Jurnalis Suara Pemred Raih Anugerah Sastra Litera 2017

Ponticity

Editor Kiwi Dibaca : 1169

Jurnalis Suara Pemred Raih Anugerah Sastra Litera 2017
kristiawan balasa jurnalis suara pemred
Cerita Pendek (Cerpen) dengab judul "Tiket Menuju Surga," karya Juralis Suara Pemred, Kristiawan Balasa, menjadi Cerpen terbaik pada Anugerah Sastra Litera 2017 digelar portal sastra kontemporer, litera.co.id. Penganugerahannya dilakukan di Resto Kampung Anggrek, Buaran, Serpong, Tengerang Selatan, Jumat (28/4).

“Awalnya saya cuma iseng kirim cerpen ke sana. Dulu memang suka kirim cerpen ke media-media,”cerita Kristiawan Balasa, Senin (1/5).

Cerpen dengan sudut pandang orang kedua itu ditulisnya usai pergantian tahun. Tepat di saat itu, dia patah hati. Emosinya lantas dituang dalam Cerpen.

“Inti ceritanya perempuan yang cemburu dengan penyair selingkuhannya. Puisi yang dibikin selalu tentang kesedihan. Akhirnya perempuan itu mau bahagia berdua,” ujar Balasa menceritakan ulang karyanya.

Cerpen karya Balasaini pun jadi pilihan juri dari 11 karya cerpenis lainnya yang telah diseleksi ulang dari puluhan cerpen yang dimuat portal tersebut selama 2016. Portal sastra di bawah Lembaga Literasi Indonesia yang dipimpin sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda ini, juga menobatkan Dedy Tri Riyadi sebagai penulis puisi terbaik.

“Masuk ya alhamdulilah, iseng berhadiah. Mikirnya cuma lumayan masuk buku kumpulan cerpen. Tapi rupanya jadi terbaik. Senang juga, bingung juga,” kata pemuda kelahiran 1992 ini.

Sebelum menekuni profesi jurnalis, Balasa mengenal dunia tulis-menulis lewat fiksi. Ia biasa mengirim Cerpen dan mengukur diri dengan mengirimkannya ke media. Wawan, sapaan akrabnya, mengatakan dia tak menyangka jika cerpennya dipilih jadi yang terbaik. Apalagi setelah melihat daftar nominasi, banyak cerpenis kawakan di sana.

Sewaktu diberitahu redaksi Pustaka Litera pada 30 Maret 2017, bahwa cerpennya masuk daftar 23 nama calon penerima untuk kategori cerpen dan puisi, dia hanya mengucap syukur dan tak berpikir duduk di podium.

Senang sudah tentu, tapi dia juga merasa beban. Maklum saja, sejak menekuni profesi jurnalis—setelah terinspirasi dari “Tetralogi Buru” Pramoedya Ananta Toer, hanya satu Cerpen yang berhasil dia rampungkan. Masih bingung bagi waktu untuk menulis cerita di antara rutinitas berita. Cerpen “Tiket Menuju Surga” sendiri dia bikin di awal  2015.


“Cerpennya ditulis 1 Januari 2015, dikirim awal 2016, dimuat Mei 2016. Sebelumnya juga pernah dikirim ke tempat lain, tapi tidak lolos kurasi. Sekarang baru ketemu jodohnya, malah dapat anugerah,” ucapnya sambil tersenyum

Ini merupakan kali kedua cerpennya jadi yang terbaik. Pada 2014, dia juga memenangi lomba Cerpen Nasional Lahat untuk Nusantara yang diadakan Wakil Bupati Lahat. Kala itu, cerpennya berjudul “Alo” bercerita tentang konflik sosial antar masyarakat adat dengan masuknya perusahaan sawit.

Dalam Anugerah Sastra Litera tersebut, selain memilih Kristiawan Balasa sebagai penulis yang terbaik, juri juga memberikan penghargaan pada Armin Bell, Dianing Widya, Ni Komang Ariani dan Zaenal Radar T sebagai penulis cerpen terpuji. Sementara di kategori puisi, selain menetapkan Dedy Tri Riyadi sebagai penulis puisi terbaik, nama-nama Eko Ragil Ar-Rahman, Iwan Setiawan, Rukmi Wisnu Wardani dan Surya Gemilang, masuk dalam daftar penulis puisi terpuji. (umar faruq/loh)