Peluncuran Biografi F.C. Palaunsoeka di Kota Pontianak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1185

Peluncuran Biografi F.C. Palaunsoeka di Kota Pontianak
Para pembahas buku Biografi FC Palaunsoeka, Soedarto (ujung kiri), Gregorius Subanar (tengah) dan moderator, Clarry Sada (ujung kanan) dalam peluncuran buku tersebut di Hotel Santika, Pontianak, Kamis (19/5).(Suara Pemred/ Balasa)

Sosok Tauladan dan Pembangun Peradaban di Kalbar  

Peluncuran buku Franciscus Conradus Palaunsoeka di Ballroom Hotel Santika, Kamis (19/5) pagi berlangsung semarak. Pihak keluarga dan tamu undangan tampak antusias. Mereka tak sabar menunggu buku diluncurkan, pula bedah buku dilangsungkan.
 

Ketika buku bersampul ukiran Dayak warna hitam dengan latar merah, dan Palaunsoeka muda berdiri di tengahnya itu dibagikan, bunyi khas sampul plastik dikoyak terdengar. Seperti saling lomba, melahap lembar demi lembar.

Buku tulisan Dismas Aju, wartawan Suara Pemred itu berhasil mencetak senyum, layaknya Palaunsoeka dalam sampul. Soedarto, sejarawan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat didaulat sebagai pembahas pertama buku berjudul “F.C. Palaunsoeka, Pendiri Partai Persatuan Dayak dan Harian Kompas”.

Dipandu DR. Clarry Sada, bedah buku pun dimulai. Soedarto mengatakan amat mengagumi Palaunsoeka. Meski komunikasinya tak terlalu intens, perkembangannya terus ia ikuti. Prinsip hidup lelaki kelahiran 19 Mei 1923, tak lepas dari pribadinya sebagai guru.

Membicarakan Palaunsoeka, tidak lepas dari membicarakan guru, katanya. Apa yang membekas dalam diri Palaunsoeka, tak lepas dari produk yang ditanam misi Katolik di Kalbar. Pribadi yang tahan mental dan memegang teguh komitmen, jadi ciri yang tak serta merta muncul.

Hal itu pula yang lantas dilakukan Palaunsoeka, mengedukasi orang Dayak sebelum pemerintahan kolonial menjalankan politik etisnya. “Palaunsoeka pembangun peradaban di Kalbar. Ia sosok yang patut jadi teladan. Begitu orang memberi amanah, ia tidak mundur dan terus berjalan,” kata Soedarto.

Kepemimpinan Palaunsoeka teruji ketika memimpin Partai Persatuan Dayak di masa kependudukan Jepang. Saat cendekiawan lokal jadi musuh utama serdadu Jepang. Sama halnya ketika tahun 1948, politik Kalbar yang tengah ruwet nyatanya mampu membuatnya bertahan. Keberadaannya yang “di luar” pakem lantas membikin Palaunsoeka dipandang sebagai tokoh yang pro republik.

Sayangnya, menurut Soedarto, pemikiran Palaunsoeka baik dalam berorganisasi, kepartaian hingga kenegaraan tak gamblang dituliskan dalam buku setebal 233 halaman itu. Namun keberadaan buku ini merupakan suatu gerbang untuk mempelajari sikap, dan pendirian seorang tokoh pejuang leluhur.

“Sekarang tokoh ketika ada peluang, akan berpikir apa yang bisa didapat, ini yang tidak ada dalam diri Palaunsoeka. Ia rela menyerahkan jabatan kepada yang menurutnya lebih berhak,” ujar Soedarto, membicarakan ketika Palaunsoeka enggan menjadi menteri dan duta besar.

Pembahas kedua, DR Gregorius Budi Subanar, Dosen Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia menceritakan, bagaimana Palaunsoeka membangun Dayak dari Kabupaten Putussibau. Dirinya menjadi pemersatu lewat Dayak in Action (DIA) 30 November 1945. DIA selanjutnya menjadi Partai Persatuan Dayak (PPD), setahun berselang. “Keterbelakangan suku Dayak, perkara pendidikan, jadi fokus PPD lewat Yayasan Sukma. Berbeda dengan partai belakangan ini,” ungkapnya.

Selain itu, sejak 1950-an, Palaunsoeka juga sudah membuat buletin Keadilan. Sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami suku Dayak. Karenanya bukanlah hal yang aneh bila lantas ia, bersama Frans Seda dan Jacob Oetama mendirikan Harian Kompas tahun 1965 yang masih eksis hingga sekarang.

Sayangnya, hingga kini bentuk fisik buletin Keadilan itu urung ditemukan. Padahal jika saja didapat, kelengkapan buku ini yang memuat buah pikir Palaunsoeka secara gamblang akan semakin lengkap. Bagaimana pendistribusian buletin itu pun masih belum diketahui. Sebagaimana kita tahu, jarak Pontianak-Putussibau ketika itu bukanlah jarak yang bisa ditempuh dalam sekali gelap. “Namun, bagaimana pemikiran Palaunsoeka, terlihat dari surat-surat yang ia kirim kepada Tjilik Riwut (Gubernur Kalteng) di halaman 210, tentang perhatiannya terhadap Dayak di Kalimantan Barat,” tambahnya.

Sementara itu, Yohanes Eugenio Ranggau Barani, anak F.C Palaunsoeka mengucapkan terima kasih kepada Dismas Aju yang menulis biografi Ayahnya. Ia berharap buku ini berguna bagi pengetahuan dan acuan, bagaimana orangtua dulu mengangkat Dayak, sampai ke nasional. “Banyak tokoh daerah tidak tergali dan terangkat. Semoga adanya buku ini, bisa menjadi kekayaan literasi daerah, dan menjadi pelurusan sejarah,” sebutnya.

Sayangnya, Dismas Aju berhalangan hadir dalam peluncuran buku tersebut. Ia harus terbang ke Bali untuk menghadiri bedah buku “Kisah Penculikan Gubernur Bali, Suteja, 1966” yang juga ia tulis. (kristiawan balasa/lis
/sut)