Edi Kamtono: Wujudkan Pontianak menjadi Kota Masa Depan

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1233

Edi Kamtono:  Wujudkan Pontianak menjadi  Kota Masa Depan
Tugu Digulis di Jalan A Yani, Pontianak Kalbar. (FOTO SUARA PEMRED/ YODI RISMANA)
PONTIANAK, SP - Mewujudkan Kota Pontianak sebagai salah satu kota masa depan di Indonesia, merupakan cita-cita besar Pemkot Pontianak saat ini. Jadi wajar jika berbagai program pembangunan dan penataan kawasan perkotaan terus dilakukan.

“Untuk 10 tahun kedepan, gambaran kota semakin tertib dan teratur, semakin hijau, semakin tertata, semakin nyaman, semakin bersih. Itu cita-cita kita,” ujar Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono kepada Suara Pemred, belum lama ini.


Melihat realita yang ada, pemkot memang tengah berbenah. Sejumlah kawasan pun mulai ditata.

Di antaranya pembangunan waterfront di sepanjang Sungai Kapuas, penataan ruang terbuka hijau (RTH) di beberapa titik, normalisasi parit-parit, peningkatan jalan, dan lain sebagainya.


“Kami berusaha semaksimal mungkin. Dalam waktu singkat pembangunan pinggiran Sungai Kapuas sudah bisa terwujud. Ke depannya, pembangunan yang sudah terwujud itu bisa menjadi pemicu pembangunan lainnya,” terang Edi.


Secara garis besar, ada beberapa kriteria sebuah kota dapat dikatakan sebagai kota masa depan, yakni kota layak huni yang aman dan nyaman, kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana, serta kota cerdas berdaya saing dan berbasis teknologi.


Selain itu, identitas perkotaan berbasis karakter fisik, keunggulan ekonomi, budaya lokal, serta keterkaitan dan manfaat antarkota dan desa-kota dalam sistem perkotaan nasional berbasis kewilayahan.


Dalam praktiknya, penataaan kawasan perkotaan di Indonesia mengacu pada tiga kosep, yaitu konsep kota layak huni (livable city), konsep kota hijau (green city) dan konsep kota cerdas (smart city). Untuk merealisasikan kota layak huni atau livable city, pemkot sedang berupaya mengentaskan kawasan kumuh yang ada di wilayah Kota Pontianak.

Edi mengungkapkan, saat ini masih tersisa sekitar 72 hektare kawasan kumuh yang tersebar di enam kecamatan.
“Targetnya akhir 2018 lah. Kalau bisa kawasan kumuh ini bisa dikurangi sebanyak-banyaknya. Yang paling besar memang ada di Kecamatan Pontianak Barat, Timur, dan Utara. Karena pinggiran Sungai Kapuas dan Sungai Landak,” bebernya.

Guna pengentasan kawasan kumuh menjadi nol, Pemkot akan memberikan bantuan stimulan dalam bentuk program fisik maupun non fisik. Dananya berasal dari APBD dan APBN. “Untuk kawasan kumuh yang ada di Kecamatan Pontianak Timur, Kelurahan Dalam Bugis Rp 16 miliar dan Tambelan Sampit Rp 15 miliar,” sebutnya.

Prinsip dasar kota layak huni antara lain tersedianya berbagai kebutuhan dasar masyarakat urban seperti hunian yang layak, air bersih, dan terpenuhinya kebutuhan aliran listrik. Selain itu, adanya fasilitas umum dan sosial.

“Untuk menentukan kawasan kumuh, kita melihat dari tujuh indikator yakni kondisi jalan lingkungan, drainase, pengelolaan sampah, sanitasi, jaringan air bersih, penataan bangunan rumah tidak layak huni, dan akses masuknya mobil pemadam kebakaran,” terang Edi.

Guna pengentasan kawasan kumuh, pada akhir 2015 lalu, Pemkot juga telah membangun fasilitas toilet umum di sejumlah kelurahan yang masyarakatnya dianggap masih membuang air besar sembarangan, di antaranya di Jalan Nipah Kuning Dalam, Kelurahan Pal V, Kecamatan Pontianak Barat.
Selain itu, Pemkot bersama delapan Ketua RT dan lurah setempat, juga mendeklarasikan Kelurahan Pal V sebagai kawasan Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, kegiatan gotong-royong di Pontianak saat ini kuantitasnya semakin meningkat. Masyarakat kian rutin bekerja bakti membersihkan lingkungan. Hal ini tentu berimbas pada berkurangnya lahan kumuh di Pontianak.

