Ratusan Sopir Truk Pelabuhan Dwikora Pontianak Ikut Tes HIV/ AIDS

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1427

Ratusan Sopir Truk Pelabuhan Dwikora Pontianak Ikut Tes HIV/ AIDS
GRAFIS (SUARA PEMRED/ MEGA)
PONTIANAK, SP – Lebih dari 300 sopir truk pelabuhan di bawah naungan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Kalbar mengikuti tes HIV/AIDS atau Voluntary Counseling Test (VCT) HIV/AIDS, di Pool Kendaraan LKA Jalan Martadinata, Pontianak, Minggu (28/8) pagi. Pasalnya, sopir truk masuk dalam kelompok lelaki berisiko tinggi (LBT) penularan penderita HIV/AIDS.

Kepala Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan Pontianak, Martyanti Sunindio mengatakan, pemeriksaan ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap penularan HIV/AIDS.

Mereka yang sudah tertular HIV pun sebisa mungkin dicegah agar tidak menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).


“Pencegahan agar tidak menjadi AIDS sudah ada dan gratis. Jadi lebih baik kalau terdeteksi sejak awal, bisa dicegah. Hasilnya ini rahasia, baik dari pengusaha truk tidak akan tahu, jadi yang tahu hanya sopir truk dan dokter yang memeriksa. Jadi kerahasiaan terjamin,” ujarnya.

Apalagi dikatakannya, saat ini Kalbar memiliki angka penularan HIV cukup tinggi. Jika penderita lebih awal ditemukan, akan lebih mudah menekan angka penularan.

Pasangan penderita juga akan diajak memeriksakan diri, sehingga rantai penularannya tak jauh lagi. “Tidak hanya sopir truk, di lingkungan pelabuhan ada juga nanti. Mulai dari tenaga bongkar muat hingga anak buah kapal, yang semuanya tergolong LBT, man, mobile, with money dan macho,” jelasnya.

Pemeriksaan tersebut dilakukan secara sukarela. Sebelum pemeriksaan lebih dulu dilakukan penyuluhan dan konseling. Jika bersedia, baru akan diperiksa dan hasilnya diberitahukan secara tertutup. “Kalau ada yang positif, akan dirujuk ke fasilitas layanan kesehatan yang menyediakan layanan HIV. Di Pontianak sudah ada di Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong dan Rumah Sakit Soedarso,” tutupnya.

Kehidupan para sopir yang kerap berpindah antar kota dan jauh dari keluarga, dengan uang yang ia punya, bukan tidak mungkin membuat mereka “jajan” di luar. Ditambah, lingkungan kerja yang sebagian besar laki-laki. Hal itu membuat mereka berisiko tertular HIV. Mesti tidak semua sopir bertingkah demikian.

Hal itu diakui Momon (50), satu di antara sopir truk pelabuhan dengan rute antar kota. Dalam pekerjaannya, ia mengatakan godaan itu memang dirasa oleh semua sopir. Adanya pemeriksaan ini pun disambut baik.

“Alhamdulillah membantu untuk tahu dan mendata perkembangan HIV di Pontianak. Mudah-mudahan menjadi sopir teladan, bertanggungjawab dengan perusahaan dan anak istri,” katanya.

Kenyataan itu juga dibenarkan Bambang, Sekretariat ALFI/ILFA Kalbar. Di lapangan, para sopir mendapat godaan yanga sama. Apalagi berdasarkan data dari Komisi Pemberantasan HIV/AIDS Pontianak, pada tahun lalu, terdapat sejumlah sopir yang menderita HIV. Upaya antisipasi pun dilakukan sejak dini. “Kita kan tidak tahu pasti, makin cepat diketahui, mereka positif, makin cepat ditanggulangi,” ucap Bambang.

Dirinya menargetkan semua sopir dapat mengikuti pemeriksaan ini. Namun untuk hari ini, melihat antusias para sopir, angka 300 orang bukan hal yang mustahil. Terutama mereka yang memiliki mobilitas keluar daerah.

 Apalagi pemeriksaan HIV menjadi salah satu syarat untuk menjadi Sopir Teladan tahun 2016 dalam rangka Hari Perhubungan Nasional, 17 September 2016 mendatang. “Di persyaratan salah satunya mereka sudah menjalani tes HIV/AIDS, masalah positif atau tidaknya itu urusan pribadi mereka, yang jelas kita minta mereka berpartisipasi mensukseskan program pemerintah dalam penanggulangan HIV,” pungkasnya.

