Kelenteng Tiga di Kota Pontianak Simbol Sakral Tionghoa

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1258

Kelenteng Tiga di Kota Pontianak Simbol Sakral Tionghoa
Vihara Bodhisatva Karaniya Metta, di kawasan Pasar Kapuas Besar, Kota Pontianak, Kalbar. (SUARA PEMRED/ YODI)
Warna merahnya menyala terang. Tentu menyita perhatian siapa saja yang melintas bangunan dianggap suci oleh masyarakat Tionghoa,  Kota Pontianak. Tiga gapura didesain serupa pagoda menghadap persis pintu masuk altar suci. Di pintu tengahnya, menggantung sebuah plang besar, menyatakan bangunan itu adalah cagar budaya Kota Pontianak.  

Di plang tersebut terukir kalimat ‘Berdiri Sejak Tahun 1829 Masehi’. Pemerintah Kota Pontianak pun menetapkan sebagai warisan budaya yang patut dilestarikan.   Adalah Vihara Bodhisatva Karaniya Metta. Warnanya yang mencolok serta wangi khas stanggi mengukuhkan, bahwa bangunan ini memang berbeda dari bangunan lain di sekitarnya.

 Bangunan juga akrab disebut Kelenteng Tiga, atau Thian Hou Keng.   “Ini pot sembahyang pertama di Pontianak,” ujar pengurus vihara, Gunawan Sarjono.  

Senyum dibibirnya pagi itu, melengkung bak pelangi. Dia amat senang mengisahkan peradaban ajaran masyarakat Tionghoa di Pontianak, serta cerita tentang pot berbentuk segi panjang berwarna merah dengan tulisan Thie Tie Pe Bo pada bagian atasnya tersebut.
Letaknya, di tengah halaman depan.

Tepat di belakangnya, sebuah pohon beringin gundul seakan menopang.   “Karena tidak bisa diangkat, mungkin akar beringin sudah melilitnya kuat, jadi sewaktu pemugaran, pot sembahyang yang lebih besar diletakkan di atasnya,” ucapnya.  
Lupakan sejenak pot sembahyang yang usianya berabad itu. Jika melihat jauh ke depan, sungai Kapuas akan menyapamu tenang. Sementara di kanan dan kiri, pot sembahyang dan sebuah botol arak khas Tiongkok berukuran besar, tak boleh dilewatkan.  

Lukisan dewa-dewa juga tampak terpaku di pintu-pintu. Kemudian lukisan pada dinding. Pegunungan, anak-anak yang riang dengan mainan, hingga naga-naga gagah nan indah.  

“Tahun 1906, semuanya masih papan. Baru tahun 1990, direnovai jadi semen, termasuk lantai,” jelas Gunawan, sembari mengantarkan berkeliling di dalam.  

Merah yang melambangkan antusiasme, semangat dan keberuntungan, kembali menyelimuti segala yang ada di dalam. Bahkan, lilin-lilin berukuran kecil hingga sebesar orang dewasa pun berwarna sama. Tiang-tiangnya, sewarna emas. Dinding dan altar sembahyang, dihiasi patung serta lukisan sarat makna, ikhwal filosofi ajaran kehidupan.  

Ada beberapa bagian dalam vihara yang memiliki makna serta sejarahnya luar biasa. Pot Sembahyang Dewa Langit Bumi, konon bertarikh tahun 1673 M, yakni masa di Mancuria bertahta Raja Khan Hi (1662-1722).

Pula Lonceng Tua Pek Kong, yang dibawa tahun 1789, masa kekuasaan Raja Khen Long (1736-1796).   “Yang tengah, altar Dewi Samudera, bagi mereka yang meminta peruntungan di laut. Di kanan ini, Tua Pek Kong, biasa yang datang para pedagang, pengusaha, juga pejabat, di wilayah darat. Ujung kiri, Putra Raha Naca, peruntungan langit, termasuk juga jika mau minta hujan,” terang Gunawan, menjelaskan tiga tempat sembahyang yang menghadap pintu depan.  

Tiga altar itulah yang membuat vihara ini kerap disebut Kelenteng Tiga. Dewi Samudera, Tua Pek Kong, dan Putra Raha Naca mulai dipindah ke vihara ini tahun 1906.

Sejak 1983, Yayasan Bodhisatva Karaniya Metta dibentuk untuk menjaga dan menjalankan vihara ini.   Bangunan ini, juga dipenuhi lampion merah bermacam ukuran seakan untaian manik langit, akan buatmu takjub. Mereka yang tersihir merah itu, tak hanya dari kota Pontianak, namun juga dari luar daerah.  

Tidak juga khusus bagi mereka yang ingin sembahyang, terutama di tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek. Mereka yang ingin berpelesir pun dibukakan pintu lebar.   Jika jalan-jalan ke areal Kapuas Besar, kawasan pasar Parit Besar, Jalan Sultan Muhamad, Pontianak, jangan salahkan waktu bila kepala ini terpaku pada merah yang memesona itu. (kristiawan balasa/and/sut)

Komentar