Inilah Isi Seruan Semangat Perdamaian Ormas Lintas Etnis di Kalbar

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1000

Inilah Isi Seruan Semangat Perdamaian Ormas Lintas Etnis di Kalbar
DAMAI- Sebagian penandatangan seruan damai ormas lintas etnis di Kalimantan Barat. (SP/Aju)
PONTIANAK, SP – Tokoh Organisasi Massa (Ormas) lintas etnis di Provinsi Kalimantan Barat, mengeluarkan seruan semangat perdamaian, agar tercipta ketenangan dan keharmonisan antar umat, di Kota Pontianak, Jumat (18/11)

Seruan ini menanggapi aksi pengeboman di Gereja Oikumene  Kristen Huria Kristen Batak Protestan Samarinda (HKBP) pada Minggu (13/11) lalu  dan demonstrasi jutaan umat Islam terhadap Gubernur DKI  Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Jumat (4/11).  Ahok dinilai telah melakukan penistaan terhadap Agama Islam. Ahok sudah ditetapkan tersangka oleh Polri terhitung Rabu, 16 November 2016.

Pembacaan seruan perdamaian disaksikan Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Iwan Imam Susilo. Para penandatangan, yakni, Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Yakobus Kumis, kemudian Chairil Effendy (Ketua Majelis Adat dan Budaya Melayu Kalimantan Barat).

Turut pula menandatangani Rihat Natsir Silalahi (Ketua Kerukunan Masyarakat Batak Kalimantan Barat), Sadimo Yitno Poerbowo (Ketua Kerukunan Masyarakat Jawa Kalimantan Barat). Tampak pula hadir Sukiryanto (Ikatan Keluarga Besar Masyarakat Madura Kalimantan Barat), Tjioe Kui Sim (Ketua Yayasan Bhakti Suci), Andi Bachrun (Ketua Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Sulawesi Kalimantan Barat), Agustinus Naban (Ketua Flobamora Kalimantan Barat).  

Seruan mencakup 7 poin. Pertama, menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan persatuan. Kedua, mengedepankan sikap kebersamaan, saling menghargai, dan saling toleransi antara sesama warga Kalimantan Barat. Ketiga, memahami dan menyadari bahwa pluralisme adalah kodrati dari Tuhan Yang Maha Esa, karena itu harus disyukuri, bukan untuk dipertentangkan. Keempat, mengecam segala bentuk tindakan yang ingin memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Kelima, sangat menyesalkan segala bentuk kejadian pengeboman yang terjadi khusus di Gereja Kristen Oikumene HKBP dan meminta kepada pemerintah dan penegak hukum untuk sedini mungkin mengantisipasi segala bentuk tindakan teror yang dapat meresahkan masyarakat.

Keenam, menghimbau semua pihak agar mengedepankan etika, moral dan intelektual dalam menyampaikan pernyataan, aspirasi dan sereuan khususnya yang berkaitan dengan kaidah agama, sehingga tidak menimbulkan ketersinggungan kepada pihak-pihak lain dan tidak keluar dari koridor hukum yang berlaku di Indonesia.

Ketujuh, meminta kepada semua pihak untuk tidak membuat statemen atau seruan yang bersifaf provokatif dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat dimana situasi Kalimantan Barat saat ini sudah cukup harmonis, aman, damai dan kondusif. (aju)