Wali Kota Pontianak Sutarmidji Bantah karena Imbas Kebijakan Ganti Perusahaan Penyeberangan

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1948

Wali Kota Pontianak Sutarmidji Bantah karena Imbas Kebijakan Ganti Perusahaan Penyeberangan
Suasana pencarian tubuh Nur Hawi (56) yang tercebur ke Sungai Kapuas, di dermaga penyeberangan feri di Siantan, Pontianak, Kamis (14/4). (SUARA PEMRED/ KRISTIAWAN BALASA)
PONTIANAK, SP- Wali Kota Pontianak, Sutarmidji membantah bahwa kecelakaan terhadap Nur Hawi (56) bersama istrinya, merupakan imbas dari kebijakannya mengganti perusahaan penyeberangan sebelumnya.  

“Kalau tak salah suami istri pakai becak, tidak bisa dikatakan kelemahan. Bisa saja kondisi air sedang surut, sehingga kemiringan dermaga cukup tinggi. Atau, mungkin juga tenaga bapak penarik becak itu, tak mampu mendorong di kemiringan dermaga,” kata Sutarmidji, Kamis (14/4).

Ia menambahkan, jatuhnya tukang becak dan istrinya, bisa saja akibat kondisi dermaga licin karena hujan dan becak tergelincir ke samping, tidak ke pintu dermaga.
“Kita sudah minta agar tingkatkan keamanan dan kenyamanan penumpang,” ujarnya.

Sebelumnya, 4 Oktober 2015, Wali Kota Sutarmidji memutus kontrak kerjasama dengan PT Jembatan Nusantara. Perusahaan ini adalah pengelola kapal fery sebelumnya. Perusahaan ini memiliki kapal KMP Jembatan Kapuas.

Meski setiap hari beroperasi hanya satu unit, KMP Jembatan Kapuas memiliki bobot yang besar dan lebih aman kepada penumpangnya. 
Pada 1 Januari 2016 pukul 00:00 WIB, KMP Jembatan Kapuas tidak lagi beroperasi. Kala itu aktivitas jasa penyeberangan ditutup sementara.

Sebagai penggantinya, Sutarmidji menunjuk PT ASDP Cabang Pontianak. Menariknya, Sutarmijid bahkan mengklaim penunjukan perusahaan plat merah menyediakan layanan jasa penyeberangan bisa semakin baik.

Termasuk menjamin keselamatan penumpang. Setelah MoU, dua kapal feri milik ASDP pun langsung beroperasi. Yakni Kapal Gunung Palong dan Saluang dengan kemampuan 190 Gross Ton (GT) dan 188 GT.

Dilihat dari ukuran, jenis dua kapal didatangkan ASDP jauh lebih kecil dari sebelumnya. Hanya mampu memuat lima unit kendaraan roda empat campuran dan sisanya sepeda motor.

Meski demikian, Sutarmidji mengklaim, pengoperasian dua kapal secara bersamaan, dianggap mampu mempersingkat antrean penumpang. Semula bisa antre 30 menitan, dengan adanya penambahan kapal bisa singkat sampai 15 menitan.

Tapi, pujian Walikota kepada ASPD justru berseberangan dengan sikap anggota DPRD Pontianak. Ketua Komisi C, DPRD Pontianak, Agus Sutisno pernah meminta ASDP untuk segera memperbaiki dermaga yang ditabrak KMP Gunung Palong.

"Ini laporan dari masyarakat sebelah kanan dermaga Siantan itu hancur ditabrak kapal feri ASDP. Kan sudah saya bilang perlu kajian. Ini belum apa-apa sudah nabrak," katanya.

KMP Gunung Palong yang saat itu akan bersandar, menabrak jembatan penghubung yang biasanya digunakan para penumpang angkutan penyeberangan untuk naik ke kapal.

Akibatnya, dermaga penghubung tersebut tidak dapat difungsikan. Agus menyesalkan ASDP yang mengaku memiliki berbagai tenaga ahli di bidang tersebut, bisa melakukan kesalahan dengan menabrak dermaga.

Dia mempertanyakan kelayakan dua kapal yang telah beroperasi, dan adanya tenaga ahli sudah sesuai yang diperuntukkan. “Dengan adanya penabrakan tersebut menunjukkan, tidak terjaminnya pengguna jasa dalam menggunakan jasa penyeberangan itu,” ujarnya. (yoo/bls/lis)