7,64 Persen Balita di Kota Pontianak Kegemukan

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1070

7,64 Persen Balita di Kota Pontianak  Kegemukan
ILUSTRASI (SUARA PEMRED/MEGA)
PONTIANAK, SP - Kegemukan (obesitas) tak hanya menghantui orang dewasa, namun juga balita. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Pontianak 2015, sebanyak 7,64 persen balita di Kota Pontianak mengalami kelebihan berat badan. Trend ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Ada sekitar 60 ribu balita di Pontianak. Trend peningkatan terjadi dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2013 lalu, 6,3 persen balita mengalami kelebihan berat badan. Setahun setelahnya, angka itu sempat turun sebesar lima persen.

Namun sayangnya,  angka itu kembali naik. Jika dilihat lebih luas, berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada 2013, persentase obesitas anak di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN. Kurang lebih 12 persen anak Indonesia mengalami obesitas. Jika dirinci, dari 17 juta anak yang mengalami obesitas, hampir tujuh jutanya berasal dari Indonesia. Angka ini hanya mencakup untuk balita saja.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu menerangkan, status berat badan balita yang baik adalah dalam keadaan normal. Pengukurannya bisa dengan membandingkan antara berat dan tinggi badan, berat dan umur, serta tinggi badan dan umur.

 Berdasarkan survei tahun 2015, status balita dengan gizi normal sebesar 89 persen. Sementara yang kurus 3,2 persen, sangat kurus 0,05 persen, dan gemuk 7,64 persen. 

  
“Yang kita harapkan itu normal, jadi yang gemuk apalagi yang kurus jangan sampai tinggi,” ujar Sidiq Kamis (21/7).

Meski kelebihan berat badan tidak serta merta dianggap tidak baik, Handanu mengatakan, kondisi itu tetap saja mengkhawatirkan. Sebab, kerja organ vital akan terganggu. Kerja jantung, liver, ginjal, otomatis berlebihan. Belum lagi efek dari obesitas yang berhubungan dengan aktivitas.

Keduanya saling mempengaruhi, apakah kurang aktivitas mengakibatkan obesitas, ataukah sebaliknya. Serta masalah intelegensia anak. 
“Jadi sebenarnya melihatnya itu individual, apakah anak gemuk tidak baik atau semacamnya itu belum tentu, tapi yang baik itu normal, karenanya harus dilihat secara individu,” terangnya.

Sejatinya, bila orangtua rutin ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), berat badan anak akan terkontrol. Ada Kartu Menuju Sehat (KMS) yang memuat ukuran antopometri daftar berat badan normal dari bayi nol bulan hingga lima tahun.

Bahkan juga bagi orang dewasa. Di sana terdapat informasi curva normal sesuai usia. Di Kota Pontianak memang belum ditemui kasus obesitas seekstrem Arya Permana, bocah 10 tahun asal Desa Cipurwasari, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Kerawang, yang memiliki berat hingga 192 kilogram.

Namun Handanu mengatakan, sudah ada kasus obesitas berat yang terjadi, tapi jumlahnya sedikit. Semua pihak mesti awas dan mulai melakukan kontrol terhadap keluarga. “Ada efek dari balita gemuk, karena dalam masa perkembangan sel, kalau tidak dikontrol bisa memberi kemungkinan gemuk di usia dewasa. Seperti penyakit tidak menular, dewasanya ada hipertensi dan lainnya, itu dimulai dari balita, pola hidup sejak balita,” jelasnya.

Sebabkan Anak Minder


Seseorang dianggap menderita kegemukan (obesitas) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2. Obesitas saat ini mengalami peningkatan dan menjadi permasalahan nasional, termasuk di Kota Pontianak.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007 dan 2013, peningkatan obesitas pada orang dewasa mengalami peningkatan, yakni dari 18,8 persen menjadi 26,6 persen.

 Sementara pada anak balita di tahun 2007 sebesar 12,2 persen, lalu pada 2010 sebesar 14,0 persen dan pada 2013 sebesar 11,9 persen, Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak, Sopiyandi S.Gz mengatakan, kabar tentang Arya (10), anak yang mengalami obesitas hingga harus melanjutkan sekolah di rumah (home scholling) oleh guru pembimbing sekolah SDN 1 Cipurwasari, Karawang, menjadi kekhawatiran dunia kesehatan dan orangtua di Indonesia.

Obesitas katanya, adalah suatu kondisi kelebihan berat badan, yaitu akibat dari penimbunan lemak berlebihan. Penimbunan lemak dapat terjadi karena seseorang mengkonsumsi asupan energi melebihi dari pengeluarannya, kemudian di simpan di hati dan otot sebagai cadangan energi berupa gilkogen dan lemak yang penyimpanannya di jaringan adipose.

“Hati dan otot memiliki keterbatasan dalam penyimpanan, namun lemak akan terus ditumpuk dan di simpan hingga tidak terbatas,” katanya.

Untuk saat ini, terjadi pola hidup pada anak dimana asupan makanan sering mengkonsumsi makanan dengan energi tinggi. Misalnya, makanan berlemak tinggi karena menyumbang energi yang tinggi, dan sumber karbohidrat sederhana seperti minuman manis.

   “Bahkan obesitas menjadi satu penyebab double burden of nutrition (beban ganda masalah gizi). Di satu sisi, kurang gizi belum teratasi. Di sisi lain, gizi lebih meningkat,” kata Sopiyandi.

Menurut Sopiyandi, dampak ini akan dirasakan pada anak dengan obesitas terlebih ekstrim, yakni gangguan psikologis berupa kepercayaan diri yang turun. Umumnya anak menjadi minder, sehingga kurang bisa bersosialisasi diri pada anak lain yang dengan berat badan normal.

   “Sehingga ini bisa menyebabkan masalah lebih lanjut, yaitu anak tidak bisa mengembangkan pergaulan dengan baik,” tambahnya.

Ia menambahkan, penyakit diabetes terutama diabetes tipe dua yang diawali dari gangguan insulin sering terjadi pada anak obesitas, dan kegemukan akan semakin memperburuk kondisi dan bisa menempatkan resiko pada kehidupan anak-anak.

Menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan atau meningkatkan masalah kesehatan. (bls/ynt/ind/sut)