Polresta Pontianak Amankan Dua Mucikari

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1500

Polresta Pontianak Amankan Dua Mucikari
Salah satu mucikari prostitusi atau mami, tersangka penjualan ABG ketika diperiksa polisi. (ist)
PONTIANAK, SP - Polresta Pontianak berhasil menangkap Fery Ferdays alias Mumun (23), mucikari prostitusi yang menjajakan anak bawah umur ke lelaki hidung belang.

Dia tertangkap tangan sesaat setelah menerima pembayaran dari seorang pria atas jasanya,  menyediakan dan mengantarkan pekerja seks komersial (PSK).

Fery alias Mumun yang merupakan warga Jalan Kapten Tandean, Pontianak Selatan ini, ditangkap di kamar 202 hotel Aravera, Jalan Gajahmada Pontianak, Senin (22/2) sekitar pukul 23.00 WIB.

Dia sebelumnya sempat menjual tiga anak asuhnya, yakni dua orang anak di bawah umur, IK (15) dan FT (15) serta satu orang wanita dewasa EL (19), kepada pengunjung hotel.

Kasat Rerskrim Polresta Pontianak, Kompol, Andi Yul Lapawesean, membenarkan pengungkapan kasus prostitusi atau tindak pidana perdagangan anak dan eksploitasi ekonomi seksual terhadap anak di lingkungan hotel tersebut.

“Ada empat orang yang kami amankan, satu orang mucikari, yakni Fery alias mumun dan tiga orang korbannya, dimana dua di antaranya anak di bawah umur,” kata Andi Yul, Rabu (23/2) dini hari.

Kasus ini terungkap, berkat kerja cepat Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Pontianak yang merespon laporan masyarakat, setelah mendapat informasi mengenai adanya orang yang mencurigakan, dan diduga memperjualbelikan pekerja seks komersial.

Dari informasi itu, tim langsung melakukan penyelidikan dan pengintaian di hotel tersebut. Tersangka yang saat itu baru saja menerima pembayaran dari seorang pria atas jasanya menyediakan dan mengantarkan pekerja seks komersial kemudian diringkus.

“Malam itu semuanya langsung kami amankan di Mapolresta untuk menjalani pemeriksaan dan dimintai keterangan. Para korban berhasil diselamatkan sebelum jasanya digunakan oleh pria hidung belang,” kata Andi.

Andi mengungkapkan, dari tangan tersangka, disita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 1,2 juta yang merupakan uang hasil pembayaran dari anak dan wanita dewasa yang dijualnya.

Selain itu juga diamankan sejumlah alat komunikasi dan satu unit sepeda motor yang digunakan sebagai sarana mengantar korbannya kepada pembeli. Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka mengakui perbuatannya dan memang menyediakan jasa pekerja seks komersial mulai dari usia anak-anak hingga dewasa.

Bisnis haramnya tersebut sudah berlangsung sejak 2010 lalu. “Untuk sekali kencan kepada anak asuhnya tersangka memasang tarif Rp 600 ribu. Dimana Rp 400 ribunya untuk korban dan Rp 200 untuk tersangka,” ungkapnya.

Andi memastikan akan terus melakukan pengembangan kasus ini, karena diduga kuat masih banyak anak-anak dan wanita dewasa yang diperjualbelikan oleh tersangka.
“Pengakuannya masih ada lima orang yang disiapkan untuk dijual, dimana dari kelima itu ada sekitar dua orang masih anak-anak,” tukasnya.

Tersangka diancam pasal 83, 88 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan atau pasal 296 Jo pasal 506 KUHP.   

Sementara itu, IK (15) warga Pontianak yang menjadi korban prostitusi mengaku, terpaksa menjajakan tubuhnya dengan alasan butuh uang untuk keperluan pribadi dan untuk membatu orangtua.

Dia biasa melayani nafsu birahi lelaki hidung belang, dua kali dalam seminggu. “Tergantung orang pesan. Satu Minggu bisa dua kali,” ungkapnya. Dia yang sudah berhenti sekolah sejak kelas tiga SMP ini, terlibat dalam bisnis prostitusi sejak akhir 2015 lalu.

Selain mendapat tawaran untuk melayani lelaki hidung belang dari Mami (panggilan untuk  Mumum), dia juga terkadang mendapat tawaran dari teman-temannya.

Pada malam sebelum dia diamankan polisi, Mumun menghubunginya.
"Ada tamu yang mau pakai jasa nih, mau ndak? Orangnya sudah tua,” ujarnya menirukan tawaran yang diberikan Mumun. IK yang kebetulan saat itu tidak memiliki uang, akhirnya bersedia menerima tawaran tersebut.