"Parit-parit yang jadi fokus belakangan, makin bersih dari hari ke hari. Beberapa titik seperti Sungai Jawi, Sungai Bentasan dan Sungai Putat sekarang jadi target. Setelahnya baru Pontianak Tenggara," ujarnya usai membuka kegiatan pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XIII Tingkat Kota Pontianak di Universitas Panca Bhakti Pontianak, Rabu (4/5).

Sutarmidji menambahkan, kegiatan-kegiatan lain terutama percepatan pembangunan akan dilakukan dengan pengentasan kawasan kumuh yang sebarannya masih sekitar 72 hektar. Sedangkan kawasan kumuh kategori berat sebarannya 26 hektar.

“Mudah-mudahan dalam dua atau tiga tahun ke depan pengentasan kawasan kumuh tersebut tuntas,” ucapnya.

Terkait penanganan sampah, pihaknya akan mengundang seluruh RW untuk mencari solusi bagaimana supaya Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang terletak di pinggir jalan ditiadakan. Sebab, keberadaan TPS-TPS itu justru menimbulkan kekumuhan akibat sampah yang meluber.

Sebagai gantinya, RW bisa memobilisasi pembuangan sampah di titik-titik tertentu di mana armada pengangkut sampah akan antri di lokasi yang ditentukan. Sutarmidji juga akan mengajak BUMD/BUMN dan perusahaan untuk menyediakan sepeda motor roda tiga yang dilengkapi dengan bak sampah di belakang.

"Misal terkumpul 150 unit sepeda motor roda tiga, untuk mencukupi semua RW di Pontianak, Pemkot tinggal menambah 100 unit saja. Dengan ini kita juga mengajak masyarakat untuk memilah sampah sejak di rumah sebelum dibuang," pungkasnya.

Berpredikat Green City

Sementara, demi mewujudkan Kota Pontianak berpredikat green city, hal yang mesti dilakukan yakni membuat kawasan perkotaan yang hijau dan bersih. Namun hal itu sulit terwujud, jika tidak dilakukan secara bersama-sama.


“Ini bisa terwujud jika kita bergerak bersama. Maka dari itu, pemerintah mengajak warga untuk peduli dengan kota dan lingkungan,” ujarnya.


Menurut Edi, Kota Pontianak saat ini memang minim ruang terbuka hijau (RTH). Lahan menjadi terbatas karena sudah dipenuhi bangunan dan fasilitas umum. Karena itu Pemkot sedang mencari wilayah yang dikuasai pemerintah untuk ditanami pohon, semisal badan jalan, sekolah, dan kantor-kantor.

Pemkot juga menargetkan penambahan RTH minimal 10 hektar pada 2018. Untuk mencapainya, Pemkot berencana membeli lahan milik masyarakat, terutama di pinggiran Sungai Kapuas. “Kita ingin membebaskan lahan di pinggiran Sungai Kapuas untuk lahan terbuka hijau, seperti kita membangun Alun Alun Kapuas. Pemkot siap membeli lahan tersebut, asal sesuai dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Anggarannya ada untuk membangun itu, hanya lahannya yang tidak ada,” ujar Edi.

Edi menambahkan, saat ini Pemkot sedang mengerjakan dan mengembangkan kawasan Pontianak Utara. Ada lahan-lahan milik Pemkot yang akan ditata menjadi RTH. Termasuk juga memelihara dan menjaga RTH yang sudah ada, seperti pemakaman-pemakaman umum.

“Salah satunya,  Pemakaman Umum Sungai Bangkong yang sudah dijadikan RTH, namun konteksnya tetap pemakaman. Yang penting ditata, bersih, supaya tampak asri. Meski kuburan, kalau dibikin rapi akan terlihat bagus, ditambah rimbunnya tanaman, akan lebih baik lagi,” urainya.


Berkat kerja serius Pemkot Pontianak dan jajarannya serta tidak terlepas partisipasi masyarakat, hasil manis pun didapat. Kota Pontianak kini telah meraih penghargaan sebagai kota dengan predikat kota hijau dan kota cerdas (smart city) tingkat provinsi maupun nasional.


“Kota Pontianak pernah meraih berbagai penghargaan. Di antaranya, dua kali dinobatkan sebagai Kota Bersih dan Teduh se-Kalbar. Penghargaan tingkat Nasional, Penghargaan pelayanan terpadu satu pintu oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, Ki Hajar Award (kita harus belajar), Anugerah Kota Cerdas 2015 urutan ke IV, kategori kota sedang (penduduk 200 ribu-1 juta jiwa), dan lain sebagainya,” tutur Edi.  (umr/bls/ind/sut)