Ada Temuan, Pemkot Koreksi Proyek JPO Ayani

Ponticity

Editor Kiwi Dibaca : 721

Ada Temuan, Pemkot Koreksi Proyek JPO Ayani
MELINTASI JPO – Seorang warga tampak akan melintasi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Ayani Mega Mal, Selasa (9/5). Meski proyek JPO ini telah rampung, namun ada sejumlah catatan atau koreksi yang diberikan Pemerintah Kota terhadap keamanan jembatan ters
PONTIANAK, SP – Pemerintah Kota Pontianak melakukan peninjauan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan Ayani Mega Mal yang baru saja diselesaikan pihak pengembang. Ada sejumlah catatan atau koreksi pada proyek yang berlangsung kurang lebih satu tahun itu.

“Hasilnya sudah sesuai, tapi dari sisi pengamanan terhadap masyarakat masih diperlukan tambahan seperti lining jembatan karena kalau yang naik turun jembatan orang yang sudah tua, ada gangguan kesehatan, harus ada pegangan. Kita minta tambahkan,” ujar Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono saat meninjau JPO, Selasa (9/5) siang.


Selain masalah pegangan untuk naik-turun tangga jembatan, dia menghendaki adanya penyekat di lantai jembatan. Penyekat ini penting untuk memastikan tidak ada benda kecil yang jatuh ke bawah. Lalu lintas di Jalan Ayani sangat padat, bisa saja terjadi kecelakaan karenanya.

“Kalau misalnya ada benda sebesar kelereng saja jatuh, bisa berbahaya. Ini yang harus kita antisipasi jangan sampai jembatan ini justru menimbulkan kecelakaan,” katanya.

Catatan terakhir, JPO yang menghabiskan dana kurang lebih Rp1 miliar itu harus dipasang penerangan dan CCTV. Keduanya penting untuk mencegah tindak kriminal, adanya pengemis atau pedagangan dan fungsi pengawasan lain.“Sementara ini memang belum difungsikan secara resmi tapi sudah banyak masyarakat yang lewat,” imbuhnya.

Edi Kamtono menerangkan, dengan ketebalan plat lantai empat sampai enam mili, semua sudah pas dan tidak ada masalah. JPO ini juga mampu menahan beban hingga lima ton. Di kanan-kiri jembatan, juga ada ruang untuk iklan.

Diharapkan iklan yang dipasang bisa menambah keindahan jembatan yang berciri khas Pontianak tersebut. JPO Ayani hanya satu dari lima JPO yang akan dibangun pihak ketiga sesuai perjanjian dengan Pemkot Pontianak.

Satu tempat lain, rehab JPO Pasar Tengah sudah selesai. Tinggal tiga lokasi lagi, yakni di depan SMK 5 Jalan Ahmad Yani, depan Kantor Bank Kalbar pusat dan depan Jalan Barito. “Yang lain masih menunggu pihak ketiga yang sudah MoU, kapan akan dilaksanakan. Nanti akan kita koordinasikan karena anggarannya besar,” terangnya.

Warga Pontianak sudah bisa menggunakannya jembatan ini untuk menyeberang di tengah Jalan Ayani. Tak perlu lagi menyeberang secara langsung di jalan raya. Edi berharap masyarakat juga menjaga kebersihan dan keindahan JPO. “Seremonial peresmian, saya akan konsultasi dengan wali kota, apakah gunting pita atau tepung tawar atau yang lain,” pungkasnya.

Sementara itu, penanggung jawab proyek JPO, Helmi mengungkapkan pengerjaan JPO hanya makan waktu kurang lebih enam bulan. “Yang lama adalah perizinan, karena menyangkut masalah lahan milik warga. Izin dari kota cukup lama, karena ini sebagian lahan masyarakat. Kita harus menyakinkan mereka,” ungkapnya.

Adanya pendekatan dari Pemkot Pontianak terutama Dinas Cipta Karya (sebelum OPD baru) katanya membantu dalam proses pendekatan dengan masyarakat. Selain perizinan, titik tiang pembangunan juga makan waktu lantaran proses izinnya melalui pusat karena jalan tersebut merupakan jalan nasional.

“Ini (Balai Jalan) keberadaannya ada di Kalimantan Selatan sehingga kita perlu koordinasi dan memakan waktu cukup lama juga, lebih dari enam bulan karena berada di jalan negara. Mereka juga ada peraturan menteri harus begini dan begitu,” jelasnya.

Untuk pembangunan JPO di tiga titik lain, pihaknya sudah bekerja sama dengan Tim Teknik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pontianak. Lokasi JPO di depan SMK 5, juga berkaitan dengan lahan sekolah dan masyarakat. Jika masalah titik selesai, JPO tinggal dibangun.

“Dalam segi biaya kita tidak ada masalah. Kita siap semua. Bahkan sekaligus mau tiga titik tidak ada masalah. Tapi yang membuat lama ini, masalah izin dan koordinasi karena ini melibatkan pusat,” yakinnya.

Sementara, untuk lokasi JPO depan Bank Kalbar pusat, saat ini masih menunggu proses pengerjaan Pasar Tengah. Para pedagang ditampung di sekitar titik pembuatan, sehingga tak mungkin dikerjaan bersamaan. Sebenarnya pihaknya siap membangun dan izinnya pun sudah dikantongi.

Butuh Banyak JPO


Perwakilan Laboratorium Jalan Raya Universitas Tanjungpura, Syafarudin HS yang turut dalam peninjauan mengatakan bahwa Pontianak memerlukan lebih banyak JPO. Jika melihat pertumbuhan dan tingkat kepadatan arus lalu lintas, JPO sangat diperlukan.

"Memang seharusnya JPO ini tidak hanya ada dua seperti saat ini. Pontianak perlu lebih dari dua bahkan dari empat yang direncanakan," kata Syafarudin.

Ramainya jalan raya kota sangat berbahaya bagi pejalan kaki yang ingin menyeberang. Bahaya pun sebenarnya mengancam pengguna jalan, tak hanya yang ingin berpindah tempat dari seberang. Apalagi jika yang menyeberang adalah anak sekolah.

“Tingkat kepadatan arus kendaraan saat ini sangat membahayakan para pejalan kaki yang melakukan penyeberangan dan pengendara,” tegasnya. Menurutnya, keberadaan JPO akan menjadi solusi terbaik. Pejalan kaki bisa menyeberang tanpa was-was dan pengendara bisa memacu kendaraan tanpa dikejutkan orang yang melintas.

Untuk JPO Ayani, semuanya sudah sesuai lantaran sudah dikaji. Baik dari tata ruang juga lainnya. "Memang sangat dibutuhkan pembuatan-pembuatan JPO. Di Pontianak Utara di dekat Tugu Khatulistiwa juga perlu dipikirkan pembuatannya dan di Pontianak Timur juga. Di Ayani juga perlu ditambah, Adisucipto, Tanjupura dan jalan lain,” pungkasnya. (bls/and)