Perayaan Paskah di Kota Pontianak Aman

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1638

Perayaan Paskah di Kota Pontianak Aman
KOMUNI PERTAMA-Salah satu warga yang baru dibaptis menerima komuni pertama dari Pastor Petrus Rostandy Tan Un Mao OFM Cap, Pastor Toni Tantiono OFM Cap dan Pastor Alexander Mingkar Pr pada misa pertama malam Paskah, di Gereja Katedral Santo Josep, Pontian
PONTIANAK, SP-Pelaksanaan misa malam Paskah, Sabtu (26/3) dan hari Paskah, Minggu (27/3) di Pontianak dan sekitarnya berlangsung aman, karena kesigapan aparat keamanan dari Polisi Republik Indonesia (Polri) dibantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menjalankan tugas.  

Situasi lalulintas selama Malam Paskah, Sabtu (26) malam dan Minggu Paskah (27/3), berlangsung tertib. Tidak terlihat ada penjagaan mencolok. Sejumlah anggota Polri dan TNI yang berjaga, sebagian merupakan warga umat gereja yang bersangkutan.  

Kapolresta Pontianak Komisaris Besar Polisi Tubagus Ade Hidayat, mengaku bersyukur seluruh rangkaian Perayaan Paskah minggu Minggu (27/3) malam, berjalan sesuai harapan, berkat koordinasi baik antara panitia lokal dengan aparat keamanan.  

Di Gereja Paroki Keluarga Kudus Kota Baru, Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, misa malam Paskah digelar dua kali.

Demikian pula, Perayaan Paskah digelar dua kali.   Di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jalan Sutan Syahrir, Gereja Kristen Kalimantan Barat (GKKB), Jalan Gajah Mada, Gereja Siloam, Jalan Pattimura, Pontianak, baik ibadat malam Paskah maupun Perayaan Paskah, juga digelar masing-masing dua kali.  

Di Gereja Katedral Santo Yosep, Jalan Pattimura, Pontianak, misa malam Paskah digelar dua kali, dan Misa Paskah digelar sebanyak empat kali.   Misa pertama Malam Paskah pukul 18.00 WIB, Sabtu (26/3) di Gereja Katedral dipimpin Pastor Petrus Tan Un Mao OFM Cap, didampingi Pastor Toni Tantiono OFM Cap dan Pastor Alexander Mingkar Pr.  

Misa pertama Malam Paskah di Gereja Katedral Santo Josep, Pontianak, bersamaan dengan permandian 250 orang katekumen, terdiri dari anak-anak dan orang dewasa.   Dalam khotbahnya, Pastor Petrus Rostandy, mengingatkan umat beriman, untuk menghayati makna pauasa sebagai simbol pertobatan untuk menuju kehidupan yang lebih baik.  

Menurut Petrus, hari Raya Paskah, dimana Tuhan Yesus Kristus di salibkan. Hari Raya Paskah adalah simbol dari kasih Allah terhadap umat manusia, dimana Yesus Kristus telah mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.
 

Hari Raya Paskah adalah simbol dari kasih yang universal, dimana kita dituntut saling mengasihi satu sama lain.  

Menurut Petrus, saling mengasihi seperti kita mengasihi diri kita sendiri, itulah salah satu pesan penting Tuhan Yesus kepada murid-muridnya sebelum Ia disalibkan.  

Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat, Clarry Sada, mengingatkan, pesan kasih pada Perayaan Paskah 2016, seperti oase di padang gurun, dimana saat ini sangat banyak kekerasan terjadi dimana-mana.  

Banyak penderitaan, kelaparan, orang kehilangan tempat tinggal dan tidak ada yang peduli terhadap satu sama lain.   Yesus sendiri disalibkan oleh para ahli-ahli agama yang menuduh Tuhan Yesus menyebarkan aliran sesat, dan menuduhnya menggunakan kuasa setan untuk mengadakan mukjizat.  

Ahli-ahli agama ini dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai orang-orang munafik, dimana mereka tahu semua hukum agama namun mereka tidak menjalankannya. Kalau kata orang sekarang omdo alias omong doang, tanpa aksi nyata.   “Pengorbanan Yesus di kayu salib tidaklah sia-sia, melainkan menyelamaatkan umat manusia dari hukuman dan dosa-dosa kita,” kata Clarry.  

Menurut Clarry, peristiwa Paskah adalah memiliki makna kasih, bukan hanya untuk umat Kristiani yang merayakannya, melainkan kita sebagai umat manusia harus memiliki kasih satu sama lain. (aju)