Selawat Kebangsaan Habib Syeikh di Masjid Raya Mujahidin, Pontianak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 980

Selawat Kebangsaan Habib Syeikh di Masjid Raya Mujahidin, Pontianak
Suasana Pontianak Bershalawat bersama Habib Syeikh bin Abdul Qadir Assegaf, di halaman Masjid Raya Mujahiddin, Kota Pontianak, Senin (24/10) malam. (ist)
Halaman Masjid Raya Mujahidin Kota Pontianak, dipenuhi ribuan umat Muslim dari berbagai pelosok daerah di Kalimantan Barat. Mereka rela berdesak-desakan, duduk  beralaskan koran dan tikar seadanya, untuk mengikuti acara Pontianak Berselawat bersama Habib Syeikh bin Abdul Qadir Assegaf, dalam rangka peringatan Hari Jadi Kota Pontianak ke-245, Senin (24/10) malam.

Kendati malam itu atap bumi meneteskan air ke kaki langit, antusias jemaah seolah tak pudar demi menyaksikan ulama kondang asal Kota Semarang, Habib Syeikh, yang terkenal dengan syiar Islam melalui lantunan selawat.
Berbagai kalangan turut hadir dalam kegiatan keagamaan yang dimulai setelah salat Isya itu.

Dari ulama, pejabat, santri hingga warga yang berasal dari luar Kalbar pun rela datang. "Kami dari Singkawang satu rombongan. Ada yang pake mobil, pake motor ada belasan," kata Ketua Rombongan Jemaah Singkawang, Sahid, kepada Suara Pemred.

Seolah tak mau melewatkan siraman rohani dari Habib Syeikh, salah seorang jemaah lainnya, Suharno ternyata sebelum ke Pontianak, juga hadir di pengajian dan selawat di Samarinda, Kaliman Timur.

“Ya, saya datang ke Pontianak ini untuk menghadiri kegiatan Habib, karena saya memang senang dengan acara beliau," ujar Suharno, anggota Syeikher Mania asal Solo, Jawa Tengah.


Seperti acara selawat di daerah lainnya, Habib Syeikh seringkali membawakan syair selawat yang berbeda dari pada umumnya. Jika biasanya kental dengan puji-pujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, Habib Syeikh mengkreasikannya dengan unsur nilai-nilai kebangsaan.


"Yang kita tahu, perbedaan selawat Habib Syeikh dengan selawat ulama atau habib lainnya, Habib Syeikh senang menambahkan nilai-nilai kebangsaan," terang Suharno.

Kegiatan ini, juga menggugah jemaah dari Pulau Jawa. Marno (20), yang merupakan anggota Barisan Serba Guna (Banser) Gerakan Pemuda Ansor PAC Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Timur.


"Sekitar 20 orang kami ke sini, pake pesawat," ujarnya.


Dia sengaja datang selain menghadiri kegiatan selawat, sekaligus untuk berjualan. "Jualan bakso mas," tuturnya.


Tatkala syair 'Sholatun Bissalamil Mubin' dilantunkan Habib Syeikh dengan menambahkan syair-syair kebangsaan, seketika jemaah pun ikut bers
elawat.
Tidak cuma di Jawa, ternyata jemaah di Kalbar banyak yang mengidolakan Habib Syeikh.

Terbukti, jemaah larut dalam lantunan selawat sembari mengikuti syair-syair yang dikumandangkan Habib Syeikh.
Kegiatan terlihat sangat semarak. Tidak cuma lantunan selawat menggema dari lisan para jemaah, simbol-simbol seperti spanduk dan bendera berkibar di tengah keindahan suara dan kekhusyukan Habib Syeikh melantunkan selawat.

Seperti lantunan 'Asma Allah SWT' dan 'Nabi Muhammad SAW' yang dikumandangkan dengan diiringi tetabuhan hadrah, syairnya penuh dengan unsur nasionalisme.

"Indonesia negara kami. Indonesia kebanggaan kami. Merah putih bendera kami. NKRI harga mati," lantunan syair lagu dari Habib yang diikuti seluruh jemaah sambil mengibarkan bendera dan lampu hias.

Dari setiap lantunannya, kebanyakan syairnya menggunakan bahasa Arab dan Jawa.
Namun sepertinya bukan persoalan bagi jemaah yang mungkin tidak mengerti isi dari syair. Buktinya, jemaah hafal selawat demi selawat yang digemakan tersebut.

Di akhir Pontianak Berselawat, Habib Syeikh mengatakan bahwa pentingnya menjaga kedaulatan NKRI.
Menurutnya, agar bangsa ini tetap diberikan berkah dan rahmat dari Allah SWT, maka perbanyaklah berselawat.

Dia juga mengimbau, supaya umat Islam tidak mudah terpecah belah. Jangan karena politik, setiap orang menjadi bermusuhan.


"Jauhkan politik dari majelis ini, hindari provokasi-provokasi politik. Kita gemakan saja selawat. Insyaallah, bangsa Indonesia diberikan berkah oleh Allah SWT," katanya di hadapan ribuan jemaah. (umar/and/sut)