‘Demam’ Budidaya Kelulut di Batu Ampar

Ponticity

Editor Kiwi Dibaca : 1237

‘Demam’ Budidaya Kelulut di Batu Ampar
MASUK SARANG – Lebah kelulut masuk ke sarang buatan Pusat Belajar Madu Kelulut milik warga yang dibina Sampan Kalimantan di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya.
Madu kelulut bukan tak dikenal karena tak disayang. Melainkan keberadaannya di tengah hutan dan belum ada yang membudidayakan. Madu ini belum diolah telaten, sehingga kurang dibudidayakan.

Ditambah lagi, madu di tiap sarang yang sedikit, membuat harganya melangit. Per liternya dibanderol Rp210 ribu. Potensi ini yang kemudian dilihat warga Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya dan Sahabat Masyarat Pantai (Sampan) Kalimantan. Mengubah propolis kelulut yang dipandang sebelah mata, jadi tambahan luar biasa.

Di Kecamatan Batu Ampar, sudah 10 desa yang membudidayakan madu kelulut sejak empat bulan terakhir dengan pendampingan Sampan.

Satu di antaranya, Desa Tanjung Harapan yang memiliki lima kelompok Pusat Belajar Budidaya Kelulut. Lebah yang juga dikenal dengan nama klanceng dan teuweul ini diambil langsung dari alam, dan dipindah ke kotak budidaya.

“Kita cari (kelulut) dalam mangrove api-api, dibelah bawa ke sini (pusat budidaya), tapi harus tunggu sampai semua kelulut masuk,” cerita Ismail, satu di antara petani kelulut di Desa Tanjung Harapan.

Proses pemindahan ini tak bisa dibilang mudah. Walau hidup liar di hutan dan rawa, sarang kelulut cukup sulit ditemukan. Biasanya kelulut bikin sarang di batang kelapa, mangrove atau bambu. Ukuran lebah yang kecil, membuat sarang mereka pun tak besar. Hanya ada lubang kurang lebih berdiameter satu sentimeter untuk keluar masuk satu koloni.

“Kalau kita potong bagian sarangnya jam satu, jam lima atau enam baru bisa dibawa pulang. Kelulut aktif siang hari, biarkan mereka masuk dulu, kalau tidak nanti stres. Mudahnya kita bawa kotak kardus, besok baru dipindahkan ke kotak budidaya,” jelas Ismail.

Usai dipindah, paling tidak dibutuhkan waktu tiga bulan untuk dipanen. Koloni kelulut dari hutan dipindah ke kotak kayu tebal dengan ukuran 30x60 sentimeter. Semua sisi harus tertutup rapat, jangan sampai ada lubang untuk semut—hama kelulut—masuk. Hanya disisakan satu lubang kecil untuk lebah yang dikenal pula dengan nama gala-gala itu masuk.

Bagian atas kotak diberi plastik tebal untuk memudahkan pemantauan dan panen madu yang menggunakan jarum suntik. Tak cukup plastik, seng pun diberi per kotak, memastikan agar air tak masuk. Kotak-kotak budidaya itu disusun seperti rak dengan bagian atas yang diberi atap.

“Satu kotak, hitung kecil per bulan dapat sekilo madu. Tinggal dikali per kotak keuntungannya,” imbuhnya. Dalam satu desa, paling tidak ada 100 kotak budidaya. Jika dikali dengan total 10 desa budidaya di Batu Ampar, ditargetkan dalam setahun 10 ton madu kelulut bisa dihasilkan kecamatan tersebut.

Terlebih lagi, budidaya kelulut cukup mudah. Di desa, kelulut gampang mencari makan. Banyak bunga dan mayang kelapa sejauh mata memandang.

Wakil Direktur Sampan Kalimantan, Deny Nurdwiansyah menambahkan, lantaran hal baru, budidaya kelulut yang sudah berjalan empat bulan masih terus belajar. Pembangunan pusat belajar kelulut diharapkan bisa berkontribusi terhadap pembangunan hutan desa yang digagas sejak 2012. Terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pemasaran madu karena baru empat bulan, kita sifatnya masih eceran, promosi melalui media sosial, mulut ke mulut. Karena di banyak tempat masih banyak meragukan keaslian madu kita,” terangnya.

Diakuinya, masih banyak yang belum kenal madu kelulut demikian pula khasiatnya. Saat ini pihaknya tengah mendorong legalitas produk di Dinas Kesehatan Kubu Raya. Angin segar pun berembus dari Bupati Kubu Raya, Rusman Ali yang datang langsung ke pusat budidaya kelulut Desa Tanjung Harapan, Kamis (27/4) pekan lalu.

Dia mengungkapkan akan membantu memasukkan produk ini ke pasar modern lantaran sudah ada perjanjian pengembangan produk UMKM lokal dengan pasar-pasar modern di Kubu Raya.

Potensi madu ini, bisa dikatakan sangat menjanjikan. Tahap awal pemindahan madu saja, hampir satu ton madu didapat. Madu-madu itu pun sudah laku. Pekerjaan rumah saat ini tinggal menjaga ritme agar terus berlanjut.

“Sekarang kita sedang membentuk Koperasi Usaha Madu Mandiri yang diharapkan bisa jadi wadah masyarakat untuk jadi entrepenuer di desa. Semua dikelola masyarakat,” terangnya.

Walau legalitas koperasi saat ini masih diurus, pemasaran madu sudah dilakukan dari koperasi tersebut. Budidaya madu kelulut diharapkan bisa membantu ekonomi masyarakat. Rekayasa panen pun dilakukan untuk memenuhi itu. Dari standar panen per tiga bulan, dibuat per bulan.

“Sehingga masyarakat tidak tunggu lama. Tiap bulan ada pemasukan. Kalau produksi satu kotak bisa 100-500 gram per panen. Yang didorong bagaimana memperbanyak kotak sehingga bisa memperbanyak produksi,” pungkasnya. (kristiawan balasa/and)