Bayi Ditelantarkan, Kini Diserahkan ke Dinsosnaker Pontianak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 954

Bayi Ditelantarkan, Kini Diserahkan ke Dinsosnaker Pontianak
Seorang anggota LKIA menggendong Rizky Ramadhan, Senin (20/6). Bayi malang ini ditelantarkan orangtuanya di RS Antonius sejak dua bulan terakhir. SUARA PEMRED/KRISTIAWAN BALASA
PONTIANAK, SP – Bayi laki-laki berusia dua bulan yang ditelantarkan orangtuanya, diserahkan pihak Rumah Sakit Antonius kepada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Pontianak, Senin (20/6).

 Orangtuanya meninggalkan begitu saja bayi malang tersebut.
Achmad Husaeni, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kalbar menerangkan, pihaknya pertama kali menerima laporan pengaduan dari Direktur RS Antonius.

Tadinya rujukan akan disampaikan ke Dinsos Provinsi. Namun melihat perkembangan dan efisiensi biaya, akhirnya dipindahkan ke Dinsosnaker Pontianak. “Hari Kamis (16/6) kami menerima laporan lagi dari Direktur RS Antonius. Kemudian hari ini (Senin, 20/6) segera diserahkan ke Dinsos Kota,” jelas Achmad menerangkan kronologis penyerahan.

Bayi ini lahir di Rumah Sakit Yarsi. Saat lahir, beratnya hanya 1,5 kilogram, sehingga harus dirujuk ke RS Antonius. Bayi malang itu sudah dua bulan berada di RS Antonius karena ditinggal pergi orangtuanya.

 Berdasarkan kesepakatan KPAID, Dinsosnaker Pontianak dan Lembaga Kesejahteraan Ibu dan Anak (LKIA), bayi laki-laki yang kini mempunyai berat 3,4 kilogram itu diberi nama Rizky Ramadhan. 

 
“Anak ini sementara akan dirawat LKIA, mungkin sampai nanti ada orang yang ingin merawat atau mengadopsi, jika ingin bisa berkoordinasi dengan Dinsos,” tambahnya.

 Kadinsosnaker Pontianak, Aswin Djafar menambahkan, meski perawatan Rizky ke depan akan dilakukan oleh LKIA, namun secara teknis bayi itu masih berada di bawah kewenangan Dinsosnaker Pontianak. “Tapi yang jelas data-data dari rumah sakit sudah di kita, nanti akan kita telusuri lebih dulu supaya tidak lagi bermasalah ke depan,” yakinnya.

Direktur Pelaksana Harian LKIA, Kusmanto meyakini, pihaknya akan menjalankan amanah yang diberikan oleh Dinsosnaker. Sebagai mitra pemerintah pihaknya siap untuk melakukan perawatan Rizky.

 “Mudah-mudahan bisa merawat dengan baik sesuai kemampuan, tentunya kami ingin orangtua bisa datang, anak ini kan perlu orangtua, tapi kalau memang tidak bisa merawat harusnya tidak ditelantarkan tapi serahkan ke Dinsos,” sesalnya.

Kasus penelantaran bayi di rumah sakit ini merupakan kasus pertama yang masuk di Dinsosnaker Pontianak. Demikian halnya dengan LKIA. Sementara, jika dilihat lebih luas, berdasarkan data dari KPAID, tahun ini per 1 Juni 2016, sudah ada 16 kasus dalam kategori kuasa asuh dan penelantaran anak.

 Achmad Husaeni mengungkapkan, sekitar 40 persen dari 16 kasus itu merupakan kasus anak ditinggal orangtua. Jumlah itu bisa saja bertambah, mengingat sejumlah kasus lain saat ini tengah mereka tangani. Di tahun 2015 sendiri, ada 48 kasus untuk kategori serupa. (bls/ind/sut)