Langganan SP 2

Kota Pontianak Akan Punya Busway, Tujuh Halte Dibangun

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1269

Kota Pontianak Akan Punya Busway, Tujuh Halte Dibangun
GRAFIS (SUARA PEMRED/ MEGA)
PONTIANAK, SP – Pemkot  Pontianak akan membangun tujuh halte tahun ini. Halte tersebut merupakan persiapan penerimaan bantuan 11 Bus Rapid Transit (BRT) atau busway dari pemerintah pusat untuk transportasi umum perkotaan.
Selain itu, bis ini  dapat dimanfaatkan oleh pelajar, menyusul pelarangan siswa SMP membawa kendaraan bermotor ke sekolah.


“Pembangunan baru dilakukan sekarang karena saat ini jalan di Pontianak sudah lebar. Mudah-mudahan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat kota,” kata Wali Kota Pontianak, Sutarmidji saat meninjau lokasi pembangunan halte di Taman Akcaya, Selasa (13/9).

Tujuh halte itu akan dibangun di Taman Akcaya, Jalan Sutan Syahrir; depan SMAN 2 Jalan Martadinata; depan SMPN 5 Jalan Hasanudin; depan SMKN 3 Jalan S Parman; depan SMKN 4 Jalan Kom Yos Soedarso; depan Sekolah Terpadu Jalan Tanjung Raya II dan; depan SMAN 5 Jalan Khatulistiwa.

“Ini kan baru satu arah, idealnya halte itu dua arah atau berseberangan. Tahun depan kita tambah tujuh halte lagi,” tambahnya.

Prioritas pembangunan halte sengaja dibangun di dekat sekolah dan taman kota, sehingga arus lalu lintas tidak terganggu ketika bus berhenti. Jalur lambat pun dipilih sebagai lokasi pemberhentian. Walau 2/3 dari lebar jalan dipakai untuk bus berhenti, kemacetan tak akan terjadi.

Perihal pengoperasiannya, pemkot  akan bekerjasama dengan Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (Damri). Sementara terkait sistem pembayaran, masih akan dikaji lebih dulu. Apakah menggunakan kartu layaknya Trans Jakarta atau lainnya.

Karena bis tak hanya dipakai untuk umum, namun juga anak sekolah, Sutarmidji memastikan ada perbedaan harga.
“Tarif untuk anak sekolah berbeda dengan penumpang umum. Yang jelas pelajar lebih murah,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Pontianak, Utin Sri Lena memastikan, 11 bus tersebut sudah ada. Penyerahan dari pusat menunggu halte-halte di Pontianak siap. “Bus sudah ada, sekarang di Jakarta. Begitu halte siap, bus-bus itu diserahkan ke kita,” kata Utin.

Dijabarkan Utin, bis yang akan beroperasi di wilayah Kota Pontianak itu berukuran panjang tiga meter lebih, dengan lebar sekitar dua meter. Dengan jarak antara aspal dan lantai bus 80 senti meter.

“Pembangunan haltenya disesuaikan dengan ukuran bus,” tutupnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Pontianak Herman Hofi mendukung penuh terealisasinya BRT atau busway di Kota Pontianak, khususnya bagi pelajar.
"Busway sangat penting apalagi untuk pelajar, Dishubkominfo Kota Pontianak harus serius menerapkan ini hingga terwujud," ujar Herman Hofi, belum lama ini.

Menurut Herman, busway sangat penting diterapkan di Kota Pontianak. Pasalnya, 30 persen kemacetan yang terjadi di kota ini disebabkan karena pelajar mengggunakan kendaraan pribadi.
"Jika Dishubkominfo serius mengadakan busway ini, pastinya 30 persen kemacetan Kota Pontianak akan berkurang," katanya.