Menjangkiti Ibu Rumah Tangga

Dalam evaluasi penanggulangan HIV/AIDS semester satu atau dari Januari hingga Juni 2016, telah ditemukan 77 kasus baru di Kota Pontianak. Yakni, positif HIV sebanyak 47 kasus, dan stadium AIDS sebanyak 30 kasus. Dari jumlah itu, 21 orang berjenis kelamin wanita dan 56 orang laki-laki dengan usia rata-rata di bawah 55 tahun.

 Kebanyakan berasal dari latar belakang pekerjaan swasta dan ibu rumah tangga. Dari 77 kasus tersebut, hanya 30 perilaku paling beresiko, yakni terdiri dari 20 lelaki suka lelaki (LSL), empat waria, dan enam pengguna jarum suntik narkoba. Sementara 47 lainnya, adalah perilaku di luar perilaku beresiko. Artinya, mempunyai perilaku seksual yang normal.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pontianak tahun 2015, dari 156 penderita HIV di Pontianak, 50 di antaranya merupakan ibu rumah tangga. Salah satu penyebabnya karena terpapar dari lelaki berisiko tinggi. “Saat ini tengah tren HIV menjangkiti ibu rumah tangga, ternyata salah satu penyebab utamanya adalah adanya lelaki berisiko tinggi, dengan kategori man with money dengan mobilitas tinggi dan macho,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pontianak, Lusi Nuryanti.

Secara nasional, ibu rumah tangga diprediksi akan menjadi kelompok risiko tinggi dari yang sebelumnya kelompok rentan. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia, jumlah ibu rumah tangga yang terjangkit HIV/AIDS, ada yang lebih banyak dari pekerja seks komerisal (PSK). 

“Kalau ditanya apakah 50 ibu rumah tangga itu semuanya karena suami, secara detail kami belum bisa menjawab karena saat konseling mereka mengaku ibu rumah tangga,” tuturnya.

Oleh karena itu, selain tetap masuk ke penjaja seks, pengguna jarum suntik dan kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), pihaknya mulai menyasar LBT. Diterangkan Lusi, penanggulangan HIV tidak bisa dilakukan sendiri.

KPA selaku koordinator program penanggulangan AIDS, pada tahun 2016 ini mulai intervensi program di pelabuhan melalui izin masuk dari Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Sasaran pertamanya, para sopir truk yang jumlahnya mencapai 900 orang.

“Pekerja pelabuhan yang banyak laki-laki ini kita sasar karena ingin membongkar sebanyak mungkin orang yang positif HIV untuk kita rangkul ke dalam program care support and treatment. Kita tidak bisa langsung menstigma bahwa sopir pasti HIV, namun ini adalah upaya kita untuk membongkar gunung es,” paparnya.


Mereka yang terbukti positif HIV tidak perlu takut. Kini sudah disediakan program gratis untuk pengobatan serta agar yang bersangkutan terpantau kesehatannya.

Dinas Kesehatan Pontianak juga tengah melatih 26 orang kenselor HIV di semua Puskesmas. Harapannya saat bertemu klien nanti, para konselor mampu mendata pengendalian faktor risiko lebih tertata dan baik. Per Juli 2016, Kalbar masuk dalam delapan besar jumlah penderita HIV terbanyak.

Terkait hal ini, Lusi menjelaskan, ketika angka HIV disebuah daerah tinggi, itu merupakan hasil kerasnya upaya yang sudah dilakukan. Jika diam saja, HIV tidak akan ketahuan, karena penderita HIV tidak tampak, dan ini merupakan fenomena gunung es. “Jadi kalau ada sebuah daerah dengan upaya tinggi dan angka temuan tinggi secara program bisa dijadikan pembelajaran. Karena untuk mengajak orang tes sangat sulit,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris KPA Provinsi Kalbar, Syarif Toto Thaha Alkadrie mengatakan, dari data hingga Desember 2015, pengidap positif HIV di Kalbar sebanyak 5.554 kasus, sedangkan stadium AIDS sebanyak 2.632 kasus.

"Perkembangan HIV/AIDS memang ibarat gunung es, mungkin banyak juga yang belum terdeteksi dalam perkembangannya. Untuk sementara ini angka tertinggi didominasi Kota Pontianak dan Singkawang," ujarnya. (bls/ynt/ind/sut)