Wali Kota Pontianak Pertanyakan Kinerja Aparat Keamanan Malaysia

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1242

Wali Kota Pontianak Pertanyakan Kinerja Aparat Keamanan Malaysia
Kapolda Kalbar Brigjen Pol Arief Sulistyanto (kanan) memperlihatkan barbuk berupa 17 paket sabu-sabu dari Serikin, Malaysia beserta dua tersangka, saat jumpa pers di Mapolda, Senin (18/4).
PONTIANAK, SP – Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mempertanyakan kinerja pihak keamanan Malaysia terkait maraknya penyelundupan narkoba di wilayah perbatasan RI dengan Malaysia.

Dia kesal, lantaran   banyak penyelundupan narkoba bisa lolos dari otoritas pertahanan Malaysia ?ke wilayah teritorial Indonesia, khususnya ke Kota Pontianak.

Sementara, jalur memasuki Malaysia begitu ketat.
“Mereka semua (pihak Malaysia) ini sengaja membiarkan atau jangan-jangan produksi di sana dilindungi untuk dibawa ke kita? Karena sudah banyak kasus bisa lolos seenaknya saja,” ujarnya saat menerima perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN) Pontianak dan BNN Provinsi Kalbar di ruang kerjanya, Selasa (19/4).

Sutarmidji mengatakan, memang masuk akal jika alasan yang dipakai karena penyelundupan narkoba dilakukan bukan melalui pos perbatasan resmi, melainkan lewat jalan-jalan tikus.

Namun, kenyataannya beberapa waktu lalu terjadi penangkapan di mobil Damri, juga mobil-mobil pribadi yang bebas keluar masuk dari Malaysia melalui pintu perbatasan.

 “Sudah seharusnya Indonesia memberi peringatan ke Malaysia untuk bersama mengkampanyekan larangan narkoba. Jika tidak, nanti kita bisa kirim yang lain ke dia (pihak Malaysia) biar sekali-kali dia yang ribut. Jangan dia terus bikin repot kita, kita juga harus bikin repot dia sekali-sekali,” kesalnya.

Dengan nada bicara berapi-api dan penuh kekesalan, Sutarmidji mengatakan, sejauh ini sudah puluhan kilogram narkoba masuk ke wilayah Kalbar melalui Malaysia. Bahkan dirinya beranggapan, lebih dari separuh narkoba yang beredar di Indonesia, masuk dari Malaysia.

“Sekarang berapa volume yang bisa ditangkap di negaranya sendiri? Tidak kelihatan, paling dia hanya tangkap satu gram dua gram saja. Tapi kenapa bisa lolos ke negara kita puluhan kilogram? Ini yang harus kita pertanyakan kepada mereka,” geramnya.

Menurut Sutarmidji, meski sudah ada visi yang sama secara internasional untuk memberantas peredaran narkoba. Namun, dari kenyataan di lapangan, hal itu tidak dilakukan Malaysia.

Sehingga memunculkan indikasi, pihak Malaysia sengaja melakukannya dengan tujuan merusak generasi Indonesia. Tak lupa, Sutarmidji mengapresiasi kinerja jajaran Polda Kalbar, TNI, BNN Pontianak dan BNNP Kalbar yang berhasil membongkar dan menggagalkan penyelundupan narkoba dalam berbagai bentuk dengan jumlah besar.

Sementara itu, Kepala BNNP Kalbar, Kombes (Pol) Dani Muhammad Danu mengatakan, perihal koordinasi dengan pemerintah Malaysia dilakukan oleh BNN Pusat.

Pihaknya hanya sekadar menjalankan perintah saja. “Untuk koordinasi dengan Malaysia, tentu melalui BNN Pusat, jadi kami hanya tinggal melaksanakan. Karena interdiksi bukan hanya dari tingkat kita, pusat juga ada,” ujarnya.

Interdiksi ini juga dilakukan BNNP Kalbar di wilayah perbatasan, namun dengan jumlah personel yang masih terbatas. Pihaknya juga bekerjasama dengan instansi terkait, seperti kepolisian dan TNI.

Hal itu, terbukti membuahkan hasil dengan empat kali TNI berhasil menangkap pembawa sabu dan diserahkan ke BNNP Kalbar dalam beberapa waktu terakhir. “Interdiksi bersifat rahasia sehingga tidak kelihatan. Mudah-mudahan anggota TNI yang sudah berpartisipasi bisa mendapat penghargaan,” ujarnya ketika ditanya sejauh mana peran BNNP Kalbar dalam penangkapan kasus narkoba belakangan ini.

Operasi Bersinar
Secara keseluruhan tingkat Nasional,  Polri dan BNN berhasil mengungkap 4.170 kasus narkoba selama pelaksanaan Operasi Bersinar 2016.

"Dari awal pelaksanaan Operasi Bersinar 2016 yakni pada 21 Maret 2016 hingga hari ini, kami berhasil mengungkap 4.170 kasus narkoba," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Agus Rianto di Jakarta, Senin.

Agus menyebut dari pengungkapan ribuan kasus narkoba tersebut, penyidik menyita total barang bukti yakni 26.085 gram sabu, 44,64 kg sabu cair, 346.257 butir ekstasi, 246.257 gram ganja kering, 275 hektare ladang ganja dan 24,36 gram heroin.

“Sementara jumlah tersangka yang ditangkap mencapai 5.475 orang. Bandarnya 136 orang, pengedar 446 orang dan pemakai 341 orang. Sementara sisanya masih didalami perannya," katanya.

Para tersangka tersebut terdiri dari berbagai profesi diantaranya pegawai, mahasiswa dan anak sekolah, serta warga negara asing.   "Tersangka dari WN asing ada lima orang yakni WN Taiwan dua orang, WN Tiongkok dua orang dan WN Nigeria satu orang," katanya.

Operasi Bersinar 2016 berlangsung sejak 21 Maret hingga 19 April 2016 di seluruh Indonesia. Operasi ini merupakan tindak lanjut perintah Presiden Joko Widodo untuk memberantas peredaran narkoba di Indonesia. (bls/umr/ind)