Polisi Amankan Dua Tersangka Penggelap Pajak Rp 1,09 Miliar di IKIP Pontianak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1410

Polisi  Amankan Dua Tersangka Penggelap Pajak Rp 1,09 Miliar di IKIP Pontianak
Anggota Satreskrim Polresta Pontianak menunjukan dokumen palsu yang dibuat oleh kedua tersangka BA dan BS, Kamis (14/4) siang. (FOTO SUARA PEMRED/ YOLANDA)
PONTIANAK, SP – Budhi Ananda (63), mantan Kepala Bagian Biro Umum dan Keuangan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan  (BUK IKIP) Pontianak serta rekannya Busran, diamankan pihak Kepolisian Resort Kota Pontianak, Selasa (12/4).

Keduanya diduga telah menggelapkan dana pajak PPh dan PPn IKIP Pontianak senilai lebih kurang Rp 1,09 Miliar.  

Penangkapan ini atas laporan Rektor IKIP Pontianak,  Prof DR. H. Samion. H.AR, M.PD yang menyatakan jika terlapor alias Budhi telah melakukan penggelapan dana pajak PPH dan PPN IKIP PGRI sejak tahun 2013 hingga tahun 2015.

Penangkapan  dilakukan di rumah Budhi di Jalan dr Wahidin, Gang Margodadirejo, Pontianak Kota.
“Iya,  kita telah mengamankan satu tersangka yang merupakan mantan Kepala Bagian BUK IKIP, sementara satu tersangka lainnya adalah orang yang diberi kuasa dengan mengaku sebagai konsultan pajak,” kata, Kasat Reskrim Polresrta Pontianak, Kompol, Andi Yul Lapawesean, Kamis, (14/4).

Sebelumnya, Rektor IKIP Pontianak, Samion serta Budhi telah menyepakati bahwa segala urusan perpajakan IKIP Pontianak merupakan tanggungjawab dari Budhi, baik perhitungan serta pembayaran pajak PPH dan PPN ke Kantor Pajak Kota Pontianak.

Dari hasil penghitungan, Budhi a dan konsultan pajak mengajukan senilai Rp 1.09 miliar. Kemudian pihak kampus melakukan pembayaran atas hitungan tersebut secara bertahap. “Uang pajak itu diberikan pihak kampus kepada tersangka secara bertahap,” ungkapnya.

Namun pada Desember tahun 2015, pihak kantor pajak mendatangi Rektor IKIP Pontianak untuk menagih tunggakan pajak dari IKIP  Pontianak senilai Rp 1.09 miliar. Tunggakan pajak tersebut terhitung sejak tahun 2013, 2014 dan 2015.


Selama tiga tahun tersebut, pihak Rektor IKIP Pontianak tidak menyadari jika laporan melalui kuitansi slip setor pembayaran pajak ke salah satu bank di Pontianak merupakan slip palsu yang disediakan tersendiri oleh Budhi. 


“Setelah uang berada pada kekuasan para tersangka dan ternyata uang tersebut tidak disetorkan ke kantor pajak,” katanya.

Dalam penyelidikan, pihaknya mendapati beberapa bukti berupa slip setor BNI 46, slip setor yang diduga dipalsukan, sejumlah tanda terima atau kuitansi, surat tugas, surat penunjukan, surat kuasa serta sejumlah dokumen lain yang berkaitan dengan penerimaan uang tersebut.

“Berdasarkan alat bukti itulah kedua orang tersebut ditangkap,” tuturnya.

Berdasarkan pengakuan kedua tersangka, tidak sepenuhnya dana pajak tersebut digelapkan, dari total Rp 1.099 miliar yang diterima, hanya Rp 48 juta yang dibayarkan, sedangkan sisanya yakni Rp 1,051 miliar digunakan oleh keduanya.  

Atas perbuatannya kedua tersangka diancam pasal  374 sub 372, dan atau 378, dengan ancaman pidana penjara lima tahun.
“Dan kami masih melakukan pendalaman untuk mencari tersangka lainnya,” pungkasnya.

Sementara,  Busran mengaku mendapat kuasa untuk mengurus pajak dari Budhi dengan membuat rekomendasi pada Rektorat dan disetujui. “Saya diminta Budhi untuk mengurus pajak. Uang pajak dari kampus itu kami terima secara bertahap. Hanya Rp 48 juta yang kami setorkan, sementara sisanya dipakai. Kalau saya hanya pakai Rp 100 juta,” kilahnya.

Terkait bukti penyetoran uang dari salah satu bank yang dipalsukan, Busran mengaku tidak mengetahui, yang dia tahu dia mengurus pajak dengan kuitansi atau slip setor dari Budhi.

“Saya tidak tahu soal dokumen-dokumen palsu itu. Saya diminta mengurus, karena orang sebelumnya yang mengurus pajak tidak mampu,” ujarnya. (yoo/ind)