Bedah Buku Bersama Bernard Batubara, Membaca Metafora Padma, Membaca Kita

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 957

Bedah Buku Bersama Bernard Batubara, Membaca Metafora Padma, Membaca Kita
Bernard Batubara, penulis Nasional, pada acara bedah buku Metafora Padma di Kalbar Book Fair, Rumah Radakng, kemarin. (SUARA PEMRED/ BALASA)
“Kamu harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas.”  

Begitulah Bernard Batubara, penulis Nasional asal Mempawah membuka cerita perkenalan, acara bedah buku Metafora Padma di Kalbar Book Fair, Rumah Radangk, kemarin.
 

Cerita pendek pertama dari 14 cerita di buku terbarunya Metafora Padma. Pembuka yang langsung menghentak dari tema konflik antar suku Dayak-Madura tahun 1997 di Kalbar.   Kekerasan horizontal itu, nyatanya bukan tentang dua suku. Tapi tentang dua kelompok, yang bisa juga terjadi sekarang ini.  

“Konflik identitas tidak hanya terjadi pada tataran suku, tapi juga agama. Kita sekarang sering melihat konflik itu, ada masjid dibakar, disebut yang membakar dari agama lain. Juga sebaliknya. Ketika benci sesuatu kita merasa tidak perlu mencari tahu yang lain, itu yang membuat dunia tidak lebih baik,” ucapnya.  

Kecemasan mencari identitas dan rindu kampung halaman menelurkan karya ke-9. Penulis kelahiran Anjungan, Kalbar ini memiliki darah Batak dari Ayah dan Melayu dari Ibu.  

Kini ia menetap di Yogjakarta. Sebagai putra Kalbar, ia sudah jarang bertutur Melayu. Hal itu membuatnya bingung, “siapa aku?” Praktis hanya dua hal yang lekat dengannya; orang Indonesia dan beragama Islam sebagaimana diturunkan dari orangtua.  

Sembilan tahun menetap di tanah orang membuatnya merasa hilang kedekatan dengan tanah kelahiran. Semua pertanyaan itu mengganggu dirinya usai mengikuti Makassar International Writers Festival beberapa tahun lalu.  

“Saya bertemu dengan penulis Indonesia Timur dengan karya yang sarat lokalitas. Ketika itu, saya jadi merasa tidak punya identitas. Saya tinggal di keluarga Melayu dan Batak, tapi tidak bersentuhan langsung dengan budaya lokal. Lama kelamaan, identitas mula jadi terkikis dan itu tercermin dari karya,” tambahnya.  

Baru di Novel Cinta. Dan Jika Aku Milikmu yang turut memasukkan latar kampung halaman. Dari periode 2013-2014 itulah ia mulai menggali memori masa kecil.   Mencari remah kenangan Anjungan, teman sepermainan dan semua potongan ketika SD. Memilah cerita masa kecil mana yang bisa ia kisahkan.  

“Ada lubang yang hilang, apakah itu sengaja atau tidak, saya tidak tahu. Ketika membaca karya Indonesia Timur, jadi bertanya apa akar saya sebenarnya,” ucapnya.    

Salah satu memori paling kuat yang ia ingat, adalah ketika bersentuhan dengan ketakutan konflik 1997. Potongan memori itu ditulisnya dalam cerpen Demarkasi.   Pengalaman kecilnya sepulang sekolah, ketika semua jadi sepi dan di rumahnya dipenuhi tetangga kampung sebelah.

 Ayahnya dengan seragam polisi pulang membawa paket sembako yang lantas dibagikan pada semua.     “Saya versi kecil tidak memaknai apa sebenarnya, ternyata konflik sedang terjadi. Ternyata konflik berlangsung 1950-2001 dengan puncak di Sampit. Anjungan cuma bagian kecil. Dari itu dicari akar penyebab mengapa perang begitu lama, usaha itu yang lantas dituangkan dalam cerita berbagai sudut,” ungkap Bernard.  

Riset ia lakukan. Mulai dari membaca artikel di internet, video Youtube, mewawancara teman dari berbagai suku yang terlibat, juga studi pustaka. Salah satu buku yang disebutnya paling membantu adalah Zaman Edan tulisan Richard Llyod Parry. Seorang jurnalis luar negeri yang meliput konflik di Indonesia. Tidak terkecuali di Kalimantan.

Dari sana ia mendapat visual jelas perihal keributan yang terjadi. Semua usaha itu dilakukan penulis yang akrab disapa Bara, untuk mengumpulkan semua sudut pandang.  

“Yang bikin lama, riset dan menentukan di mana saya berdiri dalam konteks ini. Ketika menulis cerpen antar etnis, saya berdiri di sudut pandang orang Madura, Dayak atau orang di luar itu. 
Saya bukan orang Dayak, bukan orang Madura. Saya orang Batak Melayu yang tinggal di antara mereka. Akhirnya ambil jadi diri sendiri,” sebutnya.
 

Identitas perihal agama juga ia tulis di cerpen Solilokui Natalia. Seorang gadis muslim yang kerap disangka Kristen karena namanya. Bercerita tentang bagaimana dia mencari tahu tentang stigma dan kecurigaan antar agama. Dengan membaca kitab agama lain, bukan berarti kita lantas menjadi penganut agama itu.

Kegamangan macam itu terjabar detail dalam kisah ini. “Konflik antar kelompok, adalah ketidakterbukaan kita pada dialog. Saling benci. Dan punya dugaan yang tidak pernah ingin dibuktikan. Kita tidak mau dialog, padahal perbedaan mudah diasah sebagai konflik,” pesannya.  

Kebanyakan dari kita sudah mencap orang lain dengan berbagai tuduhan meski belum kenal. Tuduhan dan stigma itu lantas jadi dendam.

Seperti dalam cerpen yang jadi judul, Metafora Padma. Filosofi padma, sejenis bunga suci mirip teratai yang tumbuh di lumpur. Dendam tak akan membunuh siapapun, kecuali diri sendiri.  

“Kita hidup dalam kehidupan dengan stigma dan dugaan masing-masing. Perbedaan tidak membuat kita makin harmonis, tapi benci diam-diam. Saya menulis bukan untuk memberitahu mana benar mana salah. Tapi apa yang dicemaskan, apa yang ditakutkan. Berharap kecemasan itu jadi kecemasan bersama dan dibicarakan,” tutupnya. (kristiawan balasa
/loh/sut)