Penulis Puisi Film AADC 2 Ramaikan KBF 2016 di Pontianak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 988

Penulis Puisi Film AADC 2 Ramaikan KBF 2016 di Pontianak
Aan Masnyur sedang menebar virus belajar menulis puisi pada bedah buku 'Tidak Ada New York Hari Ini' di Rumah Radankng Pontianak, Jumat (28/10). (SP/NANA ARIANTO)
Ratusan anak muda Kota Pontianak tampak antusias menghadiri bedah buku "Tidak Ada New York Hari Ini" di Aula Rumah Radakng Pontianak, Jumat (28/10). Buku kumpulan puisi, karya Aan Mansyur ini banjir pertanyaan.

Peserta penasaran isi pesan puisi untuk film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) II ini.   
Kehadiran Aan Masnyur di Kota Pontianak, tak lain, menghadiri undangan dari  panitia Kalbar Book Fair (KBF). Panitia ingin memuaskan hasrat para pengemar buku di Kalbar. Caranya, dengan mendatangkan langsung penulis  Aan Mansyur.

Bagi penggemar film AADC II. Puisi karya Aan adalah yang diucapkan oleh Rangga. Tokoh utama, yang diperankan oleh Nikolas Saputra.
Pertemuan berlangsung satu jam lebih ini, Aan memberikan masukan. "Untuk menulis puisi itu tidak mudah," katanya.

Penulis harus melakukan riset dari objek tema yang akan diangkat. Contohnya ada pada film AADC II. Aan harus berulang kali menonton film  ini. Satu persatu karakter tokoh pemeran film ini dipelajari.
Tidak cukup sampai di sini. Aan juga harus membaca banyak buku tentang New York.

Hal ini dilakukan, mengingat kota ini adalah kota yang ditempati oleh tokoh Rangga. "Saya harus membaca buku tentang Imigran di New York. Saya juga ahrus baca buku tokoh-tokoh sastrawan yang digemari Rangga," tutur Aan.

Karena, bagi Aan, menulis puisi adalah seni berpikir dan bukan seni untuk merangkai kata-kata, seperti yang dipahami kebanyakan orang selama ini. Karena menulis, bagi Aan ibarat seseorang melakukan hal yang dibenci, tetapi mengerjakan hal yang dicintai. Karena yang pasti, hal pertama yang harus diterima seorang penulis adalah gagal.

"Tidak ada penulis yang langsung berhasil," katanya.

Ia juga berpesan, bila  ingin kaya jangan jadi penulis. Sebab jadi penulis itu tulisannya terbit duluan dan bayarnya belakangan. "Udah gitu cuma dapat sepuluh persen dari penjualan plus dipotong pajak lagi," katanya.


Meski begitu, Aan merasa puas. Sebab ia berhasil merubah sudut pandang kalangan muda terhadap puisi. Buktinya buku "Tidak Ada New York Hari Ini" pernah dicetak delapan kali dalam dua bulan dan itu belum pernah terjadi pada dunia kepenulisan puisi di Indonesia.

Selain buku tersebut Aan juga pernah menulis buku "Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Cinta Yang Marah (2009), Tokoh-Tokoh Yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012), Kepalaku; Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014) dan Melihat Api Bekerja (2015). (nana arianto/loh/sut)