Polsek Pontianak Barat Bekuk Enam Pemuda Asal Kabupaten Landak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 960

Polsek Pontianak Barat  Bekuk Enam Pemuda Asal Kabupaten Landak
ILUSTRASI (viva.co.id)
PONTIANAK, SP – Enam pemuda asal Kabupaten Landak berhasil dibekuk jajaran Polsek Pontianak Barat menyusul gagalnya aksi penculikan terhadap Sarah (25).  Empat di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka, Kamis (11/8).  
Kapolsek Pontianak Barat, Kompol Joko Sulistino ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jumat (12/8) mengakui, Sarah berusaha diculik karena dianggap menggelapkan peralatan milik Adi, satu di antara tujuh pemuda itu. Peralatan itu berupa satu unit trafo, satu mesin pemotong,dan satu unit mesin las  

Berdasarkan informasi,  Sarah awalnya dipekerjakan Adi di proyek bangunannya di Landak menjelang Idulfitri 2016. Korban kemudian menghilang dan diduga menggelapkan barang-barang milik Adi.
“Sejak kejadian itu, Adi mulai mencari tahu keberadaan Sarah.  

Hingga kemudian, diketahui bahwa Sarah berada di Pontianak. Disusunlah rencana penculikan untuk dibawa ke Landak dan dihukum adat,” kata Joko.
  Saat tiba di Pontianak, Adi bersama enam rekannya memergoki Sarah sedang menyantap bakso di Jalan Husein Hamzah, Kelurahan Pal V, Kecamatan Pontianak Barat, Kamis (11/8) pukul 22.00 WIB.

 Ibarat film-film eksyen,  saat itulah Sarah dipaksa masuk ke dalam mobil yang sudah tersedia.
“Saat sudah masuk di dalam mobil itulah Sarah dipukuli. Pelaku pun membawanya menuju Landak lewat Ambawang,” ujarnya.  

Kejadian itu sendiri mengagetkan sejumlah warga di warung bakso itu. Mereka langsung melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian. Mendapat laporan, polisi pun langsung bergerak cepat.   Para pelaku berhasil ditangkap ketika hendak membawa korban pulang ke Landak lewat Jalan Trans Kalimantan di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

  Joko menegaskan, para pelaku sudah diperiksa. Empat di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka,  yakni Adi, Amad, Bagus,  dan Pathan. "Sementara pasal yang kami kenakan kepada mereka pasal 170 tentang Penganiayaan. Namun tidak menutup kemungkinan dikenakan pasal lain, tergantung hasil pemeriksaan nanti," terangnya.

Joko mengingatkan, tindakan main hakin sendiri, terlebih dengan melakukan penculikan dan penganiayaan,  jelas melanggar undang-undang. Warga  yang mengalami persoalan hukum disarankan untuk sebaiknya membuat laporan kepolisian.
“Apapun penyebab masalahnya, penculikan dan penganiyaan tidak bisa dibenarkan. Tersangka akan tetap diproses,” tegasnya.  

Sepanjang 2016, tiga aksi penculikan atau penangkapan terhadap pelaku penculikan, setidaknya terjadi di wilayah hukum Polda Kalbar. Pertama, Martin Winata (25), penculik Kristin Letisia (6) pada medio tahun ini.

Martin berhasil ditangkap jajaran petugas Polsek Sungai Kakap di depan tempat kerjanya, PD Candra, Jalan Tanjungpura, Pontianak.  

Pada awal September lalu,  pelarian DPO Polres Kendal, Jawa Tengah, Slamet Widodo (39) yang membawa kabur SM (13), akhirnya dibekuk ketika kabur dari Jawa ke Kabupaten Kapuas Hulu. Kasat Reskrim Polres Kapuas Hulu, AKP Siswadi menyatakan, penangkapan itu merupakan hasil kerjasama lintaspolres.(ang/pat/sut)