Dishubkominfo Kota Pontianak Rantai Sepeda Motor Siswa SMP

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1198

Dishubkominfo Kota Pontianak Rantai Sepeda Motor Siswa SMP
Petugas Dishubkominfo Pontianak merantai sepeda motor siswa SMPN 2 Pontianak di salah satu areal milik warga di Kota Baru, Kamis (1/9). (SUARA PEMRED/KRISTIAWAN BALASA)
PONTIANAK, SP - Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Pontianak merantai puluhan sepeda motor siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang masih bandel membawa sepeda motor ke sekolah, Kamis (1/9). Tak hanya dirantai, ban sepeda motor juga dikempiskan.

Kepala Dishubkominfo Pontianak, Utin Sri Lena mengatakan, giat ini merupakan penegakan untuk siswa SMP yang belum berhak membawa sepeda motor karena tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Tiga lokasi yang disusuri adalah SMPN 2, SMPN 3 dan SMPN 11. “Sesuai janji, 1 September kita tertibkan, ini bersama Satlantas, yang sudah mengimbau kepada sekolah agar siswa-siswinya tidak membawa kendaraan,” ujar Utin ketika ditemui di lokasi.

Meski sudah dilarang dan pihak sekolah juga tidak mengizinkan siswanya membawa sepeda motor, namun masih saja ada siswa yang bandel. Mereka parkir di luar lingkungan sekolah atau di lahan-lahan rumah warga sekitar.
“Walaupun dari Polresta sudah beberapa kali menilang, ini kita rantai di lokasi-lokasi yang bukan di sekolah. Kalau sekolah sudah tidak ada. Yang punya rumah (penyedia lahan parkir) akan kita panggil, anak SMP kok bawa motor, mereka ambil keuntungannya,” jabarnya.

Sayangnya, ketika dilakukan penertiban, pemilik lahan tidak berada di tempat. Biasanya, untuk sekali parkir, siswa harus membayar Rp2 ribu rupiah.

Utin meyakinkan, pemilik lahan akan diserahkan ke Satpol-PP untuk diberi sanksi. Apa yang dilakukan pihaknya, mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan Umum. Di mana anak SMP yang masih berada di bawah usia 17 dan tidak diperbolehkan membawa sepeda motor.

 Sebab, salah satu syarat pengajuan SIM adalah sudah berusia 17 tahun.
Selain itu, apa yang dilakukan juga untuk memberi keselamatan pada anak. Orangtua yang memberi anaknya sepeda motor, disebutnya justru bukan bentuk kasih sayang. “Silakan orangtua komunikasi dengan kepala sekolah di lokasi masing-masing, mereka juga nanti didata dan membuat surat pernyataan dengan sekolah juga Dishub, kunci gemboknya kita pegang,” ujar Utin ketika ditanya cara sepeda motor yang dirantai dapat diambil kembali.

Perantaian sepeda motor siswa SMP itu akan dilakukan bertahap. Ke depan, pihaknya akan menyiapkan rantai yang lebih panjang dan lebih banyak. “Penegakan ini juga termasuk sekolah swasta. Yang penting anak di bawah umur tak boleh membawa kendaraan karena tidak memiliki SIM,” pungkas wanita yang juga Ketua Alumni Ikatan Mahasiswa Fisip Untan ini. 

Sementara itu, Kepala TU SMPN 2 Pontianak, Adi Yusri Utama mengatakan, selama ini pihak sekolah sudah memberikan sosialisasi terkait larangan membawa sepeda motor pada siswa dan orangtua siswa. Baik ketika daftar ulang maupun penerimaan siswa baru.

Penjelasannya bahkan tercantum dalam tata tertib yang dibagikan ke orangtua murid. “Kalau kejadian seperti ini kan di luar lingkungan sekolah, kalau di dalam sekolah tidak ada siswa membawa kendaraan kecuali sepeda,” katanya.

Terkait peringatan, Adi menerangkan pihak sekolah tidak memiliki wewenang karena siswa parkir di luar lingkungan sekolah. Namun, jika di dalam, ada sanksi yang diterapkan.  “Mereka akan kami panggil orang tuanya untuk menjelaskan dan membaca ulang tata tertib yang sudah disepakati,” pungkasnya.(bls/ind/sut)