Siswa asal Pontianak Berhak Wakili Indonesia dalam WRE di Manila, Filipina

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1698

Siswa asal Pontianak Berhak Wakili Indonesia dalam WRE di Manila, Filipina
Tim siswa SMKN 4 Pontianak foto bersama usai menerima trofi, lomba Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) 2016 di Puspiptek Serpong, Tangerang 7-8 Oktober 2016 lalu. (ist)
PONTIANAK, SP- Dua siswa asal Pontianak, Alifian Pebriansyah dan Yuditha Chilva berprestasi di kancah nasional. Alifian siswa SMKN 4 Pontianak berhasil meraih Juara II, sementara Yuditha, siswi SMPN 1 berada di posisi V, dalam Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) 2016 kelas usia 12-16 tahun di Puspiptek Serpong Tangerang 7-8 Oktober 2016.  

Keduanya mengalahkan 108 peserta dan berhak mewakili Indonesia dalam Water Rocket Event (WRE) di Manila, Filipina 12-13 November mendatang. Bertanding melawan 18 negara se-Asia Pasific.  

Meiti Rosilawati, guru pembimbing Alifian sempat pening. Pasalnya, apa yang mereka persiapkan di Pontianak berubah total di arena tanding.   Informasi awal yang diterima, kompetisi roket akan menggunakan metode peluncur kabel ties dengan jarak 70 meter.

Namun sesampainya di sana, ternyata memakai metode Noozel. Tim memutar otak. Meiti dan Alifian belum pernah sama sekali menggunakan metode itu. Beda dengan tim SMPN 1 yang sudah pernah mencoba.   Hamzi Maulidi siswa jurusan teknik kimia, teman satu tim Alifian mencoba pertama kali. Tekanan yang didapat hanya 55 pascal.

Dalam dua kali kesempatan yang diberikan panitia, ia hanya mampu berada di urutan ke 17. Perhitungan meleset.   “Sewaktu Alifian coba. Strategi diganti. Ternyata keputusan itu betul, dapat tekanan 70 dengan sudut 35, itu geser 1,04 meter dari target,” ujar Meiti saat dihubungi Suara Pemred, kemarin.  

Alhasil, siswa jurusan teknik pendingin dan tata udara itu mampu bercokol di urutan terbaik kedua. Apa yang dicapai Alifian, selain karena kerja keras, juga sedikit berbau keberuntungan.   Alifian belajar dari nol dalam merakit roket. Ia masih berada di kelas VII dan baru beberapa bulan sekolah ketika mengikuti Kompetisi Roket Air yang diselenggarakan UPTD Iptek dan Bahasa Pontianak.

Posisi ketiga berhasil direbut.   Keberuntungan, mulai bermain. Untuk ikut tingkat nasional hanya juara pertama dan kedua yang berhak mewakili. Dengan syarat peserta harus berusia 12-16 tahun. Nasib baik. Siswa yang berada di posisi kedua, tak bisa memenuhi syarat itu lantaran telah lewat dari batas maksimal. Alifian pun melanggeng membawa nama Pontianak.  

“Semua peserta, 108 orang, perwakilan dari 12 Sains Center atau di Pontianak namanya UPTD Iptek dan Bahasa yang berpusat di PCC. 12 UPTD itu se Indonesia,” terang Meiti.  

Alifian tampaknya butuh keberuntungan berikutnya. Sebab, dari juara pertama hingga keenam yang berhak mewakili Indonesia di ajang internasional, hanya juara satu saja yang dibiayai keberangkatannya ke Manila, Filipina. Sisanya harus menggunakan dana pribadi.  

“Tadi pulang dari bandara, dari UPTD dan Kepala SMPN 1 menghadap ke dinas untuk mengusahakan agar siswa yang juara bisa berangkat. Katanya mau diusahakan, dua orang siswa ini akan ditanggung tiketnya. Kalau gurunya belum tahu,” tambah Meiti.  

Dihubungi terpisah, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan akan mengupayakan keberangkatan dua anak berprestasi Pontianak ini ke Manila.

Menurutnya Pontianak bangga akan prestasi yang diraih keduanya. Sutarmidji berharap ini bisa memotivasi anak Pontianak lain.   “Karena ini membawa nama Indonesia, maka kita juga akan berkoordinasi dengan Kemendikbud. Tapi intinya saya akan semaksimal mungkin berupaya agar mereka bisa berangkat,” jawab Sutarmidji saat dihubungi lewat pesan singkat.  

Jika sudah keluar negeri, Sutarmidji menambahkan, biasanya Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi juga akan campur tangan. Semoga nasib baik kembali berpihak pada Alifian Pebriansyah dan Yuditha Chilva.

Mereka sudah bekerja keras membuat Pontianak Bangge. Sebagaimana tagline Hari Jadi Kota Pontianak ke 245 pada Oktober ini. (bls/sut)