Langganan SP 2

Menatap Matahari di Kota Pontianak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 701

Menatap Matahari di Kota Pontianak
Sejumlah pengunjung mendokumentasikan detik-detik fenomena alam 'titik kulminasi matahari' melalui cambell stokes, berupa bola kaca yang menangkap titik sinar matahari utuh, di Kota Pontianak, Kamis (22/9). SUARA PEMRED/YODI RISMANA
Tiga tribun disesaki pengunjung Khatulistiwa Park, Tugu Khatulistiwa, Pontianak Utara, Kamis (22/9) siang. Semua menatap lurus ke depan, melihat sebuah robot berpakaian Baju Kurung warna darah bergerak di lintasan. Robot itu berhenti di depan meja kecil, lantas tangannya berputar dan menekan sebuah tombol. Lengking terdengar, tanda kulminasi dimulai.

Taufik Gasing segera unjuk kebolehan. Dua garing besarnya diputar hanya dengan tangan. Beralas keramik dan piring besar. Tak ada bayangan yang condong ke kiri atau ke kanan. Bayangan gasing tegak lurus bentuk putaran.

Bahkan pada sebuah Tugu Khatulistiwa mungil yang berdiri di antara dua gasing, bayangannya hilang. Konon kala itu, matahari berada tepat di titik 0 derajat. Ada tepat di atas kepala.

Staf fungsional Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Pontianak, Nata Miharja menjelaskan, kulminasi adalah bagian dari gerak semu tahunan matahari. Seolah-olah matahari beredar atau menempatkan dirinya di bumi pada garis nol derajat lintang utara dan lintang selatan.

“Khusus Kota Pontianak berada di bujur 109 derajat 19 menit dan 18 detik,” jabarnya.

Kota Pontianak dengan keberadaanya di garis khatulistiwa mendapat kehormatan alam untuk bisa menyaksikan kejadian langka dua kali dalam setahun itu. Kulminasi pertama di 22-24 Maret dan kedua, 22-24 September. Puncak kulminasi pun sebenarnya ada pada tanggal 23 September.

Saat matahari tepat berada di garis khatulistiwa. “Jadi persoalan di sini adalah mungkin perlu dibangun satu fasilitas pengamatan sains antariksa untuk mengamati matahari. Karena mengapa? Beda dengan negera lain, akan sangat susah mencari titik pengamatan yang benar-benar ideal. Jika di Pontianak sudah benar-benar tersedia, ada Tugu Khatulistiwa,” tambahnya.

Kulminasi agaknya tak terlalu mempengaruhi suhu udara. Masyarakat kota sudah terbiasa dengan suhu di atas 30 derajat. Siang tadi udara memang meningkat hingga 32 derajat. Panas bedengkang, biasa warga Pontianak menyebutnya.  

“Curah hujan bisa menjadi tinggi, nanti kita akan merasakan curah hujan tinggi karena September sampai April itu memasuki musim penghujan,” ujarnya menjelaskan dampak terlintasnya garis khatulistiwa di Pontianak.

Sebenarnya tak hanya Pontianak, Sumatera Barat pun memiliki lokasi titik nol. Hanya saja untuk ke sana perlu waktu kurang lebih satu jam dari Kota Padang. Demikian pula di Kalimantan Barat, di Kabupaten Sekadau ada titik itu. Namun lokasinya terpencil.

Perihal warga yang kerap mencoba mendirikan telur untuk mencoba melihat kulminasi, Nata menjelaskan hingga kini belum ada kajian ilmiah tentang hal itu. Belum ada pembenaran bahwa ada efek daya tarik bumi terhadap material di garis khatulistiwa.

“Di Lapan belum ada, bisa jadi itu dari faktor lain bukan dari daya tariknya, belum ada penelitian di sana. Mungkin ini bukan ilmiah, tinggal bagaimana orang mengamati ada tidak pengaruh magnet ini,” jabarnya.

Menurutnya, pengaruh daya tarik magnet hanya ada pada benda logam. Sementara telur bukan merupakan benda logam. Perumpamaannya bisa dilihat pada jarum kompas, bila berada di garis khatulistiwa, harusnya bergeser.

“Kami dari Lapan tidak bisa memberikan penjelasan atau kepastian ada pengaruh daya tarik dari material non logam,” tutupnya.

Titik kulminasi merupakan agenda tahun Pemerintah Kota di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

Kadisbudpar Pontianak, Hilfira Hamid menjelaskan kali ini sengaja kulminasi difokuskan pada edukasi. Hasil karya pelajar dan mahasiswa ditampilkan. Ada pula parade hewan dari komunitas.

“Ke depan kami berharap di Tugu Khatulistiwa ini menjadi ajang menggali ilmu yang berkaitan dengan fenomena kluminasi. Kota Pontianak masuk 20 kota Wonderful Indonesia dalam bidang sustainable development,” paparnya.

Tahun ini Disbudpar mengangkat tema Menatap Matahari, Mendapat Kulminasi di Kota Smart City. Dengan maksud bagaimana Kota Pontianak yang berkonsep Smart City bisa makin mentereng dengan adanya kulminasi.

Menarik perhatian orang untuk belajar dan berkunjung ke Pontianak. “Dari kemarin banyak turis berdatangan, hanya kita belum tahu persis angkanya,” tutupnya. (kristiawan balasa/ind/sut)