Langganan SP 2

Dirjen P3 Kemenkes: Setengah Juta Penduduk Kalbar Terpapar Hepatitis

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 635

Dirjen P3 Kemenkes: Setengah Juta Penduduk Kalbar Terpapar Hepatitis
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, menggelar kampanye Hari Hepatitis ke 7 yang berlangsung di GOR Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak, Minggu (6/8) pagi kemarin. SUARA PEMRED/ YODI RISMANA
PONTIANAK, SP-Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengakui, sekitar lima ratus ribu atau setengah juta penduduk di Provinsi Kalimantan Barat, dinyatakan terpapar penyakit hepatitis yang memicu kanker hati.  

Secara nasional jumlah penderita hepatitis sudah tembus di angka 25 juta dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia secara keseluruhan.

  Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P3) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, M Subuh, di sela-sela kampanye Hari Hepatitis ke-7 di Gedung Olah Raga (GOR) Sultan Syarif Abdurahman, Pontianak, Minggu (7/8) pagi.  

“Salah satu penyebab munculnya penyakit hepatitis, karena mengkonsumsi alkohol di luar batas kewajaran dalam periode tertentu, sehingga menyebabkan daya tahan tubuh menurun,” kata Subuh.  

Dikatakan Subuh, Provinsi Kalimantan Barat sampai sekarang masih dinyatakan sebagai kawasan endemik penyularan virus hepatitis.  

Menurut Subuh, secara nasional terdata 9,8 persen dari jumlah penduduk atau 2,8 juta jiwa pendeerita hepatitis.   Kalau dilihat dari perentasi penduduk di Provinsi Kalimantan Barat yang berjumlah 5 juta jiwa, ada 10 persen yang menderita penyakit hepatitis, yakni sekitar 500 ribu jiwa.  

Dijelaskan Subuh, hepatitis ini memiliki virus yang cukup sulit untuk dibunuh, sehingga dari lima jenis hepatitis yakni A, B, C, D dan E, baru golongan B yang baru bisa terdeteksi pengobatannya, namun dari 2,8 jiwa penderita 90 persennya sudah kronis.  

“Hepatitis B sama dengan kanker hati, yang kronis sudah menjadi kangker hati, dan yang sedang hati menjadi mengkerut. Untuk pengobatan cukup lama paling sedikit lima tahun penyembuhannya. Sehingga penyakit ini perlu kita cegah sejak dini,” himbau Subuh.  

Dikatakan Subuh, karena penyakit hepatitis ini menjadi pembunuh yang tersembunyi, disarankan kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan.   Upaya ini bukan saja dilakukan oleh Dinas Kesehatan, namun perlu regulasi dari pemerintah daerah sendiri, dan terpenting bagaimana masyarakat hidup dengan pola sehat.  

“Terpenting dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita untuk selalu hidup sehat. Baik menjaga makanan, lingkungan yang selalu bersih, dan membersihkan diri kita sendiri. Seperti contoh sebelum makan harus selalu cuci tangan yang bersih. Membersihkan lingkungan sekitar dari sampah dan kotoran,” anjur Subuh.  

Semua orang memiliki risiko tertular hepatitis B. Penyakit yang disebarkan oleh virus hepatitis B ini menyerang organ hati dan dapat ditularkan melalui darah, sperma, dan cairan tubuh lainnya.   Dikatakan Subuh, ada dua cara penularan hepatitis B. Pertama, penyebaran vertikal yaitu dari ibu pengidap virus hepatitis B kepada bayi saat persalinan.

 Kedua, penyebaran horizontal melalui tindakan yang memungkinkan perpindahan cairan tubuh dari orang yang terinfeksi ke tubuh orang yang sehat.   Beberapa perilaku yang dapat memperbesar risiko penyebaran horizontal, antara lain: melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berbeda-beda, memakai dan berbagi jarum suntik tidak steril.  

Kemudian, lanjut Subuh, berbagi penggunaan alat cukur atau sikat gigi dengan orang lain. Kurangnya informasi mengenai infeksi hepatitis B, serta masih kurangnya tindakan pengobatan dinilai menjadi alasan makin tingginya angka penderita hepatitis B di Indonesia  

Subuh mengatakan, sebagian besar masyarakat Indonesia juga tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi hepatitis B, sehingga ketika terdiagnosis, kemungkinan kondisinya sudah berada pada tingkat lanjut.  

Penyebab tingginya angka penyebaran hepatitis B juga dianggap, lantaran masih kurangnya sosialisasi pada masyarakat, termasuk pemeriksaan infeksi hepatitis pada ibu hamil.  

“Selain itu, penggunaan jarum tidak steril dan seks bebas dengan berganti-ganti pasangan dan/atau tanpa pengaman seperti kondom juga berkontribusi pada tingginya kasus hepatitis di Indonesia,” ujar Subuh. (lam/aju/sut)