Ritual Adat Pengukuhan Pengurus MADN, 2015-2020 (Bagian Satu)

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 907

Ritual Adat Pengukuhan Pengurus MADN, 2015-2020 (Bagian Satu)
Herdi, mengenakan rompi merah kaos putih, terus merapal doa sepanjang upacara adat Siam Pahar dalam acara pengukuhan pengurus MADN, 2015-2020 di Rumah Radangk, Pontianak, Kamis (8/4) pagi.(kristiawan balasa/suara pemred)
Siam Pahar, Ritual Pengukuhan Pemimpin Pembawa Kedamaian

Dalam berbagai pelaksanaan atau pengukuhan seorang pejabat, ketua adat, kampung atau lainnya, selalu diiringi dengan pelaksanaan ritual adat. Begitu pun saat pengukuhan Pengurus Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) masa bakti 2015-2020 dan Rapat Kerja Nasional (Rakenas) I MADN di Rumah Radakng Kalbar, Jalan Sutan Syahrir Pontianak, Kamis (7/4) pagi.


Sekali tebas, tebu muda itu pun langsung putus oleh sebilah mandau yang diayunkan. Tidak lama berselang, sekumpulan penari perempuan berlenggak lenggok dengan lemah gemulai, mengiringi para tetamu agung memasuki rumah Radakng.

 Sebuah rumah adat Dayak tempat berlangsungnya prosesi. Terlihat di antara tamu agung itu, Gubernur Kalbar, Cornelis. Ia didaulat sebagai Presiden MADN pada 19 September 2015 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, didampingi istrinya Frederika.

Para tetua adat Dayak dan sejumlah kepala daerah kabupaten/kota di Kalbar, turut hadir dalam acara tersebut. Pada pengukuhan pengurus MADN kemarin, didahului dengan ritual adat Dayak Kanayatn. Kanayatn merupakan satu sub suku Dayak yang awalnya, sebagian besar menempati wilayah Kabupaten Landak dan Bengkayang.

Pada upacara penyambutan tamu agung, diisi dengan pembacaan doa, pemotongan tebu, dan iringan tarian. Suasana mendadak hening. Ribuan mulut yang memenuhi Rumah Radankg, terkatup. Diam. Jiwa-jiwa menunduk. Mata tajam menatap depan, kala Herdi memulai ritual.

  Ia mengadu insaut atau alat pemotong dari besi dengan beliung (kapak) di tangan. Bunyi bergema layaknya lonceng. Sejenak kemudian, ia merapal doa. Itulah penanda prosesi adat Bapipis dengan adat Siam Pahar, menurut Adat Dayak Kanayant dimulai.

  Siam Pahar diberikan pada pimpinan tertinggi kecamatan, kabupaten/kota, dan lainnya, sebagai penunjuk tugas akan diemban dan tanggung jawab memimpin ada di dirinya,” ujar Kaspar Sumadi, Kamis (7/4) pagi, sebelum ritual dimulai.  

Sejumlah persembahan terhampar di hadapan Herdi. Di atas nampan, sekotak sirih lengkap dengan pinang, gambir, kapur, tembakau dan rokok daun, menemani tumpukan beras dua piring—beras sumuh (beras biasa) di bawah beras pulut dengan telur ayam di tengah.

Tengkawang, pelita dan beras banyu (beras diberi minyak goreng), juga ada di dalamnya.
  Sementara di atas pahar atau wadah persembahan dari tembaga, satu ekor ayam utuh dan daging babi rebus tercokol rapi. Beras kuning dalam piring dan tumpukan solek mpoe atau bambu isi pulut, seperti lemang terlihat di kanan-kirinya.

Tempayan cokelat sepinggang remaja pun terjajar di sampingnya.
  Beras, sirih dan telur, masuk dalam prosesi Bapipis Manta (mentah). Lalu persembahan ayam dan daging babi, masuk dalam Bapipis Masak.

Dua rangkaian itulah yang dijalankan dalam upacara adat Siam Pahar. Sepanjang prosesi, Herdi tak henti merapal doa. Meminta perlindungan dan berkah pada Jubata (Tuhan).
  Apa yang terhampar di hadapan Herdi bukan tanpa makna. Solek mpoe misalnya, diibaratkan tongkat, penerang jalan orang yang diberi amanat. Tempayan sebagai tiang tengah upacara sakral, menjadi pondasi keberlangsungan upacara hingga selesai.  

Sesajian lain adalah pembuktian syukur, mengembalikan apa yang Jubata beri. Bapipis Manta diakhiri Herdi dengan aduan kembali insaut dan beliung. Lalu, ia menebarkan tepung tawar.   Air campuran tepung beras yang diberi air serta kunyit, dengan menggunakan bulu ayam. Apa yang dilakukannya, terlihat seperti pastor tengah membaptis anak Tuhan. Penuh perasaan dan terasa magis.(Kristiawan Balasa/Umar/lis)