Dari transaksi itu, disepakati dia mendapat bagian Rp 400 ribu. “Bisanya kalau mandu karaoke Rp 200 ribu. Untuk sekali kencan (shot time) Rp 600 ribu. Saya dapat Rp 400 ribu dan Rp 200 ribunya untuk Mami,” katanya.

IK setidaknya sudah sepuluh kali sudah terlibat dalam bisnis ini. Dia berpindah-pindah hotel, seperti di Villa Kapuas Darma dan lain-lain. Untuk hotel Avara, diakuinya merupakan kali pertama.

Selain IK, ada pula EL (19). Pada malam saat dia diamankan polisi, dia mengaku dihubungi oleh Mami dan diberitahukan ada pelanggan yang mau menggunakan jasa.

Dia sendiri mengaku kenal sama Mami melalui temannya. 
“Kenal mami dari kawan. Saya biasa di rumah jak. Mami yang SMS. Dia bilang ada tamu, kamu mau ndak?” ungkapnya.

EL mengaku terlibat dalam lingkaran bisnis prostitusi di Kota Pontianak sejak belan puasa tahun lalu. Dia melayani lelaki hidung belang jika ada yang ingin menggunakan jasanya. Pelanggannya mulai dari pria usia 20 tahun hingga 40 tahun lebih.
“Kalau ada jak. Kadang seminggu ada tiga orang. Uang untuk makan sehari-hari,” katanya.

EL mengaku terpaksa melakukannya. Dia yang putus sekolah ini pernah ingin berhenti, tapi belum mendapat pekerjaan lain.


Sebar Foto di Media Sosial

Tak hanya Fery alias Mumun, yang ditangkap karena diduga menjadi mucikari prostitusi.
Unit PPA Satuan Reskrim Polresta Pontianak, sebelumnya juga mengamankan warga Sungai Raya, Kubu Raya, Li alias Cece, karena menyediakan jasa prostitusi.

Wanita berambut pirang ini Kasat Reskrim AKP Andi Yul Lapawesean mengatakan, Li diamankan usai transaksi di satu hotel Jalan Gajahmada, Jumat (19/2) malam.

Penangkapan berawal dari penyelidikan panjang dan informasi masyarakat. “Pendalaman kemudian dilakukan, dan hasilnya kami tangkap tersangka di hotel kawasan Jalan Gajahmada Pontianak. Dari pelaku Li alias Cece kami amankan Rp 500 ribu. Sementara dari korban Rp 1 juta. Kemudian alat kontrasepsi, handphone dan ATM," kata Andi Yul saat ekspose kasus, Senin (22/2) kemarin.

Andi menjelaskan, modus yang dilakukan tersangka dengan menyebar foto perempuan melalui media sosial ataupun blackberry messenger (BBM). Selanjutnya pelanggan tinggal memilih orang sesuai gambar tersebut. "Setelah dipilih, tersangka kemudian mengantarnya ke kamar hotel," jelasnya.

Andi Yul mengatakan, berdasarkan keterangan tersangka hal ini sudah dilakukan sejak 2011 lalu. Li alias Cece merupakan otak dari jaringan prostitusi tersebut.
"Kita akan lakukan pendalaman-pendalaman. Siapa tahu masih ada yang demikian. Termasuk apa ada korban lain berasal dari luar Kalbar. Sampai saat ini, korban yang kita ketahui berasal dari Pontianak. Dugaannya masih banyak korban lain," katanya.

Tersangka Li mengakui perbuataanya. Dia terlebih dahulu berkomunikasi dengan pembeli sebelum menjemput korban. Setelah harga disepakati, dia kemudian menjemput korban di rumahnya untuk dibawa ke kamar hotel.

"Mereka yang telpon aku. Mungkin dapat nomornya dari relasi-relasi aku. Uangnya cash dibayar sebelum main. Jumlahnya Rp 1,5 juta. Saya dapat lima ratus. Itu dia (korban) kasih aku fee," ujar Andi.

Cece mengaku korban merupakan teman lamanya. Suatu waktu korban pernah bercerita kepadanya untuk dicarikan orang yang memerlukan pemandu karaoke.

"Itu untuk ngawankan. Mau apa selanjutnya tergantung si cewek dengan yang laki-laki," katanya.

Li memang sempat berusaha menutupi perbuatannya dengan menyebut korban sebagai pemandu karaoke. Bahkan berkali-kali Li mengakui jika saat diamankan kemarin merupakan kali pertama dirinya bertransaksi. Namun, Li akhirnya mengakui jika perbuatannya itu bukan yang pertama.

Bahkan untuk korban yang diamankan bersamanya merupakan yang kedua kalinya. "Dengan sekarang baru dua kali. Saya kekurangan uang buat anak. Masih ada tunggakan yang belum diselesaikan. Mau bayar kontrakan juga," katanya. (ind)