Langganan SP 2

DPRD Kota Pontianak Akan Memanggil PT ASDP

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1007

DPRD Kota Pontianak Akan Memanggil PT ASDP
Keluarga membawa korban Nur Hawi (56) yang tenggelam saat hendak menyeberang melalui kapal feri KM Saluang di dermaga Siantan, Kamis (14/4) siang.(yodi rismana/suara pemred)
PONTIANAK, SP - DPRD Kota Pontianak akan memanggil manajemen PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Pontianak, selaku pengelola penyeberangan terkait tewasnya Nur Hawi (56), saat hendak menyeberang menggunakan feri KM Saluang di dermaga Siantan, Kamis (14/4) siang.  

"Dalam waktu dekat, kita akan segera memanggil pihak ASDP untuk menanyakan perihal kejadian, Kamis (14/4) tersebut," kata Alfian, anggota DPRD Kota Pontiaak, saat dihubungi Suara Pemred, Jumat (15/4).  

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menyatakan, hal itu seharusnya menjadi tanggung jawab PT ASDP sebagai pengelola, meski Hawi belum masuk ke dalam feri KM Saluang.

 “Peristiwa tersebut terjadi di dermaga yang menjadi areal kerja ASDP. Nur Hawi sudah membeli tiket, meski belum berada di dalam feri. Artinya, sudah ada tanggung jawab ASDP di situ," tegasnya.  

Hawi meninggal saat hendak masuk ke dalam feri. Akibat gerimis membuat ia yang tengah mendorong becak dengan lintasan menurun, kesulitan karena lintasan tersebut licin.   Istrinya yang berjalan di depannya, berusaha menahan laju becak.

Namun nahas, keduanya malah tercebur bersama dengan becak mereka. “Dengan sudah dibelinya tiket, otomatis ada asuransi yang harusnya diberikan,” katanya.  

Alfian mengatakan, dalam pemanggilan nanti, ia akan mempertanyakan hal tersebut. Juga, bagaimana antisipasi dan evaluasi ASDP terhadap lintasan yang licin. Misalnya dengan menambah petugas atau cara lain.  

"Kita akan tanya juga bagaimana kontrak mereka, pertanggungjawaban ke depan bagaimana, karena nyawa warga negara harus dilindungi," ujarnya. 

 Ia meminta peristiwa seperti itu tak lagi terulang, dan bisa menjadi pelajaran bagi ASDP. Selama ini, dirinya juga sering mendapatkan laporan warga, tentang kapal feri yang kerap memuat penumpang hingga menyentuh pintu keluar masuk.

Hal ini tentu berbahaya bagi keselamatan.   "Laporan juga banyak masuk, utamanya tentang kapasitas feri. Jangan sampai kinerja dan pelayanan pengelola yang sekarang, lebih buruk dari yang lalu," ujarnya.  

Sebelumnya, mantan Anggota DPRD Pontianak, M Fauzi menyebutkan, korban penumpang jatuh di dermaga penyeberangan feri merupakan bagian kecil.  
Sebenarnya  masih banyak korban lain yang nyaris kehilangan nyawa, dari mereka lantaran tidak bisa mengakses cepat jasa penyeberangan. Satu di antaranya adalah ibu hamil yang akan melahirkan.
 
“Selama saya waktu jadi dewan dulu, saya terus memperjuangkan adanya kapal cepat melayani orang sakit di Siantan-Bardan,” tutur Fauzi.  

Itu karena, selama ini Pontianak Utara sampai sekarang belum ada rumah sakit. Banyak warga yang hamil dan akan melahirkan, harus menumpang motor speed untuk pergi ke rumah sakit di Kecamatan Pontianak Barat maupun Selatan.  

“Kalau gelombang pasang, tentu ibu hamil yang naik speed mengancam nyawa keselamatan,” tuturnya.  

Ia pun berharap ada kapal cepat, yang dalam keadaan darurat bisa  diperuntukkan bagi warga yang sakit, melayani jasa penyeberangan untuk berobat. (bls/loh/lis)