Rabu, 23 Oktober 2019


Film tentang Penyair Wiji Thukul, “Istirahatlah Kata-Kata”

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1366
Film tentang Penyair Wiji Thukul, “Istirahatlah Kata-Kata”

FOTO BERSAMA- Kru dan pemain film "Istirahatlah Kata-Kata" berfoto bersama, saat pemutaran di Bioskop XXI Ayani Mega Mall, Kamis (19/1) lalu. (SP/ Nova)

Ajang Promosi Kenalkan Kota Pontianak 

Film "Istirahatlah Kata-kata" yang mengangkat kisah sosok Wiji Thukul, seorang penyair yang dikenal lantang meneriakkan ketidakadilan melalui panggung demonstrasi, mampu menyedot perhatian warga Kota Pontianak, lantaran lokasi syuting diambil di Kalbar.

Kepala Dinas Pariwisata Kalbar, Kartius mengapresiasi pemutaran perdana film "Istirahatlah Kata-kata" di  XXI Ayani Mega Mall, Kamis (19/1) lalu.
Hari itu, selain Kartius, sejumlah pegiat film di Kalbar, kepala daerah, anggota DPR, dan pengamat pendidikan ikut Nonton Bareng (Nonbar) bersama sang sutradara, Yosep Anggi Noen.

Para penonton dibuat decak kagum, karena film ini mampu menyoroti kisah hidup Wiji Thukul saat masa pelariannya di Pontianak pada 1996.

Wiji Thukul adalah aktivis hak asasi manusia sekaligus penyair. Karena puisi-puisi Thukul menyinggung pemerintahan saat itu, ia dikejar-kejar. Ia lari dari satu persembunyian ke persembunyian lain. Hingga sejak Mei 1998, ia hilang tak ada kabar. Dan hingga sekarang ini, kasus Thukul belum terungkap.

Itulah mengapa film Istirahat Kata-kata ini dibuat. Agar para generasi muda, tak lupa akan sejarah, merasakan perjuangan Thukul, sekaligus mendorong pihak berwajib untuk menyelesaikan kasus ini. "Demokrasi dan kemerdekaan yang kita rasakan sekarang ini enggak datang tiba-tiba, melainkan penuh pengorbanan, penuh kehilangan," kata Yosep Anggi Noen.

Film ini dibintangi Gunawan Muryanto sebagai Wiji Thukul dan Marrisa Anita sebagai Sipon, istri Wiji Thukul. Menurut Marissa Anita, film ini wajib ditonton oleh generasi muda saat ini. Baginya, ini adalah film spesial, karena dirinya bisa berkolaborasi bersama komunitas perfilman di Pontianak, Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta.


Produser film, Yulia Evina Bhara menyebutkan, film ini merupakan potensi yang besar untuk mengenalkan Pontianak, sebab hampir 80 persen pembuatannya dilakukan di Pontianak. Bahkan dengan pemutaran film perdana ini, justru bisa menjadi ajang  silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat lainnya.

"Jadi nonton bersama ini juga menjadi ajang pertemuan kita dengan elemen lainnya," katanya.

Kartius dalam sambutannya, usai Nonbar mengatakan, film ini dianggap mampu memberikan semangat bagi para komunitas film di Kalbar. "Kita apresiasi sekali. Anak-anak Kalbar ternyata memiliki kemampuan dari segi perfilman dan bisa berkolaborasi dengan tim film dari Jakarta," kata Kartius.

Terlebih saat ini kata Kartinus, Indonesia dalam kondisi sakit atas persoalan yang kerap terjadi. Dengan film yang ditayangkan sebagai inspirasi demokrasi dapat digali secara terus menerus. Bahkan ia mengatakan, saat ini  banyak yang menyakiti Indonesia, namun lebih banyak yang mencintai NKRI.  

Pengamat Pendidikan Kalbar, Aswandi mengatakan, film Istirahatlah Kata-Kata ini sangat bagus, dan perlu ditonton khususnya bagi mahasiswa dan anak muda. Sebab dalam cerita tersebut banyak pesan moral yang disampaikan.

"Misalnya dilarang berkata kata meskipun pembaca buku itu banyak, kemudian dari tontonan tadi menggambarkan idealisme," kata Aswandi.

Karena kemerdekaan adalah segala-galanya dan harus idealisme. Ini yang patut dicontoh dari  mahasiswa. Sebab saat ini banyak mahasiswa kehilangan idealisme.
"Jadi bagi mahasiswa bagus sekali menonton film ini," kata Aswandi. (nova/loh/lis)