Lomba Mancing Gembira di Kecamatan Pontianak Kota

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 2073

Lomba Mancing Gembira di Kecamatan Pontianak Kota
Suasana Lomba Mancing HUT ke-71 RI di Gang Margodadirejo 2B, Pontianak Kota, Minggu (21/8). SUARA PEMRED/KRISTIAWAN BALASA
Joran bertengger. Cacing-cacing waspada menunggu takdir. Lele-lele lapar berenang tak tentu arah di habitat baru. Orang-orang sabar menanti bandul pancing bergerak. Parit bingung, banyak ikan dan kail dikandung.

Setidaknya ada 740 ekor ikan lele dilepas di parit sepanjang Gang Margodadirejo 2B dalam Lomba Mancing Gembira yang digagas warga RW 23, Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Kota, Minggu (21/8) pagi. 286 orang peserta datang membawa serta keluarga, meramaikan lomba tahunan dalam rangka HUT ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Parit dengan lebar kurang lebih setengah tongkat pramuka itu dibendung di salah satu ujung. Hujan yang tak kunjung turun menambah kerja panitia, air terlalu sedikit untuk membuatnya jadi kolam dadakan. Sebuah mesih sedot air kapasitas besar diturunkan.

Parit berkedalam tak jauh beda dengan lebarnya itu hampir penuh. Tua-muda, lelaki-perempuan ambil bagian. Duduk di pinggir parit yang jadi batas jalan. Tepi seberangnya, sudah pagar rumah orang. Pagi itu memang semarak, belum lagi ditambah umbul-umbul dan Bendera Merah Putih yang berjejer sepanjang jalan. Serta pedagang keliling yang tak ingin ketinggalan. 

Sambil menunggu, para peserta bercakap-cakap. Ada pula yang sibuk menghabiskan bekal, juga jajan yang dibelinya di lokasi pemancingan. Ada yang bermain telepon genggam. Ada orangtua yang sibuk meladeni pertanyaaan anaknya. Dari itu semua, mereka punya kesamaan, raut gembira meski kail belum menemui jodohnya.

Camat Pontianak Kota, Saroni mengatakan, perlombaan ini sengaja digelar, selain sebagai ajang silaturahmi, juga meningkatkan rasa memiliki warga terhadap bangsa dan negara. Peduli terhadap lingkungan, utamanya parit sekitar rumah mereka.

“Bagaimana saluran (parit) bersih dengan menanamkan pola pikir, pola laku dan pola sikap menjaga lingkungan dan, sikap mengkonsumsi ikan,” kata Saroni, yang selama perlombaan kerap mengingatkan peserta dan pedagang agar tak membuang sampah sembarangan.

Diakuinya, kini di parit tersebut sudah jarang ditemui ikan. Masih ada ikan sepat dan ikan gabus yang sesekali terlihat. Namun, jumlahnya jauh berkurang dibanding beberapa tahun lalu. Saat ikan gabus, sepat, julung-julung, gendang-gendis dan belut masih sering dijumpai.

“Padahal gabus dan belut itu nilai gizinya tinggi. Selain tidak membuang sampah, kita juga imbau agar tidak ada yang mencari ikan dengan menyetrum di parit,” ujarnya.

Tak hanya di Gang Margodadirejo 2B, di banyak tempat di Pontianak, lomba memancing juga digelar. Sebagian besar dengan cara sama, membuat tambak dadakan dengan jaring atau barang lain. Kemudian melepas ikan lele atau nila dalam jumlah banyak.

Peserta berebut tempat, merasakan euforia memancing, di kala ikan-ikan penghuni asli parit kian terpinggir. Pontianak dikenal dengan Kota Seribu Parit. Jumlah aslinya konon 3.000 lebih. Dengan panjang diperkirakan 680 Km, terdiri dari parit primer,sekunder dan tersier.

Sayangnya, sebagian besar ekosistem di dalamnya rusak karena limbah. Sebagian sisanya mengalami pendangkalan, dan penyempitan.

Pegiat Lingkungan Kreasi Sungai Putat, Syamhudi menambahkan, ada satu hal yang jadi penyebab menghilangnya ikan-ikan, yakni pemasangan barau dengan turap. Turap membuat ikan kehilangan media bersarang.

Tak ada lagi ruang tanah atau rumput di pinggir parit. Jelas hal itu mengancam keberlangsungan biota. “Pemasangan turap, kalau dapat jangan pas di tepi parit, minimal ada jarak dengan tanah, seperti pemasangan turap oleh pemerintah di batas kota. Selain pembangunan berjalan, ekosistem parit tetap bertahan,” katanya.

Ikan dikatakannya merupakan salah satu indikator parit bersih dan tidak tercemar. Beberapa ahli disebutnya, menjelaskan kualitas air yang buruk indikatornya adalah ikan sapu-sapu. Sementara ikan seluang sebagai indikator air yang baik. Walau tidak dipungkirinya setiap parit mempunyai karakter dan persoalannya masing-masing. Bukan hanya perihal keberlangsungan ekosistem parit,

Syamhudi menambahkan pihaknya masif mengkampanyekan pentingnya menjaga parit karena parit juga memenuhi kebutuhan warga. Seperti untuk mencuci dan ruang bermain anak. “Beberapa temuan contoh, anak-anak yang paritnya tidak terawat tidak bisa berenang, beda dengan yang paritnya terawat,” tambahnya.

Bagian penting adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran warga untuk tidak membuang sampah di parit. Ditambah dengan komitmen bersama pemerintah melakukan normalisasi. Karakteristik parit Pontianak, gambut yang sarat dengan sedimentasi tinggi.

“Contoh giat parit yang sudah ada dampak, di Sungai Putat. Labi-labi moncong babi mulai berkembang biak. Dulunya sempat hilang, padahal itu hewan endemik Sungai Putat,” tutupnya. (kristiawan balasa/ind/sut)