Hiswana Migas Kalbar: Banyak Pengusaha SPBU Dirugikan

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1524

Hiswana Migas Kalbar: Banyak Pengusaha SPBU Dirugikan
ILUSTRASI (news.okezone.com)
PONTIANAK, SP-   Sejumlah pengusaha perminyakan yang tergabung di dalam Hiswana Migas  (Himpunan pengusaha minyak dan gas) di Kalimantan Barat meminta agar Pertamina dan PT.Elnusa tidak takut dengan gertakan sejumlah oknum sopir yang melakukan mogok kerja.

Sekretaris Jenderal Hiswana Migas Kalbar,   Zulfidar mengungkapkan, pemerintah dan pengusaha SPBU  tidak boleh kalah dengan tekanan atau ancaman para sopir yang melakukan penyelewengan BBM.


"Kita sudah melakukan investigasi dilapangan, baik di kota Pontianak dan daerah kabupaten. Hasilnya, hampir rata-rata pengusaha SPBU mengaku sangat dirugikan akibat ulah sopir nakal yang kerap mencuri minyak alias kencing  dijalan,"ungkap Zulfidar, kepada Suara Pemred disela-sela pertemuan Hiswana Migas di Markas Kodim Kota Pontianak, Selasa (19/6) tadi malam.


Menurut mantan Ketua Mahasiswa Kalbar  se Jawa ini, akibat ulah para oknum sopir yang sering kali mencuri dengan melakukan kencing dijalan dengan jumlah yang bervariasi, 50 - 100 hingga 200 liter per sekali antar membuat para pemilik SPBU merugi.
 

"Bayangkan, kerugiannya sekitar 500 hingga 700 juta rupiah pertahun  akibat losis karena minyak yang dicuri secara bertahap itu. Dan terbukti,  belum lama ini SPBU OSO di Jalan MT. Haryono Pontianak setelah di audit  menderita kerugian aekitar 700 juta pertahun. Usut punya usut ternyata sopir mobil tangki  yang mengantar minyak ke SPBU itu mengaku mencuri ," tambah Zulfidar lagi.


Muhamaad Sharon yang juga pengurus Hiswana Migas Kalbar juga meminta agar aparat dan pemerintah memperhatikan keluhan sejumlah pengusaha SPBU. 

"Sudah bertahun-tahun pemilik SPBU di jajah oleh oknum sopir tangki nakal, mereka padahal kadang kita beri dana lelah, sebesar 100 ribu hingga 300 ribu rupiah dengan harapan mereka tidak kencing dijalan. Tapi, nyatanya tetap saja kencing,  sehingga losis dan kita rugi ratusan juta rupiah pertahun," kata Saron pengusaha muda asal Kabupaten Sintang ini.


Seorang mantan sopir tangki yang mengaku telah tobat  kepada Suara Pemred mengungkapkan, sejumlah sopir tangki yang melakukan demo aksi mogok kerja baru-baru ini sebagian besar resah dengan peraturan dan pengawasan  Pertamina yang  belakangan ini semakin ketat.

"Saya ini puluhan tahun jadi sopir tangki.   Para sopir itu tidak tahu bersyukur dengan pekerjaan mereka saat ini, padahal gaji yang diberikan PT. Elnusa sudah sangat layak, apalagi kadang para pemilik SPBU ada yang memberikan tambahan uang jalan, jika kerjanya baik. Padahal diluar sana banyak pengangguran dan  pingin bekerja jujur, tetapi tidak punya kesempatan," katanya sambil meminta  Suara Pemred agar namanya tidak disebutkan.


Menurutnya, banyak oknum sopir tangki yang melakukan aksi demo kemarin sudah mengenyam kehidupan yang layak.
"Dari mereka itu, ada yang rumahnya bagus-bagus, punya rental mobil. Tapi, tidak semua nakal, ada sopir mobil tangki yang jujur dan tidak mau mencuri, tapi kadang sopir seperti itu kekucilkan oleh teman-teman mereka. Sepertinya mereka tidak takut azab Tuhan, mencuri itu dosa, "tambahnya lagi.

Dari reportase dilapangan, Suara Pemred menemukan hampir semua pengusaha SPBU mengeluh akibat losis yang sangat besar. Para pengusaha SPBU menyebutkan, lokasi kencing para oknum sopir menyebar disejumlah titik, diantaranya di kawasan Jalan Budi Oetomo Pontianak Utara.

Yang menarik lagi para sopir terkadang bermain dengan oknum juru ukur minyak SPBU atau perusahan industri agar permainannya aman. Mereka membagi uang hasil kencing diluar atau dikirim via atm oleh sang oknum sopir tersebut, tanpa diketahui pemilik  perusahaan.
 

Namun dari sumber yang berbeda,  sejumlah SPBU milik Pertamina dan AKR di berbagai daerah daerah termasuk Kabupaten Ketapang patut diawasi karena dekat dengan kawasan perkebunan sawit dan pabrik tambang.


Menurut sumber itu lagi tak kalah menarik, saat ini muncul modus yang dilakukan perusahan penyalur BBM subsidi  dan industri  milik  PT.AKR dan PT. PAN .  Sejumlah SPBU milik PT.AKR di sejumlah daerah dan kota terkesan sering tutup tidak ada aktifitas berjualan.    

Namun dari berbagai sumber yang bisa dipercaya menyebutkan  SPBU AKR sering menjual solar subsidi ke industri.
" Mobil tangki milik AKR pengangkut minyak warna dan bentuknya sama, tidak ada bedanya apa mobil subsidi atau minyak untuk industri sehingga gampang untuk diselewengkan.  Harganya pun sangat murah bisa banting 30 persen diskonnya, ini mencurigakan karena sangat merugikan negara. Semua data keluar masuk pasti ada di Dispenda tingkat satu, berapa besar pajak yang dia bayar, atau tidak ada, "jelas sumber ini. (hd/sut)    


Komentar