
 

Satuan Tugas Anti-Mafia Tanah yang dibentuk Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto mulai menunjukkan hasil gemilang.   Dugaan praktik mafia dalam memperjual-belikan tanah Yayasan Dharma Asih di Jalan A. Yani, Kota Pontianak, kini masuk tahap akhir penyidikan. Praktik mafia tanah ini cukup mencengangkan. Ditengarai melibatkan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan anggota legislatif.

Penyidik telah menetapkan tiga tersangka, Gusti Rudi Rani, Usman Saleh dan Rahmadi Basuki. Ketiga tersangka memiliki peran berbeda. Gusti Rudi berperan sebagai penjual tanah milik yayasan.


Sementara Usman Saleh diketahui tenaga lepas di kantor Pejabat Pembuat Akta Tanah, Poltak Pardomoan, Jalan Setia Budi Gang Tiga.
  Sedangkan tersangka Rahmadi, adalah penyedia biro jasa yang mendapatan orderan dari Usman Saleh untuk memvalidasi data dan Pajak Bumi Bangunan (PBB) objek yang akan diperjual-belikan.

Tersangka Rudi kini dalam kondisi sakit jantung dan dirawat di rumahnya, Jalan D.R. Hamzah Gang Hidayah, Pontianak Barat. Dia dikenakan pasal berlapis, Pasal 385 dan Pasal 372 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).


Usman Saleh mendekam di rumah tahanan, dikenakan Pasal 362 KUHP. Pasal serupa juga dikenakan penyidik kepada Rahmadi.


Satgas Anti-Mafia Tanah memulai penyidikan kasus jual-beli tanah yayasan dengan luasan sekitar satu hektar, sejak medio Februari 2015, atas laporan Fuadi. Selama proses penyidikan, anggota DPRD Kota Pontianak, Hendri Mahyudin telah empat kali diperiksa.
 

Hendri Mahyudin yang dikenal dengan nama Candi, itu terpilih sebagai anggota Dewan, periode 2014-2019, melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dalam kasus yang ditangani Satgas Anti-Mafia Tanah Polda Kalbar, Candi berperan sebagai pembeli. (umr/aju/lis)