DPRD Kota Pontianak Kawal Kasus Dugaan Pencabulan Oknum Dosen

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1178

DPRD Kota Pontianak Kawal Kasus Dugaan Pencabulan Oknum Dosen
ILUSTRASI (merdeka.com)
PONTIANAK, SP - Komisi D DPRD Kota Pontianak mengunjungi SMK tempat di mana, VS korban dugaan pencabulan DP, dosen Universitas Tanjungpura bersekolah, Selasa (21/6). Setelah sebelumnya telah memanggil Dinas Pendidikan Kota Pontianak dan bertemu dengan korban dan para saksi. H

al ini dilakukan untuk mengumpulkan informasi perihal kasus tersebut.
“Kami sengaja melakukan pertemuan ini untuk menggiring agar proses hukum berjalan lancar, tidak berlarut-larut. Pelaku membuktikan apakah dia bersalah atau tidak, korban membuktikan apakah kejadian ini benar atau tidak. Jangan sampai ada intimidasi terhadap korban dan sekolah,” ujar Beby Nailufa, anggota Komisi D DPRD Pontianak yang datang bersama dua anggota lain, Mujiono dan Mashudi.

Usai prarekontruksi pertama, Senin (20/6) lalu, pihaknya berharap ada titik terang. Pengawalan terhadap kasus ini akan terus dilakukan hingga keputusan final. Selain itu, kedatangan mereka juga untuk memastikan kegiatan belajar mengajar korban tetap berjalan. Tentu dengan tetap memerhatikan kesehatan psikis korban.

“Bagaimana pun ini tanggung jawab bersama, untuk melindungi korban agar tidak terjadi intimidasi, dan traumatik berkelanjutan,” tambahnya.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pontianak, Paryono, yang turut hadir menjelaskan, sejak awal mendapatkan informasi, pihaknya segera mengamankan semua anak didik yang magang di Patria Education (PE), lembaga motivasi milik DP.

Terlepas dengan benar tidaknya kejadian tersebut. “Kami minta satuan pendidikan untuk tetap menciptakan kegiatan belajar mengajar yang nyaman. Jadi, anak itu ditampung di shelter yang jauh lebih nyaman dan aman. Kami minta Kasi Pembinaan SMK untuk melakukan kontrol di sana. Alhamdulilah berjalan baik,” terangnya.

Kepala Sekolah SMK tersebut, Zamzinur pun memastikan kegiatan belajar mengajar korban dan para saksi berjalan lancar. Pihaknya terus melakukan pendampingan. Khusus proses hukum, semuanya diserahkan kepada pihak yang berwenang. “Kita harapkan dengan prarekonstruksi kemarin, permasalahan bisa menemukan titik terang, kepolisian bisa mengambil tindakan tegas,” ujarnya.

Terkait perihal siswi SMK tersebut yang bisa magang di Patria Education, lembaga motivasi milik DP, memang sempat menimbulkan tanda tanya.

 Para siswi bersekolah di jurusan penyiaran televisi, sementara PE adalah lembaga motivasi. Beby Nailufa menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir memang terjalin Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua belah pihak. “Kalau kenapa hanya perempuan saja, karena memang 95 persen siswa jurusan penyiaran itu perempuan semua. Sebelumnya tidak ada permasalahan seperti ini. Kita harap kegiatan magang juga dipantau dinas dan sekolah, jangan sampai sore,” terangnya.

Paryono menjelaskan, proses magang sepenuhnya diserahkan ke satuan pendidikan. Hanya pihak sekolah yang tahu materi yang disampaikan, juga di mana tempat yang cocok bagi anak didiknya mendapat pengalaman dan nilai praktik lapangan. Termasuk berapa jumlah siswa yang magang di suatu lembaga.

“Kita tidak punya kewenangan untuk mengatur hal detail (siapa magang di mana) seperti itu, kita hanya mengawal proses pendidikan dengan lancar, kemudian kurikulum berjalan dengan baik,” jawabnya.

Hal senada diungkapkan Zamzinur. Ini merupakan tahun ketiga, siswanya magang di Patria Education. Setiap tahun mereka mengirim rata-rata 5 anak didik. Lembaga tersebut juga memproduksi video motivasi, sehingga dianggap sesuai dengan kompetensi anak.

“Kita memang ada MoU dengan pihak PE, kita magang sesuai dengan kompetensi anak. Walau di sana bukan stasiun televisi, tapi si anak bisa tetap membuat produk sesuai kompetensi, jadi kita terima,” tuturnya.

Hanya saja, dirinya mempertanyakan mengapa justru anak didiknya dihipnosis oleh DP. Mereka datang untuk belajar tentang penyiaran dan produk-produknya. Bukan untuk belajar hipnosis. “Kecuali mereka magang jurusan hipnosis, itu baru,” pungkasnya. (bls/lis/sut)