ISPA di Kota Pontianak Mencapai 1.050 Kasus

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1288

ISPA di Kota Pontianak Mencapai  1.050 Kasus
Kondisi kabut asap di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Barat tahun lalu. (DOK. SUARA PEMRED/UMAR FARUQ)

PONTIANAK, SP
Kendati kabut asap di wilayah Kota Pontianak mulai menebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalbar, namun tingkat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tidak mengalami lonjakan yang siginifikan.

“Kalau kita lihat di empat minggu terakhir, memang meningkat tapi tidak terlalu tinggi. Kemarin minggu ke-33, itu jumlah kasusnya 1.050 (kasus ISPA). Minggu ke-32, 1.268. Minggu ke-31, 1.039. Dalam waktu sebulan ini, kondisinya naik turun. Tapi memang menunjukkan peningkatan, tapi belum tinggi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Pontianak, Sidiq Handanu Widiyono, kepada Suara Pemred, Rabu (24/8).


Handanu menyebutkan, kualitas udara di Kota Pontianak saat ini mengarah pada sedang dan tidak sehat. Kondisi ini terjadi baik pagi, siang maupun malam. Maka dari itu, diimbau bagi masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah jika memang tidak terlalu penting.

“Misalnya, kalau kita lihat di Kota Pontianak ini kan masih ada yang ngopi di luar dan segala macam, itu kondisinya kurang sehat. Sebaiknya aktivitas itu dikurangi,” saran Handanu.

Dia menjelaskan, tingkat ISPA di Kota Pontianak ini tidak semata diakibatkan oleh asap karhutla, melainkan banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

“ISPA ini kan banyak faktor, karena mungkin lingkungan, debu, perilaku, mungkin dia konsumsi minuman segala macam, bisa menimbulkan batuk pilek. Karena ISPA itu, setiap batuk dan pilek itu namanya ISPA. Itu bisa diperberat (diperparah) memang saat kondisi adanya asap,” terangnya.

Handanu menerangkan, penyakit ISPA rentan menyerang anak dan mereka yang mempunyai resiko faktor predisposisi penyakit napas seperti asma dan lain sebagainya. Maka dari itu, bagi orang tua agar anak terutama balitanya untuk dijauhi beraktifitas di luar rumah.

“Kita imbau juga, konsumsi makanan dan minuma dijaga dengan baik. Terutama minum air putih atau air susu ibu (ASI)-nya harus diteruskan,” katanya.

Dilanjutkannya, jika ditemui tanda-tanda serangan ISPA yakni batuk pilek disertai demam, hendaknya segera dibawa ke pihak medis.

“Kalau ada anak batuk pilek disertai demam, segera dibawa ke puskesmas. Puskesmas kita gratis kok, apalagi untuk anak. Kalau di puskesmas tidak bisa baik, pasti akan ada rujukan ke fasilitas selanjutnya ke rumah sakit,” tuturnya. (umr/sut)