Selain mengurangi kemacetan, pengadaan BRT juga dinilai dapat menjadi alat kontrol bagi para orangtua. Penetapan jadwal busway akan membantu meminimalisir penyimpangan yang dilakukan pelajar.
"Jika busway ini berhasil terwujud, anak-anak akan lebih terarah, orangtua dapat mengontrol jam berapa mereka pulang dan pergi mengikuti jadwal," terangnya.

BRT akan standbay di beberapa titik sekolah, dan ini harus dimanfaatkan bagi orangtua maupun pelajar itu sendiri. Apalagi, sarana transportasi ini dinilai lebih mudah dijangkau bagi para pelajar.
"Ini juga akan berpengaruh pada aspek ekonomi. Orangtua tidak perlu membelikan kendaraaan untuk anaknya ke sekolah," jelasnya.

Untuk itu, Pemkot Pontianak diharap fokus terhadap penerapan BRT. Jika Dishubkominfo berhasil menerapkan ini, aset tersebut sebaiknya digunakan sesuai peruntukan. "Dishubkominfo harus serius, tidak ada olok-olok lagi," tukasnya.

Tiga Rute Trayek

Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI pada 2015 lalu telah memesan 1.000 unit BRT atau Busway untuk didistribusikan pada 33 provinsi di Indonesia.

Pemkot Pontianak sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, sebelumnya telah mengusulkan sebanyak 30 unit kepada Kemenhub. Angkutan umum atau angkutan pelajar ini akan diserahkan jika Pemkot memenuhi berbagai syarat.


Berbagai persiapan untuk menuhi syarat pun dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. Mulai dari menyiapkan infrastruktur seperti pelebaran jalan-jalan protokol, menyusun Detail Engineering Design (DED) rute jalur, pembuatan halte, hingga landasan hukum terkait tatanan transportasi lokal (Tatralok).

Dalam operasionalnya, BRT memang tidak dapat berhenti di sembarang tempat, sehingga Pemkot telah menyiapkan tiga rute BRT trayek. Rute trayek ini melewati dua daerah, yakni Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. 

  
Rute pertama dari Terminal Sungai Ambawang menuju Jalan Alianyang,, lalu ke Jalan Adisucipto menuju Jalan Imam Bonjol. Kemudian ke Jalan Tanjungpura dan Jalan Rahadi Usman, lalu ke Jalan Pak Kasih dan Jalan Pelabuhan Pontianak. Adapun tarikan penumpang dari Shelter Damri, Shelter Bus Borneo, Pasar Flamboyan, Pasar Tengah dan Pelabuhan Pontianak.

Rute kedua dari Terminal Sungai Ambawang menuju Jalan Alianyang (kbr), lalu ke Jalan Arteri Supadio menuju Jalan Ahmad Yani. Kemudian ke Jalan Sultan Abduraihman menuju Jalan Sultan Syahrir, lalu ke Rumah Radakng. Adapun tarikan penumpang dari Untan, Megamall, SD/SMP AL Azhar, Sekolah Terpadu, Mujahidin, SD/SMP Muhammadiyah, MAN2, LKIA, SMKN5, SDS Bruder Nusa Indah, SMA Santo Petrus, SMA Negeri 1, SMP Negeri 3, dan SMP Negeri 2.

Rute ketiga Terminal Sungai Ambawang menuju Jalan Alianyang (kbr), lalu ke Jalan Trans Kalimantan menuju Jalan Ya’M Sabran. Kemudian ke Jalan Sultan Hamid II menuju Jalan Situt Mahmud, lalu ke Jalan Khatulistiwa dan Terminal Batu Layang.

Tarikan penumpang dari Pasar Puring, Tugu Khatulistiwa, SMP Negeri 7, SMP Negeri 20, SMK Negeri 2, SMA Negeri 5, SMP Negeri 15, SMP/SMA Maranata, SMP/SMA Abdi Agape dan SMP/SMA Fransiskus Asisi. Untuk setiap satu rute direncanakan 10 unit BRT. Jam operasional juga direncanakan berlangsung selama 24 jam, menyesuaikan kendaran umum lain yang berada di terminal. (bls/ind)